Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bahaya Terlalu Sering Makan Seblak: Bisa Jadi Ancaman untuk Lambung, Jantung, dan Ginjal

Syeti Agria Ningrum • Kamis, 2 Oktober 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi seblak.
Ilustrasi seblak.

PONTIANAK POST - Siapa yang tidak kenal seblak? Makanan khas Bandung ini terkenal dengan rasa gurih, pedas, dan aroma kencurnya yang khas. 

Berisi kerupuk basah yang direbus dengan berbagai tambahan seperti bakso, ceker, makaroni, hingga topping seafood, makanan ini menjadi favorit banyak anak muda Indonesia. 

Namun, di balik kenikmatan tersebut, ternyata ada sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai jika dikonsumsi terlalu sering.

Menurut penelitian dari Universitas Jember, makanan berbasis kerupuk seperti seblak berpotensi mengandung bakteri berbahaya akibat pengolahan dan penyimpanan yang kurang higienis. 

Bahkan, jika bahan dan topping tidak dimasak dengan baik, risiko kontaminasi bisa semakin tinggi.

Selain itu, makanan khas Bandung ini cenderung tinggi natrium (garam) dan penyedap rasa. 

Konsumsi natrium berlebih dapat memicu risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal jika tidak diimbangi pola makan sehat. 

Dari sisi kandungan pedas berlebihan bisa memicu masalah pencernaan, mulai dari maag, refluks asam lambung (GERD), hingga iritasi pada lambung. 

Jika ditambah dengan minyak berlebih pada kuahnya, maka efek buruk bagi sistem pencernaan akan semakin besar. 

Berikut resiko penyakit yang mengintai bila sering mengkonsumsi makanan khas Bandung:

Risiko Infeksi Bakteri dari Seblak

Menurut penelitian Universitas Jember, bahan utama seblak berupa kerupuk basah yang direbus bisa menjadi tempat tumbuhnya bakteri jika tidak disimpan dan diolah dengan baik. 

Kerupuk yang direndam terlalu lama dalam air mentah berpotensi terkontaminasi bakteri E. coli maupun Salmonella, yang bisa menyebabkan diare hingga keracunan makanan.

Apalagi jika topping tambahan seperti ceker ayam, seafood, atau telur tidak dimasak dengan benar. Kontaminasi silang antara bahan mentah dan matang dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri berbahaya bagi tubuh.

1. Tinggi Natrium (Garam) dan Penyedap Rasa

Seblak biasanya dimasak dengan banyak bumbu instan, kaldu bubuk, dan penyedap rasa. Tempo.co mencatat bahwa kandungan natrium berlebih dapat memicu hipertensi (tekanan darah tinggi). 

Jika pola makan tinggi garam dibiarkan terus-menerus, maka risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal bisa meningkat drastis.

Selain itu, penyedap rasa dalam jumlah banyak juga bisa memicu gejala seperti pusing, rasa haus berlebihan, hingga gangguan tidur bagi orang yang sensitif terhadap MSG.

Baca Juga: Jangan Buru-buru Minum Obat, Begini Cara Alami Redakan Asam Lambung dengan Madu Tanpa Efek Samping

2. Gangguan Pencernaan akibat Pedas Berlebihan

Makanan ini identik dengan cabai dalam jumlah besar. Menurut UChicago Medicine, konsumsi makanan pedas berlebih dapat menyebabkan:

Jika ditambah dengan kuah berminyak dari kuliner khas Jawa Barat, risiko peradangan pada dinding lambung menjadi semakin tinggi.

3. Kaya Minyak dan Kalori Kosong

Seblak biasanya menggunakan kerupuk goreng yang sudah dikeringkan, lalu direbus kembali.

Proses ini membuat kerupuk kaya akan kalori dari karbohidrat sederhana, tapi minim serat dan protein. 

Ditambah dengan minyak yang digunakan dalam kuah, makanan khas Bandung bisa menjadi makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi.

Jika dikonsumsi terlalu sering, hal ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan (obesitas).

Obesitas sendiri merupakan faktor risiko utama penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung.

Baca Juga: Tak Hanya Pedas! Ini 7 Manfaat Cabai yang Baik untuk Tubuh Anda

4. Memicu Peradangan dalam Tubuh

Kombinasi antara minyak, garam, dan cabai berlebih dalam seblak dapat meningkatkan risiko inflamasi (peradangan) pada tubuh. 

Jika inflamasi ini berlangsung lama, tubuh bisa menjadi lebih rentan terhadap penyakit kronis. 

Menurut studi di bidang gizi, pola makan tinggi makanan ultra-proses (processed food) seperti kerupuk instan bisa menyebabkan stres oksidatif, yang berhubungan dengan penuaan dini dan penurunan daya tahan tubuh.

5. Risiko pada Anak-anak dan Remaja

Kuliner khas Jawa Barat memang populer di kalangan anak muda, bahkan banyak anak-anak ikut mengkonsumsinya. 

Padahal, sistem pencernaan anak lebih sensitif terhadap makanan pedas dan berminyak. 

Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami sakit perut, diare, atau bahkan gangguan gizi karena pola makan yang tidak seimbang.

Jika terlalu sering, kebiasaan ini juga bisa menurunkan selera makan terhadap makanan bergizi, sehingga anak kekurangan vitamin, mineral, dan protein yang penting untuk tumbuh kembang.

Tips Aman Menikmati Seblak

Walaupun punya banyak risiko, bukan berarti kamu tidak boleh makan makanan khas Bandung sama sekali. Beberapa langkah ini bisa membantu mengurangi dampak buruknya:

Seblak memang enak, pedas, dan bikin nagih. Konsumsi kuliner khas Jawa Barat terlalu sering bisa memicu banyak masalah kesehatan mulai dari infeksi bakteri, hipertensi, obesitas, hingga gangguan pencernaan.

Kuncinya ada pada porsi dan frekuensi. Jika ingin tetap menikmati makanan khas Bandung ini, buatlah dengan bahan segar, kurangi bumbu instan, dan imbangi dengan pola makan sehat. (*)

Editor : Miftahul Khair
#ginjal #jantung #lambung #seblak #dampak negatif #makanan pedas