Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Olah Hasil Laut Jadi Produk Bernilai Tinggi: Ibu-Ibu Desa Pelapis Ikut Gerakkan Ekonomi Pesisir Karimata

Hanif PP • Kamis, 7 Mei 2026 | 10:15 WIB
Ibu-ibu Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, membuat bakso menggunakan ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Program pengolahan hasil perikanan merupakan program CSR PT Dharma Inti Bersama yang bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Pelapis. (DIB FOR PONTIANAK POST)
Ibu-ibu Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, membuat bakso menggunakan ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Program pengolahan hasil perikanan merupakan program CSR PT Dharma Inti Bersama yang bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Pelapis. (DIB FOR PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir terus diperkuat melalui sinergi dengan PT Dharma Inti Bersama selaku pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Program pengolahan hasil perikanan yang menyasar ibu-ibu di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupten Kayong Utara, kini menunjukkan dampak nyata, tidak hanya dalam meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga membuka ruang produktivitas baru bagi perempuan di wilayah kepulauan.

Puluhan ibu rumah tangga kini terlibat aktif dalam berbagai kelompok usaha berbasis pengolahan ikan, mulai dari produksi bakso ikan, nugget, hingga lele marinasi. Program ini hadir sebagai jawaban atas keterbatasan lapangan pekerjaan di wilayah pulau, sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya laut yang melimpah.

Mardiana, Ketua Kelompok Bakso Ikan dari Dusun Raya, mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dalam program ini, dirinya fokus mengurus rumah tangga.

“Awalnya saya diajak oleh teman-teman untuk membentuk kelompok. Kebetulan di pulau tempat tinggal kami memang minim lapangan pekerjaan, ada juga diberikan saran oleh tim CSR PT DIB membuat bakso ikan, saya sangat tertarik dan memutuskan untuk ikut,” ujarnya, awal Mei 2026.

Kini, aktivitas produksi dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu, menyesuaikan ketersediaan bahan baku. Mardiana bertugas pada proses pengukusan bakso, memastikan produk matang dengan kualitas terbaik.

“Biasanya kami mulai bekerja dari jam 09.00 pagi dan selesai sekitar jam 12.00 atau jam 13.00 siang. Tugas utama saya di bagian pengukusan. Setelah adonan ikan digiling dan dibentuk jadi bulatan-bulatan bakso dalam jumlah banyak, sayalah yang bertanggung jawab mengukus sampai matang,” ujarnya.

Dari hasil penjualan, ia telah merasakan tambahan penghasilan yang signifikan. “Sejauh ini saya sudah dua kali terima bagi hasil. Penghasilan ini sangat membantu dapur tetap ngepul. Saya bisa membantu suami memenuhi kebutuhan harian, terutama sewaktu suami belum mengirimkan uang. Uang ini biasanya saya gunakan untuk membeli bahan makanan, sabun, garam, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” katanya.

Pengakuan serupa disampaikan Latipah, Ketua Kelompok Nugget Ikan. Ia menilai program ini memberikan manfaat langsung bagi ekonomi keluarga sekaligus menjadi wadah aktivitas produktif bagi ibu-ibu.

“Daripada hanya diam di rumah, lebih baik berkumpul dengan ibu-ibu lain untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai jual. Dari bagi hasil penjualan nugget, saya mendapatkan tambahan uang tunai. Biarpun jumlahnya belum tetap setiap bulannya, tapi jumlah ratusan ribu rupiah yang kami terima sangat berarti buat kami yang tinggal di pulau,” katanya.

Seluruh hasil produksi nugget, bakso, dan lele marinasi dijual untuk konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Kawasan Industri yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dipersiapkan menjadi pusat pengolahan dan pemurnian bijih bauksit untuk produksi alumina dan aluminium yang berkelanjutan.

External Relation Manager PT DIB Sugeng Sulistiyo menjelaskan, program ini dilatarbelakangi stagnasi pendapatan rumah tangga nelayan akibat keterbatasan pengetahuan pengolahan ikan modern dan diversifikasi produk. “Kami melihat potensi besar pada perempuan pesisir yang selama ini perannya dalam ekonomi keluarga masih bisa dioptimalkan, padahal mereka adalah kunci perubahan di tingkat rumah tangga,” jelasnya.

Menurut Sugeng, sebelum program berjalan, pengolahan ikan masih bersifat tradisional dengan nilai tambah yang terbatas. Kini, melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat mampu menghasilkan produk olahan bernilai lebih tinggi dengan standar kualitas dan keamanan pangan yang terjaga.

Saat ini, kapasitas produksi kolektif telah mencapai rata-rata 200 kilogram per bulan. Dampak ekonominya pun cukup signifikan, dengan peningkatan pendapatan anggota hingga 40 persen. Selain itu, program ini juga memperkuat solidaritas sosial antarwarga melalui kerja sama kelompok yang erat.

Ke depan, PT DIB akan terus mengembangkan program ini dengan memastikan keberlanjutan produksi, termasuk melalui penguatan infrastruktur pendukung seperti penyediaan listrik yang stabil serta manajemen bahan baku yang lebih baik. (*)

Editor : Hanif
#ekonomi pesisir #produk bernilai #hasil laut #Desa Pelapis #ibu ibu