PONTIANAK POST – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai serius mengembangkan tanaman kedemba atau kratom sebagai komoditas ekspor unggulan baru berbasis hilirisasi industri.
Langkah agresif itu memunculkan sorotan karena Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kratom terbesar di Indonesia, namun masih didominasi ekspor bahan mentah.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menegaskan pengembangan kratom menjadi bagian strategi diversifikasi ekonomi nonmigas berbasis sumber daya alam berkelanjutan.
“Pemprov Kaltim serius mendukung hilirisasi kratom. Kami siap terlibat aktif, termasuk memberikan dukungan pendanaan untuk memastikan komoditas ini memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah,” kata Seno Aji saat menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Samarinda, Selasa (12/5/2026) dikutip Pontianak Post dari ANTARA.
Pemerintah Provinsi Kaltim bahkan mulai menyiapkan langkah strategis dengan melibatkan Dinas Kehutanan, Tim Ahli Gubernur, hingga instansi vertikal terkait guna memperkuat regulasi dan ekosistem industri kratom.
Sebagai bentuk keseriusan, Wagub Kaltim juga berencana meninjau langsung fasilitas produksi dan laboratorium di Tenggarong Seberang.
Dalam pemaparan “Peta Jalan Transformasi Kratom”, Dr. Islamudin Ahmad dari PT Borneo Riseta Naturafarm menjelaskan tanaman yang dikenal warga Kalimantan sebagai kedemba memiliki nilai ekonomi sangat besar apabila masuk ke tahap hilirisasi.
Menurut hasil riset yang dipaparkan, penjualan daun segar kratom hanya menghasilkan sekitar Rp80 juta hingga Rp120 juta per hektare per tahun.
Namun jika diolah menjadi ekstrak berkadar tinggi atau produk farmasi, nilainya disebut dapat melonjak menjadi Rp2,3 miliar hingga Rp5,7 miliar per hektare per tahun.
“Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengubah bahan mentah menjadi ekstrak terstandar atau produk farmasi, nilai ekonominya bisa meningkat ribuan kali lipat,” ujar Islamudin.
Ia menyebut peluang industri tersebut didukung validasi ilmiah dan regulasi ekspor yang sah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di Kalimantan Barat yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sentra produksi kratom nasional, terutama di wilayah Kapuas Hulu dan sekitarnya.
Bahkan Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan dan Wagub Kalbar, Krisantus, menyebut daerahnya merupakan penghasil kratom terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Wagub Krisantus: Petani Kratom Penopang Ekonomi Kapuas Hulu
Namun hingga kini, sebagian besar perdagangan kratom dari Kalbar masih berupa daun kering mentah dengan nilai tambah industri yang minim.
Bupati Kapuas Hulu juga mengakui pengelolaan kratom di daerahnya masih didominasi penjualan bahan mentah karena petani umumnya hanya memanen dan mengeringkan daun sebelum dijual.
Di saat Kalimantan Timur mulai berbicara soal laboratorium, ekstraksi, dan industri farmasi kratom, Kalimantan Barat justru masih bergulat pada persoalan regulasi ekspor dan dominasi penjualan bahan mentah.
Bahkan Pemkab dan DPRD Kapuas Hulu sempat menyoroti hambatan administrasi ekspor yang menyebabkan ribuan ton kratom tertahan dan berdampak langsung terhadap petani.
Baca Juga: Harga Kratom Turun, Pemerintah dan DPRD Kapuas Hulu Diminta Bertindak Nyata
Bagi banyak warga Kapuas Hulu, kratom bukan sekadar tanaman hutan. Komoditas ini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di tengah lesunya harga karet dan sawit.
Namun tanpa hilirisasi, keuntungan terbesar dinilai justru lebih banyak dinikmati industri di luar daerah.
Dari sisi industri, Haris Wafa dari PT DJB Botanicals Indonesia mengungkapkan Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia.
Pasar utama berasal dari Amerika Serikat dan Eropa untuk industri herbal, serta India dan Thailand untuk ekstraksi bahan alam.
PT DJB Botanicals sendiri telah menjadi pionir eksportir kratom di Kalimantan Timur sejak 2019 dan sudah mengantongi izin ekspor resmi dari Kementerian Perdagangan.
Saat ini fasilitas produksi mereka di Kutai Kartanegara memiliki kapasitas grinder mill satu ton per hari dan disk mill delapan ton per hari.
“Kami didukung jaringan pasokan yang luas mencakup Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, hingga Kalimantan Selatan,” kata Haris.
Ke depan, para pelaku industri juga mendorong pembentukan East Borneo Botanicals Corridor, yakni kolaborasi kawasan industri botani di wilayah timur Kalimantan.
Selain kratom, pengembangan juga diarahkan pada tanaman lokal lain seperti tahongai, Nuciferine, Arecoline, hingga bawang Dayak.
Langkah Kalimantan Timur itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa persaingan penguasaan industri kratom nasional kini tidak lagi hanya soal daerah penghasil bahan baku, tetapi siapa yang lebih cepat membangun hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi.
Di tengah geliat tersebut, Kalimantan Barat kini menghadapi tantangan besar: tetap menjadi pengekspor bahan mentah atau mulai masuk ke era industri kratom modern berbasis riset dan hilirisasi. (ars)
| Aspek Hilirisasi Kratom Kaltim | Kondisi Saat Ini | Potensi & Dampak |
|---|---|---|
| Komoditas Utama | Kratom/kedemba (Mitragyna speciosa) mulai didorong sebagai komoditas unggulan baru | Berpotensi menjadi “Emas Hijau Kalimantan” berbasis ekspor |
| Dukungan Pemerintah | Pemprov Kaltim menyatakan siap mendukung regulasi dan pendanaan | Membuka peluang industri botani modern di Kalimantan |
| Nilai Daun Mentah | Rp80–Rp120 juta per hektare per tahun | Masih didominasi penjualan bahan baku |
| Nilai Setelah Hilirisasi | Diolah menjadi ekstrak dan produk farmasi | Potensi naik menjadi Rp2,3–Rp5,7 miliar per hektare per tahun |
| Pasar Ekspor | Amerika Serikat, Eropa, India, Thailand | Permintaan global terus meningkat |
| Posisi Indonesia | Memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia | Indonesia berpotensi menjadi pusat industri kratom global |
| Fasilitas Industri Kaltim | Pabrik di Kutai Kartanegara sudah memiliki grinder mill dan disk mill | Menjadi fondasi hilirisasi skala besar |
| Jaringan Pasokan | Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, PPU, Paser, Kalsel | Membentuk rantai pasok regional yang kuat |
| Rencana Besar Industri | East Borneo Botanicals Corridor | Integrasi industri tanaman herbal dan botani Kalimantan |
| Produk Diversifikasi | Tahongai, Nuciferine, Arecoline, bawang Dayak | Memperluas ekspor herbal dan farmasi alami |
| Tantangan Utama | Regulasi, standar keamanan, dan hilirisasi | Persaingan global industri herbal modern |
| Dampak Ekonomi | Membuka lapangan kerja dan industri baru | Mengurangi ketergantungan ekonomi nonmigas dan batu bara |