Destry Prioritaskan Stabilitas Rupiah hingga Dorong Kredit

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:33 WIB
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti usai mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Komisi XI DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon tunggal Gubernur BI Destry Damayanti untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti usai mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Komisi XI DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon tunggal Gubernur BI Destry Damayanti untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

 

PONTIANAK POST – Menjaga stabilitas rupiah, mempercepat penyaluran kredit ke sektor riil, dan menopang pertumbuhan ekonomi menjadi agenda utama Destry Damayanti jika mendapat mandat memimpin Bank Indonesia (BI). Strategi tersebut disampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur BI di hadapan Komisi XI DPR, Rabu (26/8).

Destry menilai tantangan ekonomi Indonesia semakin kompleks. Tekanan tidak lagi hanya berasal dari siklus ekonomi, tetapi juga perubahan struktural akibat fragmentasi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan percepatan digitalisasi.

“Tantangan ekonomi saat ini semakin kompleks. Bukan lagi sekadar persoalan siklus ekonomi, melainkan juga perubahan struktural akibat fragmentasi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta pesatnya digitalisasi,” paparnya.

Fondasi Ekonomi Masih Kuat

Di tengah tekanan global, Destry menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Sementara itu, inflasi Juli 2026 berada di level 2,88 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Namun, capaian tersebut tidak boleh membuat kebijakan ekonomi kehilangan fokus. Menurut Destry, tantangan berikutnya adalah memastikan pembiayaan mengalir lebih deras ke sektor produktif.

Rp2.548 Triliun Kredit Belum Tersalurkan

Salah satu persoalan yang disoroti Destry adalah masih tingginya nilai kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan.

Nilainya mencapai sekitar Rp2.548 triliun, atau 21,8 persen dari total plafon kredit. Menurut Destry, ruang pembiayaan tersebut perlu didorong agar masuk ke sektor riil.

“Menjaga stabilitas saja tidak cukup. Bank Indonesia juga perlu terus memperkuat bauran kebijakan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain kredit korporasi, pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi perhatian. Penguatan daya beli masyarakat dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung lebih inklusif.

Rupiah Melemah, Ekspor Jadi Kunci

Stabilitas nilai tukar menjadi tantangan lain yang mendapat perhatian dalam uji kelayakan tersebut. Rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Destry menilai penguatan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi bank sentral. Fundamental sektor eksternal juga perlu diperkuat.

Salah satu caranya melalui peningkatan ekspor dan perbaikan neraca transaksi berjalan.

“PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia dan juga semua masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan,” katanya.

Defisit Transaksi Berjalan Masih Jadi PR

Defisit transaksi berjalan menjadi salah satu perhatian karena dipengaruhi antara lain oleh defisit sektor jasa dan pembayaran pendapatan primer.

Karena itu, peningkatan ekspor barang dinilai penting untuk memperkuat sektor eksternal. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan devisa sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah.

Destry menilai kompleksitas ekonomi global membuat BI tidak bisa hanya mengandalkan satu instrumen kebijakan.

Bank sentral perlu mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta pendalaman pasar uang dan valuta asing.

Pasar Uang dan Valas Terus Diperdalam

Pendalaman pasar keuangan juga menjadi bagian dari strategi Destry. Dalam enam tahun terakhir, pendalaman pasar uang disebut meningkat enam kali lipat.

Sementara itu, transaksi pasar valuta asing meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar USD12 miliar per hari.

“Semakin dalam pasar uang dan valas kita, maka stabilitas rupiah juga akan semakin terjaga dan sumber pembiayaan pembangunan semakin kuat,” pungkasnya.

Pasar keuangan yang lebih dalam diharapkan dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter sekaligus menyediakan alternatif sumber pembiayaan bagi perekonomian.

Tiga Misi Utama Destry

Dalam pemaparannya, Destry menyiapkan tiga misi utama jika dipercaya memimpin BI.

Pertama, memastikan BI tetap relevan menghadapi perubahan dan tantangan ekonomi. Kedua, meningkatkan kontribusi BI terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketiga, memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Lima inisiatif strategis yang dipaparkan Destry meliputi penguatan bauran kebijakan BI, penguatan kebijakan lalu lintas devisa (LLD), perluasan inklusi dan keuangan berkelanjutan, penguatan tata kelola serta inovasi kelembagaan, dan penguatan [lengkapi istilah/inisiatif kelima sesuai paparan resmi Destry] sebagai benang merah seluruh kebijakan BI.

Menjaga Rupiah Sekaligus Menggerakkan Ekonomi

Gagasan Destry menempatkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi sebagai dua agenda yang harus berjalan beriringan. Stabilitas rupiah tetap menjadi fondasi, tetapi kebijakan BI juga diharapkan mampu menciptakan ruang lebih besar bagi kredit dan pembiayaan sektor produktif.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan. Pelonggaran kebijakan yang terlalu agresif berisiko menekan stabilitas, sementara kebijakan yang terlalu ketat dapat menghambat pembiayaan ekonomi.

Jika mendapat mandat sebagai Gubernur BI, arah kebijakan Destry akan diuji oleh kemampuan bank sentral merespons tekanan rupiah, memperkuat sektor eksternal, dan memastikan likuiditas benar-benar mengalir ke kegiatan ekonomi produktif.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
stabilitas rupiah Destry Damayanti calon Gubernur BI kredit sektor riil Ekspor Indonesia