Kereta 2.772 Km di Kalimantan Dibidik China, Warisan Utang Whoosh Jadi Perhatian

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 20:29 WIB
Ilustrasi peta jalur kereta api trans-kalimantan yang akan menjadi urat nadi konektivitas di pulau tersebut. (GEMINI AI)
Ilustrasi peta jalur kereta api trans-kalimantan yang akan menjadi urat nadi konektivitas di pulau tersebut. (GEMINI AI)

PONTIANAK POST - Rencana pembangunan jaringan kereta api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer membuka peluang baru bagi investasi China.

Namun, proyek raksasa tersebut juga membawa tantangan besar karena pemerintah harus mempertimbangkan pengalaman pembiayaan Whoosh dan kondisi geografis Kalimantan.

China dan Rusia disebut telah menyatakan minat terhadap proyek raksasa itu. Pemerintah Indonesia masih menjajaki investasi asing sebelum menentukan bentuk kerja sama yang akan digunakan.

Baca Juga: Ketimpangan Infrastruktur Kalimantan Mencuat, Kereta Api Trans-Kalimantan Jadi Sorotan

Pengalaman Whoosh Jadi Pelajaran

Whoosh menjadi salah satu pertimbangan penting dalam melihat rencana proyek baru. Kereta cepat Jakarta-Bandung memang menunjukkan kemampuan teknis kontraktor China, tetapi proyek tersebut juga menghadapi persoalan pembengkakan biaya dan beban utang.

Menguti laporan SCMP (South China Morning Post) pada (27/9), Peneliti senior di ISEAS - Yusof Ishak Institute di Singapuran, Siwage Dharma Negara menyebut pengalaman Whoosh dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah ketika menyiapkan proyek infrastruktur berikutnya.

Menurut Negara, pengalaman tersebut dapat mendorong pemerintah Indonesia lebih berhati-hati ketika menentukan siapa yang akan menanggung risiko komersial dalam proyek Trans-Kalimantan.

Risiko Bukan Hanya Soal Uang

Tantangan Trans-Kalimantan juga berada pada kondisi geografis dan teknis. Paramitaningrum, dosen hubungan internasional di Universitas Bina Nusantara, menilai proyek tersebut menghadapi risiko yang besar.

Baca Juga: Prabowo Sudah Minta Kereta Api Kalimantan Dimulai, Mengapa Rutenya Belum Terungkap?

“Risiko tinggi dalam hal posisi geografis, teknis, dan keuangan,” ungkapnya.

Ia juga mempertanyakan apakah pola pembangunan yang digunakan pada proyek sebelumnya akan kembali diterapkan jika investor China terlibat.

“Jika investor Tiongkok terlibat, apakah mereka menggunakan metode yang sama seperti dalam pengembangan Whoosh? Bisakah mereka menyelesaikan proyek ini tepat waktu dengan kualitas yang baik?” ujarnya.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena jaringan yang direncanakan mencapai 2.772 kilometer, jauh lebih panjang dibandingkan Whoosh.

Bali Ikut Menjadi Perhatian

Kehati-hatian pemerintah juga muncul setelah rencana proyek metro bawah tanah senilai US$20 miliar di Bali menghadapi perubahan. Kontraktor China Railway Construction Corporation atau CRCC sebelumnya ikut terlibat dalam rencana tersebut.

Situasi itu menunjukkan bahwa proyek perkeretaapian berskala besar membutuhkan perhitungan matang, bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga pembiayaan dan kelayakan komersial.

Baca Juga: Anggaran Kemenhub 2027 Tembus Rp32,93 Triliun, tapi Kereta Api Trans-Kalimantan Masih Misterius

Untuk Trans-Kalimantan, pemerintah masih berada pada tahap penjajakan. Belum ada keputusan final mengenai investor, skema pembiayaan, maupun jadwal pembangunan jaringan sepanjang 2.772 kilometer tersebut.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
kereta api kalimantan investor China kereta Whoosh investor Tiongkok