PONTIANAK POST - Di era media sosial yang serba cepat, banyak orang tua dibuat terkejut ketika anak tiba-tiba mengucapkan istilah atau kalimat yang sedang viral.
Mulai dari jargon lucu yang ramai di TikTok hingga ungkapan yang terdengar kurang pantas, fenomena ini sebenarnya merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang anak.
Psikolog Klinik Perspektif, Sekar Arum Sabrina MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kebiasaan meniru merupakan cara anak belajar memahami dunia di sekitarnya.
Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa
"Anak menyerap informasi dari lingkungan sekitar, lalu mencoba menirukan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai cara untuk memahami dunia di sekelilingnya," ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Menurut Sekar, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tempat anak tumbuh, pola pengasuhan, dan paparan media memiliki pengaruh besar terhadap cara anak berbicara.
Anak tidak hanya meniru kata-kata, tetapi juga intonasi, ekspresi wajah, hingga cara seseorang menyampaikan pesan.
Baca Juga: Tips Menjaga Anak Tetap Tenang Saat Dibawa ke Tempat Kerja
"Jadi, orang tua tidak perlu langsung panik. Perilaku tersebut merupakan bagian normal dari tumbuh kembang, khususnya dalam perkembangan bahasa dan kemampuan sosial," lanjut psikolog Klinik Perspektif itu.
Fase Wajar dalam Perkembangan Bahasa
Kemampuan meniru mulai tampak sejak tahun pertama kehidupan dan berkembang pesat pada usia 1 hingga 3 tahun.
Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil
Pada fase ini, anak sering mengulang kata, suara, atau potongan kalimat yang baru didengarnya meski belum memahami maknanya secara utuh.
"Dalam perkembangan bahasa, fase ini dianggap wajar karena anak sedang berlatih mengenali bunyi, membangun kosakata, dan mempelajari cara menggunakan bahasa," jelas Sekar.
Karena itu, ketika anak mengucapkan kata-kata yang sedang populer di media sosial, orang tua sebaiknya melihatnya sebagai bagian dari proses belajar bahasa, bukan langsung menganggapnya sebagai perilaku negatif.
Lingkungan Menjadi Faktor Penting
Seiring bertambahnya usia, sumber imitasi anak semakin beragam. Anak mulai menyerap bahasa dari teman sebaya, tokoh yang dikagumi, hingga konten yang mereka tonton.
Baca Juga: Tips Aktivitas Fisik Anak Berdasarkan Usia, dari Bayi hingga Prasekolah
Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tetap menjadi faktor penting dalam pembentukan cara berkomunikasi anak.
Karena itu, orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan bahasa sehari-hari sekaligus menciptakan lingkungan komunikasi yang positif di rumah. (*)
Editor : Chairunnisya