PONTIANAK POST – Serangan kelompok Houthi dari Yaman semakin mengancam infrastruktur sipil Arab Saudi. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali menjadi sasaran pada Minggu (11/10), sehari setelah serangan sebelumnya menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Rentetan serangan membuat operasional bandara dihentikan dan penerbangan dialihkan.
Otoritas Arab Saudi memperpanjang penangguhan operasional Bandara Riyadh untuk pemeriksaan keamanan dan penilaian kerusakan. Pada Senin (12/10), koalisi pimpinan Saudi juga melaporkan adanya ancaman rudal dan drone baru.
Serangan berulang itu memperlihatkan risiko yang dihadapi penerbangan sipil ketika konflik bersenjata menjangkau fasilitas transportasi utama. Riyadh bukan hanya ibu kota Saudi, melainkan juga pusat pemerintahan, bisnis, dan konektivitas udara internasional.
Terminal Bandara Kembali Dihantam
Serangan pada Minggu (11/10) dilaporkan menghantam Terminal 3 dan 4 Bandara Internasional King Khalid. Proyektil yang jenisnya belum dipastikan memicu kebakaran di area bandara. Seorang warga Pakistan yang tinggal di Arab Saudi meninggal dunia, sedangkan 11 orang lainnya terluka.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi (GACA) menyatakan para korban luka dibawa ke sejumlah rumah sakit. Pemeriksaan kerusakan dan inspeksi keselamatan dilakukan sebelum bandara dapat kembali beroperasi.
Serangan Minggu terjadi sehari setelah proyektil yang diklaim diluncurkan Houthi menghantam bandara yang sama. Serangan pada Sabtu (10/10) menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Kedutaan Besar India di Arab Saudi kemudian mengonfirmasi seorang warga negaranya yang terluka dalam serangan Sabtu meninggal dunia, sehingga jumlah korban meninggal dalam insiden itu bertambah menjadi 13 orang.
Dengan demikian, angka korban dari kedua insiden perlu dibedakan. Serangan Sabtu menyebabkan 13 orang meninggal setelah seorang korban luka meninggal kemudian, sedangkan serangan Minggu menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.
Gangguan tidak berhenti di area terminal. Pesawat yang sedang bergerak di landasan dilaporkan harus kembali ke gerbang setelah sebuah proyektil menghantam area dekat sejumlah pesawat yang terparkir. Penumpang kemudian diminta turun dan meninggalkan pesawat.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap bandara dapat berdampak langsung pada penumpang yang sudah berada di dalam pesawat, bukan hanya mereka yang masih menunggu di terminal.
Hampir Seluruh Penerbangan Riyadh Batal
Serangan berulang membuat jadwal penerbangan di Riyadh terganggu secara luas. Data perusahaan analitik penerbangan Cirium yang dikutip Reuters menunjukkan 99,7 persen penerbangan terjadwal di Bandara Riyadh dibatalkan pada Minggu (11/10).
Pada Senin (12/10), sekitar 60 persen penerbangan terjadwal diperkirakan batal. Sementara itu, Flightradar24 memperkirakan tingkat pembatalan sekitar 78 persen. Perbedaan angka tersebut berasal dari sumber data dan waktu penghitungan yang berbeda.
Sejumlah maskapai internasional ikut menyesuaikan jadwal. Lufthansa membatalkan penerbangan menuju Riyadh hingga 16 Oktober, sedangkan Air France-KLM memperpanjang penghentian layanan ke ibu kota Saudi hingga akhir bulan. Etihad Airways juga menghentikan penerbangan menuju Arab Saudi hingga 13 Oktober.
Dampaknya meluas hingga perjalanan yang menggunakan penerbangan lanjutan. Penumpang dapat tertahan di kota transit meskipun penerbangan awal tetap beroperasi. Perubahan rute juga berpotensi menambah waktu perjalanan dan biaya akomodasi.
Gangguan penerbangan turut memengaruhi kegiatan bisnis di Riyadh. The Guardian melaporkan sejumlah perusahaan meminta pegawainya bekerja dari rumah, sedangkan otoritas setempat meminta sekolah beralih ke pembelajaran daring selama pekan tersebut. Sejumlah eksekutif energi juga batal menghadiri agenda konferensi internasional di ibu kota Saudi.
Mengapa Jangkauan 2.000 Km Jadi Perhatian?
Analis pertahanan dan maritim Alexandru Hudisteanu menilai kemampuan serangan Houthi telah menjangkau sasaran yang jauh dari wilayah asal kelompok tersebut.
“Jarak antara 1.500 km dan 2.000 km tampaknya kini berada dalam jangkauan Houthi,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Penilaian itu sejalan dengan laporan Al Jazeera mengenai persenjataan Houthi. Salah satu rudal balistik jarak menengah yang disebut dalam laporan tersebut adalah Palestine-2, yang diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer. Rudal Toufan juga disebut memiliki jangkauan sekitar 1.350–1.950 kilometer. Namun, jenis senjata yang digunakan dalam serangan terbaru di Bandara Riyadh belum dipastikan.
Jangkauan senjata menjadi penting karena memungkinkan serangan dilakukan terhadap sasaran yang jauh dari garis depan. Dalam konteks Arab Saudi, ancaman itu mencakup bandara, fasilitas energi, dan infrastruktur strategis lainnya.
