Oleh: Syamsul Kurniawan
DALAM dunia yang semakin kompleks dan terus berubah, moderasi beragama menjadi salah satu kunci untuk menjaga keharmonisan sosial dan memastikan penerapan ajaran agama yang relevan dan kontekstual. Penyuluh agama Islam, sebagai agen perubahan dan pembinaan keagamaan, memiliki peran penting dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi ini. Melalui perspektif Jean Baudrillard dalam bukunya Simulacra and Simulation (1994), khususnya konsep simulakra dan hiperrealitas, kita dapat memahami bagaimana peran fungsional penyuluh agama Islam dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan dalam konteks modern ini. Esai ini menghubungkan peran fungsional penyuluh agama Islam dengan upaya moderasi beragama melalui kerangka pemikiran Baudrillard, menyoroti pentingnya memahami representasi dan realitas dalam tugas penyuluhan agama.
Jean Baudrillard (1994), menggambarkan simulakra sebagai representasi yang menggantikan realitas dan sering kali menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Dalam konteks penyuluh agama Islam, tugas dan tanggung jawab mereka seringkali diwakili oleh berbagai simbol dan tanda, seperti sertifikasi, jabatan resmi, dan pengakuan formal dari otoritas keagamaan. Namun, esensi dari peran mereka sebagai penyuluh agama adalah membimbing dan mengedukasi umat tentang ajaran agama yang moderat, yang sering kali hilang dalam lapisan-lapisan representasi tersebut.
Sebagai contoh, seorang penyuluh agama yang memiliki sertifikat pelatihan moderasi beragama mungkin dianggap lebih kompeten dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi, meskipun kenyataan di lapangan bisa berbeda. Baudrillard menekankan bahwa dalam masyarakat simulatif, tanda-tanda tersebut menjadi acuan utama dalam menilai keprofesionalan seseorang. Oleh karena itu, penyuluh agama Islam harus mampu mengelola representasi tersebut sambil tetap mempertahankan esensi dari tugas mereka dalam mempromosikan moderasi beragama.
Sementara itu, hiperrealitas adalah kondisi di mana batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, sehingga yang direpresentasikan sering kali dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Dalam bukunya Simulacra and Simulation (1981), Baudrillard menunjukkan bahwa dalam hiperrealitas, representasi sering kali lebih dipercaya daripada realitas. Dalam upaya mempromosikan moderasi beragama, penyuluh agama Islam pada ranah ini perlu beroperasi dalam lingkungan sosial yang sering kali dipenuhi oleh berbagai representasi ekstremisme dan fanatisme yang telah terdistorsi oleh media.
Penyuluh agama Islam harus mampu menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan moderasi yang dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat luas. Dengan demikian, penyuluh agama harus menguasai penggunaan media sosial dan platform komunikasi lainnya untuk menyampaikan pesan moderasi yang dapat melawan representasi ekstremisme yang dominan.
Kapasitas yang Diperlukan
Kaitannya dengan ini, terdapat sejumlah kapasitas yang penting dimiliki oleh seorang penyuluh agama. Satu, kapasitas personal dalam moderasi beragama. Kapasitas personal penyuluh agama Islam mencakup kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan keterampilan teknis. Dalam konteks moderasi beragama, kapasitas intelektual sangat penting untuk memahami dan menyampaikan ajaran agama yang moderat dengan cara yang rasional dan argumentatif. Alquran dalam QS An Nahl (16): 125 menyatakan, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." Ini menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam penyuluhan agama. Kapasitas emosional membantu penyuluh untuk tetap tenang dan rasional dalam menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika berhadapan dengan audiens yang mungkin memiliki pandangan ekstrem. Kedekatan hubungan dengan Allah SWT (kapasitas spiritual) memberikan dasar moral yang kuat dalam menyampaikan pesan moderasi. Keterampilan dalam berorasi dan menggunakan media (kapasitas keterampilan) memastikan pesan moderasi dapat diterima dengan baik oleh audiens.
Dua, kapasitas sosial dalam moderasi beragama. Kapasitas sosial melibatkan kemampuan untuk memahami audiens dan situasi terkini, serta kemampuan untuk membangun jejaring sosial dan kerjasama dengan berbagai pihak. Alquran dalam QS Al Ashr (103): 2-3 menyatakan pentingnya waktu dan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Penyuluh agama Islam harus memahami dinamika sosial dan tren yang berkembang untuk dapat menyampaikan pesan moderasi yang relevan dan kontekstual. Penyuluh agama Islam juga harus mampu memberikan keteladanan dalam kepemimpinan dan kepeloporan dalam mempromosikan moderasi beragama. Alquran dalam QS Ali ‘Imran (03): 103-104 mengingatkan pentingnya persatuan dan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Kemampuan untuk membangun jejaring sosial yang luas dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak adalah kunci dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi di tengah masyarakat yang majemuk.
Tiga, kapasitas profesional dalam moderasi beragama. Kapasitas profesional penyuluh agama Islam mencakup pemahaman mendalam tentang tugas pokok dan fungsi, serta komitmen terhadap profesi. Dalam konteks moderasi beragama, penyuluh harus memahami peran mereka sebagai agen perubahan yang mempromosikan nilai-nilai toleransi, kesetaraan, dan keadilan. Patuh pada kode etik sebagai penyuluh fungsional-profesional bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan formal, tetapi juga tentang bagaimana kode etik tersebut diinterpretasikan dan diimplementasikan dalam realitas sehari-hari yang sering kali dipenuhi oleh ambiguitas dan kontradiksi. Alquran dalam QS Ash-Shaff (61): 3-4 mengingatkan pentingnya kesesuaian antara kata dan tindakan dalam menjalankan tugas keagamaan.
Antara Realitas dan Representasi
Dalam analisis Baudrillardian, peran fungsional penyuluh agama Islam dalam mempromosikan moderasi beragama melibatkan lebih dari sekadar penambahan pengetahuan atau keterampilan. Ini juga tentang bagaimana kapasitas tersebut diinterpretasikan dan diintegrasikan dalam realitas simulakra dan hiperrealitas. Penyuluh agama Islam harus mampu menavigasi tanda-tanda dan simbol yang membentuk keprofesionalan mereka, serta beradaptasi dengan masyarakat yang penuh dengan simulasi.
Dengan demikian, peningkatan kapasitas profesional penyuluh agama Islam adalah proses yang kompleks dan multidimensional, yang mencakup aspek personal, sosial, dan profesional. Dalam konteks moderasi beragama, penyuluh agama Islam harus mampu menyampaikan pesan-pesan moderasi dengan cara yang dapat diterima dan dihargai oleh audiens, sambil tetap mempertahankan esensi dari tugas mereka dalam mempromosikan nilai-nilai keagamaan yang moderat.
Sebagai penutup, kita perlu kembali kepada esensi peran penyuluh agama Islam dalam masyarakat modern. Meskipun mereka beroperasi dalam lingkungan yang penuh dengan simulakra dan hiperrealitas, tugas mereka tetaplah penting dan relevan. Penyuluh agama Islam harus terus meningkatkan kapasitas mereka dalam berbagai aspek untuk memastikan bahwa pesan moderasi beragama dapat disampaikan dengan efektif dan efisien. Mereka harus mampu mengelola representasi dan realitas, menggunakan media secara bijak, dan membangun jejaring sosial yang kuat untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat yang semakin majemuk dan kompleks ini.
Dengan memahami dan mengaplikasikannya, penyuluh agama Islam dapat lebih efektif dalam menjalankan tugas mereka, memastikan bahwa mereka tidak hanya memenuhi tuntutan formalitas dan simbolisme, tetapi juga benar-benar membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sebagai agen perubahan, penyuluh agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk masa depan yang lebih harmonis dan toleran, di mana nilai-nilai moderasi menjadi landasan utama dalam kehidupan beragama.**
*Penulis adalah Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban, PW Muhammadiyah Kalimantan Barat.
Editor : A'an