Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Indonesia Mulai Alihkan Impor Minyak ke AS, Bahlil: Dilakukan Bertahap karena Storage Terbatas

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 5 Maret 2026 | 13:45 WIB

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

PONTIANAK POST - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia mulai mengalihkan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat.

Namun, proses pengalihan tersebut tidak bisa dilakukan secara cepat dan harus berjalan secara bertahap.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” kata Bahlil dikutip dari Antara (5/3).

Menurut Bahlil, keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak mentah di dalam negeri menjadi salah satu alasan utama mengapa pengalihan impor tidak bisa dilakukan sekaligus. Saat ini, fasilitas penyimpanan atau storage minyak Indonesia dinilai masih sangat terbatas.

Karena itu, pemerintah tidak hanya mengalihkan sumber impor minyak, tetapi juga mempercepat rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak baru.

Langkah ini juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca Juga: Prabowo Undang Mantan Presiden dan Eks Menlu ke Istana, Bahas Krisis Timur Tengah

Kapasitas Storage Minyak RI Baru 25 Hari, Targetkan Tembus 90 Hari

Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 25–26 hari. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan agar sesuai dengan standar ketahanan energi internasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan beliau memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” ujar Bahlil.

Pemerintah mengungkapkan bahwa investor untuk pembangunan fasilitas storage tersebut sudah ada.

Rencananya, fasilitas penyimpanan minyak mentah baru akan dibangun di wilayah Sumatera. Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap studi kelayakan sebelum memasuki tahap konstruksi.

Baca Juga: Politik Luar Negeri Indonesia dalam Krisis Timur Tengah

Bahlil menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak itu dapat mulai dikerjakan pada tahun ini.

Konflik Timur Tengah Memanas, Ketahanan Energi Indonesia Jadi Sorotan

Ketahanan energi Indonesia sendiri menjadi sorotan di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Situasi memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, bahkan mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS–Israel. Televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan tersebut.

Kabar Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan Energi Global

Situasi semakin tegang setelah media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz secara efektif ditutup, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade.

Selat tersebut merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur itu.

Setiap harinya, sekitar 20 juta barel minyak atau sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melintasi koridor strategis tersebut.

Kondisi inilah yang membuat ketahanan energi Indonesia kembali menjadi perhatian publik.

Editor : Miftahul Khair
#Storage #minyak mentah #bahlil lahadalia #menteri esdm #Timur Tengah #impor #amerika serikat