
Oleh Y Priyono Pasti
BELAKANGAN ini, keberadaan sekolah swasta kian meredup. Setiap awal tahun ajaran baru selalu muncul kabar pilu tentang sekolah swasta yang terpaksa tutup. Banyak yayasan menghentikan operasional sekolah karena tidak memperoleh murid baru. Kalaupun ada, jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi target penerimaan. Padahal, jika menilik sejarah, kontribusi sekolah swasta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangat besar (Paulus Mujiran, 2026).
Sejarah mencatat, sekolah swasta hadir lebih dahulu dibandingkan sekolah negeri, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Perguruan Tamansiswa yang berdiri pada 1922 dan INS Kayutanam pada 1926 menjadi buktinya. Sebelum negara menyediakan sekolah negeri secara luas, sekolah swastalah yang membuka akses pendidikan bagi masyarakat. Melalui lembaga-lembaga itulah masyarakat di berbagai daerah mulai mengenal pendidikan formal, melek huruf, dan menyadari pentingnya ilmu pengetahuan.
Dalam perjalanan bangsa, khususnya di bidang pendidikan, sekolah swasta telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah swasta dan sekolah negeri merupakan dua entitas yang saling melengkapi dalam menyiapkan generasi masa depan. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama, yakni mendidik peserta didik menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, bermoral, beriman, dan berintegritas.
Karena perannya yang strategis, sudah sewajarnya sekolah swasta memperoleh kesempatan untuk berkembang dan diperlakukan secara adil. Meskipun selama ini terbiasa mandiri, sekolah swasta tetap memerlukan dukungan kebijakan agar mampu bertahan dan berkembang.
Banyak pihak berharap pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, konsisten melaksanakan Putusan Mahkamah Konstitusi atas Pasal 55 Ayat (4) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mewajibkan pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan bantuan teknis, subsidi pendanaan, serta sumber daya lainnya secara adil dan merata kepada lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat, termasuk sekolah swasta.
Faktor Penyebab
Menurut Paulus Mujiran, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan sekolah swasta semakin terpuruk. Di antaranya adalah kebijakan zonasi pendidikan serta semakin agresifnya sekolah negeri menambah daya tampung melalui pembangunan sekolah baru maupun penambahan rombongan belajar. Langkah tersebut dilakukan atas nama pemerataan akses pendidikan.
Di sisi lain, sekolah negeri dipromosikan sebagai sekolah gratis, sedangkan sekolah swasta masih membebankan biaya pendidikan kepada peserta didik. Kondisi ini membuat banyak orang tua lebih memilih sekolah negeri. Dampaknya, sekolah swasta kehilangan calon peserta didik, padahal biaya operasional, gaji guru, pemeliharaan sarana, hingga kegiatan pembelajaran sangat bergantung pada jumlah murid.
Tanpa jumlah peserta didik yang memadai, keberlangsungan operasional sekolah swasta menjadi terancam. Karena itu, sekolah swasta dituntut membangun kemandirian dan meningkatkan daya saing. Paulus Mujiran menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia, sarana dan prasarana, jejaring kerja sama, serta mutu lulusan merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Harus Berbenah
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, sekolah swasta harus berbenah agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut aspek teknis pembelajaran, tetapi juga budaya sekolah yang lebih terbuka terhadap inovasi, kolaborasi, dan keberagaman.



