Penyakit jantung bawaan yang dialami Dzakiyyah Nur Hasyifah mesti segera ditangani. Tubuh bayi berusia dua tahun itu kerap membiru. Ia harus dirujuk ke Jakarta untuk menjalani operasi. Namun, kedua orang tuanya terkendala biaya.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
Sejak usia dua bulan, anak tunggal dari Asari dan Ani Safitri ini sering demam, batuk dan pilek. Berat badan sulit bertambah. Bahkan tinggi badannya juga kurang ideal untuk anak seumurnya. Kondisi diperparah ketika area mulut dan kukunya tampak membiru. Dokter mencurigai adanya masalah jantung.
"Dokter bilang biasanya ketika tubuh anak membiru mengarah ke jantung. Kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sehingga diketahui anak saya ada penyakit jantung bawaan," ungkap Ani, ibu Dzakiyyah.
Baca Juga: Kalbar Masih Kekurangan Dokter, Distribusi Tenaga Kesehatan Belum Merata di Seluruh Daerah
Usaha untuk kesembuhan sang buah hati terus dilakukan Ani dan suaminya. Berbagai pemeriksaan telah dilakukan, dari rumah sakit milik pemerintah hingga swasta. Bahkan melalui pengobatan herbal. Ia berharap agar penyakit yang dialaminya anaknya tidak semakin parah, bahkan bisa sembuh.
"Hasil dari pemeriksaan anak saya dinyatakan penyakit jantung bawaan dan langsung disuruh untuk menjalani operasi di Jakarta. Setelah itu saya tidak langsung bawa untuk operasi, saya mencari pengobatan alternatif lain, saya coba berikan obat herbal selama satu tahun setengah," paparnya.
Setelah ikhtiar pengobatan herbal, Ani kemudian membawa anaknya melakukan pemeriksaan ke salah satu rumah sakit swasta. Ia ingin melihat ada atau tidaknya perubahan setelah minum obat herbal itu. Tetapi, Ani harus menelan kekecewaan.
"Nyatanya tidak ada perubahan , hasil dari pemeriksaan tetap sama, Dokter bilang memang harus dioperasi," ungkapnya.
Baca Juga: Kalbar Masih Kekurangan Dokter, Distribusi Tenaga Kesehatan Belum Merata di Seluruh Daerah
Saat ini, kata Ani anaknya masih aktif bermain. Nafsu makanya juga bagus. Hanya tubuhnya saja yang kerap membiru. "Biru itu karna anak saya kekurangan oksigen. Kata dokter kalau dibiarkan semakin lama bisa membuat anak saya sesak nafas dan bisa menyebabkan pembengkakan pada jantung," ujarnya.
Dilema bagi Ani dan suaminya. Untuk membawa Dzakiyyah berobat ke Jakarta tidaklah mudah. Meskipun pengobatan bisa dilakukan dengan BPJS Kesehatan, namun biaya hidup selama di ibu kota tidaklah sedikit. Pendapatan suaminya sebagai satpam masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan operasi buah hatinya.
"Anak saya harus segera dioperasi. Tapi kendalanya di biaya," pungkasnya. (*)
Editor : Hanif