Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jembatan Rangka Baja Bailey

Hanif PP • Rabu, 21 Januari 2026 | 11:23 WIB
H. Abdul Hamid
H. Abdul Hamid

Oleh: Abdul Hamid*

Media cetak, virtual, maupun sosial beberapa minggu setelah kejadian banjir yang membawa lumpur, menghanyutkan balok-balok kayu pada sungai sungai di Aceh dan Sumatera Barat, memberitakan bahwa TNI-AD akan segera membangun sejumlah jembatan rangka baja Bailey sebagai pengganti sejumlah jembatan yang “menghilang” disapu banjir tersebut. Terbaru diberita juga akan segera dibangun sejumlah jembatan gantung di wilayah  yang terdampak negatif akibat banjir yang telah merenggut lebih dari seribu warga, dan entah berapa kerugian materi yang diderita itu.

Memang tidak mudah dan tidak bisa cepat untuk memulihkan wilayah korban banjir yang mendunia itu. Bahkan, mungkin saja ada sebagian yang tidak akan bisa dipulihkkan kembali wilayahnya,  “menghilang” disapu banjir, yang dikatakan akibatnya lebih besar dibanding kerusakan wilayah akibat gempa bumi/tsunami Desember 2004 di Aceh itu. Prasarana dan sarana vital yang menjadi korban banjir itu memang harus segera diatasi, dibangun kembali ataupun diperbaiki, salah satu diantaranya nya adalah jembatan.

Jembatan Bailey
Jembatan Bailey

Mengapa perbaiki atau pembangunan jembatan itu yang dipilih adalah jembatan rangka baja Bailey, bukan yang lainnya? Berikut sedikit diuraikan tentang jembatan rangka baja Bailey. Mengapa dipilih? Bagaimana proses pemasangan? Apa manfaatnya? Bagaimana jembatan itu di Kalimantan Barat?

Jembatan Rangka Baja Bailey, atau singkatnya disebut dengan Jembatan Bailey,  adalah jembatan rangka baja prefabrikasi yang bersifat portabel, knock down, dimana batang-batangnya dibuat dari baja yang mudah dibawa,  dipasang, dan dipindah-pindahkan.  Adapun nama Bailey diambil dari Donald Coleman Bailey, seorang insinyur berkebangsaan Inggeris yang merancangnya tahun 1938, sebelum masa Perang Dunia II(PD II).

Jembatan Bailey ini terdiri  dari batang-batang baja standar: tepi atas, tepi bawah, tegak, dan diagonal, balok memanjang, dan melintang (girder), yang semuanya dibuat dari bahan baja. Komponen lain meliputi, dek/plat baja bertekstur, dan konektor (baut/pin). Jembatan  dapat dipasang/dirakit dengan praktis, cepat,  secara manual, tanpa menggunakan alat berat, derek,  atau dengan peralatan dasar untuk menjembatani celah.

Awalnya memang dimanfaatkan militer pada PD II. Namun, seiring perkembangan kualitas bahan, dan teknologi, jembatan Bailey kini umum digunakan dalam penanggulangan bencana alam, jembatan sementara/darurat untuk perbaikan arau renovasi jembatan,  dan atau untuk membuat jembatan penyeberangan sementara.

Karena sudah standar, pemasangan/perakitan batang-batang baja sebagaimana disebutkan di atas, dapat dilakukan manual dengan cepat, bisa tanpa alat-alat berat. Hal ini merupakan salah satu keunggulan jembatan ini.

Batang-batang baja sebagaimana disebutkan di atas, memiliki kekuatan tinggi, diberi anti karat/digalvanis, direncanakan sesuai kebutuhan di lokasi, serta sesuai dengan rencana pembebanan, lebar (jalur tunggal/ganda),  dan panjang bentang jembatan. Penyeberangan(sungai dsb);  perkiraan beban maksimum yang akan melewati jembatan, seperti kendaraan militer dan truk terberat, pengangkutan hasil perkebunan(sawit, balok-balok kayu, dsb), dan ppertambangan. Walaupun sifatnya sementara, jembatan ini dapat didisain kuat, dan tahan lama.

Jembatan Bailey tampaknya cukup banyak digunakan di daerah Kalimantan Barat (Kalbar) sejak puluhan tahun yang lalu. Sayangnya dari hasil googling, tidak ditemukan berapa jumlah, dan bagaimana kondisinya, apakakah perlu perawatan atau tidak. Tercatat jembatan Bailey digunakan ketika terputusnya hubungan wilayah Pesaguan-Kendawangan Kabupaten Ketapang. Hal ini menunjukkan pentingnya jembatan Bailey untuk menjaga konektivitas serta mendukung aktivitas warga yang terkena dampak negatif  bencana alam.

Jembatan Bailey yang modular, yang dirancang dengan sistem knock down ini meskipun awalnya bersifat sementara sebagaimana disebutkan di atas,  kini sudah sangat berkembang produknya. Variasinya sudah sangat berkembang mencakup tipe Single-Single(SS), Double-Single Reinforced(DSR), Triple-Single Reinforced(TSR), dan Quad-Single Reinforced(QSR). Panjang bentang berkisar 6-60 meter, lebar 3 – 7,5 meter, dan beban rencana 30-100 ton. Juga jembatan ini sudah didisain sesuai standar : AASHTO(American Association of State Highway and Transportation Officials), BS(British Standar), atau SNI(Standar Nasional Indonesia).

Mengingat perkembangan penggunaan Jembatan Bailey ini khususnya, dan untuk memperoleh tenaga personal terlatih, dan cepat dalam membangun Jembatan Bailey, tampaknya pengenalan tentang jembatan ini khususnya, jembatan rangka baja umumnya, dapat dimulai sejak pendidikan di sekolah kejuruan teknik menengah atas, politeknik jurusan teknik sipil, dan mahasiswa tingkat sarjana program studi teknik sipil sejak semester awal. Pengenalan, dan pelatihan tentu saja dapat dilakukan bersama dengan model skala penuh(full scale), baik sebagai jembatan sementara, untuk jembatan yang sedang direnovasi atau diperbaiki, maupun jembatan baru/pengganti. Disamping itu ada baiknya pula apabila Pemerintah Provinsi serta Kabupaten/Kota, mendata kembali (jumlah, dan kondisi) jembatan rangka baja di wilayah masing-masing, Termasuk daerah Kalbar tentunya.**

 

*Penulis adalah purnatugas dosen Fak Teknik Untan sejak 2020, pemerhati masalah teknik sipil, infrastruktur, lingkungan hidup, Anggota PII.

Editor : Hanif
#banjir besar #jembatan bailey #aceh #Pembangunan Jembatan #tni ad