
SAMBAS – Seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Sambas, termasuk para generasi muda. Harus mengetahui cara mencegah penularan HIV/ HIV/AIDS danmengakhiri stigma terhadap Orang Dengan HIV/Aids atau ODHA.
Hal tersebut disampaikan Rektor IAIS Sambas, Dr Arnadi saat Talkshow HIV AIDS "Generasi Muda dan HIV AIDS: Kenali, Cegah dan Akhiri Stigma HIV/AIDS" yang dilaksanakan di aula Kampus IAIS Sambas, belum lama ini.
“Seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam pencegahan HIV/AIDS, terutama mereka para generasi muda yang harus menjadi ujung tombak perubahan. Dengan memahami bahaya HIV/AIDS, cara pencegahannya, dan pentingnya mengakhiri stigma, mereka dapat menjadi agen yang membawa dampak positif bagi masyarakat,” kata Arnadi.
Dalam talkshow menghadirkan dua pemateri, yakni Sumarin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sambas yang menyampaikan sudut pandang agama terkait pencegahan HIV/AIDS. Kemudian dr. Andri Sunata,dokter spesialis penyakit dalam dari RSUD Sambas dan RS Santha Elisabeth Sambas.
Sumarin, Ketua MUI Kabupaten Sambas menyampaikan jika moral dan akhlak yang sesuai agama jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan menjauhkan dari hal negatif, termasuk terkena penyakit berbahaya tersebut.
"Islam mengajarkan seluruh muslim untuk menjauhi segala hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Menjaga diri dari perilaku berisiko adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab sebagai umat beriman," katanya.
Peran penting agama dalam membangun kesadaran masyarakat, menjadi hal penting. Termasuk kepada generasi muda, selain disampaikan berkaitan dengan bahaya HIV/AIDS serta upaya pencegahannya.
“Ajaran Islam sangat relevan dalam mendorong perilaku hidup sehat dan menjauhi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam Islam mengajarkan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, serta menjauhi perilaku berisiko yang dapat menimbulkan dampak buruk, penting juga untuk mengakhiri stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), karena
setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan bermartabat," katanya.
Begitu juga dukungan moral dan spiritual bagi ODHA. Yakni tidak menghakimi adalah salah satu cara yang mulia untuk membantu mereka bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.
"Stigma hanya akan memperburuk kondisi sosial dan psikologis ODHA. Sebaliknya, kasih sayang dan dukungan adalah wujud nyata dari akhlak mulia yang diajarkan agama," katanya.
Sumarin juga mengharapkan melalui kegiatan Talkshow ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya mengenali, mencegah, dan mengakhiri stigma terhadap HIV/AIDS. Termasuk para tokoh agama, tokoh masyarakat, juga mengambil peranannya dalam menjaga seluruh masyarakat dari bahaya penyakit tersebut.
Dalam kesempatan itu, dr Andri Sunata menyampaikan penjelasan medis terkait HIV/AIDS, termasuk mekanisme penularan, gejala, dan pengobatannya.
"HIV bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pengobatan yang tepat dan dukungan dari lingkungan, ODHA dapat menjalani hidup secara produktif. Namun, pencegahan tetap menjadi prioritas utama," katanya.
Talkshow dihadiri sejumlah mahasiswa, yang sangat antusias mengikuti jalannya diskusi. Sejumlah pertanyaan dan diskusi berlangsung dalam kesempatan tersebut antara peserta dan pemateri.(fah)