Hudisteanu menilai kemampuan Houthi kemungkinan didukung keahlian dan bantuan Iran. Analis lain yang diwawancarai Al Jazeera juga menyebut persenjataan Houthi memiliki hubungan dengan teknologi Iran. Meski demikian, dugaan dukungan eksternal perlu dibedakan dari bukti mengenai keterlibatan pihak tertentu dalam setiap serangan.
Kelompok Houthi diketahui mengombinasikan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Menurut analisis Al Jazeera, penggunaan beberapa jenis senjata dengan kecepatan dan karakteristik berbeda dapat mempersulit sistem pertahanan udara dalam mendeteksi dan mencegat seluruh ancaman.
Arab Saudi sendiri memiliki sistem pertahanan udara berlapis. Namun, keberhasilan mencegat sebagian proyektil tidak menjamin semua serangan dapat dihentikan. Luas wilayah negara, jumlah ancaman, dan keterbatasan persediaan rudal pencegat menjadi tantangan tersendiri.
Analis keamanan Thomas Juneau dari Universitas Ottawa, seperti dikutip The Guardian, menilai tidak mungkin suatu negara mempertahankan seluruh wilayahnya secara konsisten dari semua serangan rudal dan drone.
Konflik Yaman Mengancam Jalur Perdagangan
Eskalasi serangan juga berkaitan dengan pertempuran di Yaman. Pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melanjutkan operasi untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk kawasan strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jalur tersebut menjadi salah satu lintasan perdagangan internasional, termasuk pengangkutan energi dari kawasan Timur Tengah.
The Guardian melaporkan, Houthi meningkatkan serangan terhadap bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan serangan balasan. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi perdagangan dan pasokan energi internasional jika gangguan meluas ke jalur pelayaran.
Dampak konflik dengan demikian tidak hanya ditentukan oleh jumlah korban atau kerusakan fasilitas. Ketika jalur udara dan laut terganggu secara bersamaan, biaya logistik, jadwal pengiriman, dan harga energi juga berpotensi terdampak.
Kemenlu Pantau 581 Ribu WNI di Saudi
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyampaikan keprihatinan atas eskalasi konflik dan serangan lintas batas, termasuk serangan yang menyasar bandara di Arab Saudi.
“Indonesia mengecam keras segala bentuk serangan terhadap warga sipil dan objek sipil serta menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dari dampak konflik bersenjata,” tulis Kemenlu dalam keterangan resmi.
Indonesia juga menyoroti gangguan terhadap operasional penerbangan sipil yang berisiko mengancam keselamatan penumpang dan awak pesawat. Seluruh pihak terkait didesak menghentikan serangan dan aksi balasan, menahan diri, serta memastikan tindakan sesuai dengan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional.
Di tengah situasi tersebut, Kemenlu memastikan terus memantau kondisi WNI di Arab Saudi. Naskah awal menyebut terdapat sekitar 581 ribu WNI di negara tersebut. Dari jumlah itu, 351.070 orang disebut menetap dengan izin tinggal atau iqamah, sedangkan 229.930 lainnya merupakan pengunjung, termasuk orang yang melakukan perjalanan ziarah dan umrah.
Direktur Pelindungan WNI Kemenlu Heni Hamidah menyatakan, hingga 11 Oktober 2026, belum ada laporan WNI menjadi korban langsung akibat serangan tersebut. Kemungkinan adanya WNI di antara korban luka masih diverifikasi.
ANTARA sebelumnya melaporkan KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah terus memantau situasi keamanan dan berkomunikasi dengan komunitas WNI. Pada pemantauan 6–8 Oktober, lebih dari 93 persen penerbangan terjadwal di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, masih beroperasi. Namun, Kemenlu mengingatkan bahwa perkembangan situasi dapat memengaruhi operasional penerbangan di wilayah lain.
KBRI Riyadh mengimbau WNI tetap berada di tempat aman, menghindari daerah rawan, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Bagi WNI yang berada di Arab Saudi, perkembangan keamanan perlu dipantau melalui kanal resmi pemerintah dan maskapai. Keluarga di Indonesia juga perlu mengutamakan komunikasi langsung dengan anggota keluarga dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. (mia/lyn/oni)
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Hingga 2.000 km | Perkiraan jangkauan salah satu rudal balistik yang dibahas Al Jazeera |
| 13 orang | Korban meninggal dalam serangan 10 Oktober, setelah seorang korban luka meninggal kemudian |
| 309 orang | Korban luka dalam serangan 10 Oktober |
| 1 orang | Meninggal dalam serangan lanjutan pada 11 Oktober |
| 11 orang | Terluka dalam serangan 11 Oktober |
| 99,7 persen | Penerbangan terjadwal Bandara Riyadh dibatalkan pada 11 Oktober menurut data Cirium yang dikutip Reuters |
| 581 ribu WNI | Perkiraan dalam naskah awal, mencakup penduduk menetap dan pengunjung; perlu dicocokkan dengan sumber resmi Kemenlu |
Sumber: Al Jazeera, Reuters, The Guardian, dan ANTARA. Data hingga 12 Oktober 2026.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro