Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merindukan Keadilan Sosial Merata

H
Penulis: Hanif❯
Romo Aloys Budi Purnomo Pr
Romo Aloys Budi Purnomo Pr

Advertisement

Oleh: Romo Aloys Budi Purnomo Pr*

SYUKUR kepada Allah. Saya boleh mengalami suasana halalbihalal dan pelayanan Paskah 2026 di Keuskupan Ketapang bersama Bapak Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi. Perjalanan menuju halalbihalal dan pelayanan tersebut terintegrasi dengan kunjungan saya selaku Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI). Kunjungan berlangsung dari tanggal 30 Maret hingga 6 April 2026, sesuai arahan Mgr. Pius melalui pesan WA kepada saya.

Tanggal 29 Maret sore hari, saya tiba di Ketapang, setelah menempuh perjalanan panjang dari Pastoran Unio Indonesia (Unindo) di Kramat, Jakarta Pusat melalui Bandara Soetta ke Bandara Internasional Supadio Pontianak, lalu mendarat di Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Kalimantan Barat. Melalui tulisan ini, ijinkan saya berbagi pengalaman tersebut dalam bingkai kerinduan terwujudnya keadilan sosial merata bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Advertisement

 

Sukacita Kerukunan Persaudaraan

Sehari sesudah tiba di Keuskupan Ketapang, Bapak Uskup Mgr. Pius mengajakku berkeliling melakukan silaturahim dengan beberapa sahabat Muslim. Tanggal 30 Maret sore hingga malam, sesudah menjemput Ustadz Nanang di rumahnya, kami bersilaturahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayaturrahman Ketapang, berjumpa KH Jemai’e Makmur, pengasuh Ponpes tersebut. Kiai Jemai’e menyambut kami dengan penuh rahmatan lil alamin. Rombongan kami terdiri dari Mgr. Pius, Pak Heronimus Tanam selaku Ketua FKUB dan Komisi HAK Ketapang, Pastor Vitalis CP, Ustadz Nanang, Mas Teddy, dan saya. Peluk cium penuh persaudaraan antara Mgr. Pius dan KH Jemai’e sangat indah di mata batinku, dan saya pun mengalaminya juga. Itulah sukacita kerukunan persaudaraan yang kunikmati sore itu.

Advertisement

Dari Ponpes Hidayattunrahman, kami meluncur ke rumah kediaman Ustadz Rizky. Beliau adalah santri mendiang KH Hasyim Muzadi (1944-2017). Beliau pun menyambut kunjungan kami dengan penuh keramahtamahan dalam sukacita kerukunan persaudaraan. Pembicaraan terfokus pada memori tentang semangat kebangsaan dalam keberagaman yang diwariskan “Mbah Hasyim.”

Dari rumah kediaman Ustadz Rizky, kami meluncur ke Ponpes Al-Ghufron Ketapang, berkunjung dan bersilaturahim dengan KH Moh. Faisol Maksum, yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang. KH Faisol aktif membangun dialog antar tokoh lintasagama untuk menjaga persatuan di Ketapang. Suasana sukacita kerukunan persaudaraan pun terjadi di antara kami. 

Dari Ponpes Al-Ghufron, kami meluncur ke rumah kediaman Kapolres Ketapang, AKBP Muhammad Harris. Sambutan Kapolres terhadap kami juga sangat ramah. Bahkan, obrolan silaturahim juga mencakup harapan ke depan tentang tetap terjaganya situasi kondusif di Ketapang pada khususnya, dan Kalimantan Barat pada umumnya merambah ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Tanggal 31 Maret kami mengikuti halalbihalal yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ketapang. Pada kesempatan tersebut, saya diberi kesempatan untuk berbagi kisah kerukunan persaudaraan NKRI kepada para hadirin, yang terdiri dari para tokoh lintasagama, tokoh masyarakat, forkompinda Ketapang, dan unsur OKP Lintasagama. Sukacita kerukunan persaudaraan saya bagikan dalam perspektif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai wujud persatuan Indonesia, dengan prinsip musyawarah mufakat yang bijaksana. Semua itu bersumber dari penghayatan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Sharing pengalaman kerukunan persaudaraan diteguhkan oleh KH Moh. Faisol yang memberikan tausiyah halal bihalal dalam perspektif MUI Ketapang. KH Faisol memberikan penegasan tentang pentingnya silaturahim dalam keberagaman dengan sikap saling mengasihi, menghormati, dan menghargai perbedaan di tengah keberagaman. Apa pun agama, kepercayaan, dan latar belakang suku adat istiadat kita, menjalin tali silaturahim merupakan suatu kewajiban dan bagian dari perwujudan keberimanan kita.

Advertisement

Artikel Terkait

Dari Kalimantan hingga Papua, Bendera Daerah Berkibar, Alarm bagi Pemerintah

Dari Kalimantan hingga Papua, Bendera Daerah Berkibar, Alarm bagi Pemerintah

Kemunculan bendera daerah juga memperlihatkan bahwa menjaga persatuan tidak cukup hanya dengan memastikan Merah Putih berkibar

Kedaulatan Rakyat, PelayananTanpa Kasta

Kedaulatan Rakyat, PelayananTanpa Kasta

Kemerdekaan sejati dinilai dari terpenuhinya hak dasar rakyat melalui pendidikan, kesehatan, pangan, infrastruktur, dan pelayanan publik.

Suara dari Daerah Menghidupkan Keadilan  di Seluruh Pelosok Nusantara

Suara dari Daerah Menghidupkan Keadilan di Seluruh Pelosok Nusantara

Keadilan sosial harus dimulai dari daerah melalui pemerataan pembangunan, partisipasi warga, dan penguatan otonomi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer