PONTIANAK POST - Memilih memiliki anak lebih dulu atau melanjutkan pendidikan dan karier menjadi dilema yang kerap dihadapi pasangan muda. Keputusan ini tidak sederhana karena menyangkut kesiapan fisik, psikis, serta arah hidup bersama.
Psikolog keluarga dan pernikahan dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, MPsi, menegaskan tidak ada pilihan yang paling benar dalam hal ini. Menurutnya, keputusan harus disesuaikan dengan tujuan pribadi dan tujuan bersama pasangan.
“Yang penting adalah memahami mana yang menjadi prioritas dan mana yang bisa ditunda, sesuai kesepakatan bersama,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Ia mengingatkan, keputusan besar tanpa komunikasi yang matang berisiko menimbulkan masalah di kemudian hari. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya merasa tidak siap dan memilih berhenti di tengah jalan.
Baca Juga: Cara Menghadapi Anak Gen Alpha yang Jago Debat dan Sering Asal Bunyi
Diskusi Kunci Utama
Karena itu, diskusi menjadi kunci utama. Nadya menyarankan pasangan membicarakan hal ini dalam kondisi emosi yang tenang dan pikiran jernih.
“Ketika ada perbedaan pilihan, itu bukan untuk dipertentangkan, tapi didiskusikan agar kebutuhan masing-masing bisa terakomodasi,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar pasangan menentukan waktu khusus untuk berdiskusi, layaknya menjadwalkan rapat. Topik ini dinilai cukup penting sehingga tidak sebaiknya dibahas secara spontan atau sambil lalu.
Jika pasangan memutuskan memiliki anak lebih dulu, ada sejumlah hal krusial yang perlu dibicarakan secara terbuka. Mulai dari jumlah anak, pembagian peran ayah dan ibu, hingga cara menjaga hubungan sebagai suami istri.
Baca Juga: Pola Asuh Overprotektif Bisa Hambat Kemandirian Anak Sejak Dini
Pertimbangan Potensi Benturan
Selain itu, perlu juga mempertimbangkan potensi benturan antara kebutuhan anak, pekerjaan, kehidupan sosial, serta peran keluarga besar.
Dalam praktiknya, perbedaan pilihan antara pasangan bukan hal yang jarang terjadi. Nadya menilai penting untuk mengevaluasi apakah perbedaan tersebut benar-benar berisiko atau sekadar perbedaan preferensi.
Jika hanya soal kenyamanan, kompromi dan keterbukaan bisa menjadi solusi. Namun jika menyangkut risiko, pasangan perlu membahasnya secara objektif, termasuk mencari cara untuk meminimalkan dampaknya.
Ia juga mengingatkan bahwa diskusi semacam ini bisa melelahkan secara emosional. Jika suasana mulai memanas, sebaiknya pembicaraan dihentikan sementara dan dilanjutkan di lain waktu.
Baca Juga: 10 Tips Menghemat Biaya Pernikahan: Acara Tetap Berkesan meski Anggaran Minim
Bikin Timeline
“Tidak semua keputusan harus selesai dalam satu kali diskusi. Bisa dua atau tiga kali, itu wajar,” katanya.
Membuat timeline juga menjadi langkah penting agar keputusan tidak terus tertunda. Tujuan jangka panjang perlu dipecah menjadi target jangka menengah dan pendek, lalu dievaluasi secara berkala.
Dengan begitu, pasangan tetap berada di jalur yang sama dan menghindari perasaan kehilangan arah dalam hubungan.
Terkait tekanan atau saran dari pihak luar, Nadya menegaskan bahwa keputusan tetap berada di tangan pasangan.
“Saran dari luar boleh dipertimbangkan, tapi keputusan akhir harus berdasarkan kesepakatan dan kesiapan pasangan itu sendiri,” pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya