PONTIANAK POST - Esok Tanpa Ibu bukan hanya drama keluarga, tapi juga cerita tentang teknologi dan AI yang berusaha “menghadirkan” sosok ibu.
Setelah Laras meninggal, Rama membuat I-BU, aplikasi AI yang meniru suara dan citra ibunya. Teknologi ini awalnya membantu Rama merasa tidak kesepian.
Dian Sastrowardoyo, yang juga menjadi produser, mengulas tantangan membesarkan anak remaja di era digital.
“Istri atau ibu selalu diandalkan dalam kestabilan rumah tangga dan keluarga. Nah, gimana kalau ibu nggak ada? Nggak mesti meninggal, misalnya kayak lagi sakit atau pergi, gitu?” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Esok Tanpa Ibu: Kisah Kehilangan dan Kehangatan Keluarga yang Tak Tergantikan
Gina S. Noer menekankan bahwa AI tidak bisa menggantikan kasih sayang dan kehadiran emosional yang nyata.
“Perkembangan teknologi harusnya membuat kita juga ingat bahwa akar manusia adalah dengan lingkungannya,” tambahnya.
Cerita ini memadukan tema keluarga, teknologi, dan lingkungan, menggunakan simbol ibu pertiwi dan bunga sebagai lambang harapan.
Baca Juga: Rachel Amanda dan Rifnu Wikana Tampil Solid dalam Film Suka Duka Tawa
Melalui I-BU, penonton diajak mempertanyakan batasan teknologi dalam kehidupan manusia.
Apakah kemajuan AI cukup untuk menggantikan kehangatan dan cinta yang hanya bisa hadir melalui interaksi nyata antara ibu dan anak? (*)
Editor : Chairunnisya