PONTIANAK POST - Amerika Serikat (AS) bersiap memebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz, langkah yang langsung menuai penolakan keras dari Iran karena dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (3/5) mengumumkan operasi bertajuk Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang tertahan akibat blokade di jalur vital tersebut.
Ia menyebut operasi itu dilakukan atas permintaan sejumlah negara yang kapalnya dianggap tidak terlibat konflik.
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan terbatas ini,” tulis Trump melalui media sosial.
Trump juga menegaskan banyak kapal mulai mengalami kekurangan logistik penting bagi awaknya. Ia memperingatkan setiap pihak yang mencoba mengganggu operasi akan menghadapi tindakan tegas dari militer AS.
Namun, rencana tersebut berpotensi memicu eskalasi baru. Dari Teheran, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi menegaskan intervensi AS akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang telah berjalan hampir sebulan.
“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh pernyataan delusional Trump,” tulis Azizi.
Sementara itu, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan siap mendukung kapal niaga yang ingin melintas bebas. Meski demikian, mekanisme pengamanan belum dijelaskan secara rinci. (lyn/gas)
Editor : Hanif