Mengapa Rasa Pahit Bisa Memicu Respons Pencernaan Tubuh? Ini Penjelasannya

Chairunnisya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Temulawak.
Temulawak.

PONTIANAK POST - Rasa pahit biasanya menjadi karakter yang paling mudah dikenali dari sejumlah tanaman herbal. Di balik sensasi tersebut, ternyata tubuh memiliki mekanisme khusus untuk mengenali rasa pahit.

Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan tanaman pahit telah lama digunakan sebagai digestive bitters, yaitu tanaman yang dimanfaatkan untuk membantu fungsi pencernaan.

Tubuh Memiliki Reseptor Rasa Pahit

Tubuh manusia memiliki reseptor khusus untuk mengenali rasa pahit yang disebut bitter taste receptors atau reseptor T2R.

Baca Juga: Jamu Pahitan dan Cekokan Punya Filosofi Berbeda untuk Masalah Nafsu Makan

Aktivasi reseptor pada lidah akan menghasilkan sinyal menuju otak. Sinyal tersebut memacu pembentukan sejumlah cairan dan enzim yang berperan dalam proses pencernaan.

Respons tersebut antara lain berupa pembentukan air liur, cairan asam lambung, cairan empedu, serta enzim pencernaan lainnya. Berbagai komponen tersebut bekerja membantu saluran cerna memecah makanan secara lebih efisien.

Reseptor Tidak Hanya Ada di Lidah

Dahulu, para ilmuwan mengira reseptor rasa pahit hanya terdapat pada lidah dan berfungsi untuk mengenali rasa makanan. Namun, diketahui bahwa reseptor tersebut juga terdapat di saluran pencernaan serta berbagai jaringan tubuh lainnya.

Baca Juga: Dokter Anak Pontianak Ingatkan Risiko Obesitas Akibat Pola Makan dan Minim Aktivitas Fisik

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa tanaman dengan rasa pahit sejak lama dikaitkan dengan fungsi pencernaan. Ketika seseorang mengonsumsi tanaman pahit, rasa tersebut dikenali tubuh melalui mekanisme yang melibatkan reseptor khusus.

Mengenal Istilah Amara

Dalam tanaman obat, zat pahit yang merangsang nafsu makan dan pencernaan disebut amara.

Konsep tersebut juga dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok yang menggunakan berbagai tanaman pahit untuk membantu fungsi pencernaan. Indonesia memiliki kekayaan tanaman dengan fungsi serupa.

Baca Juga: Cara Menyimpan Bekal Anak agar Makanan Tetap Terjaga Selama di Sekolah

Temulawak, lempuyang, temu ireng, brotowali, sambiloto, dan daun pepaya merupakan beberapa tanaman yang dikenal memiliki rasa pahit dan digunakan secara turun-temurun.

Meskipun kandungan kimia masing-masing tanaman berbeda, karakter rasa pahit menjadi salah satu cirinya.

Dari Sensasi Pahit Menuju Respons Pencernaan

Rasa pahit pada tanaman herbal dengan demikian bukan hanya persoalan rasa yang muncul di lidah.

Aktivasi reseptor T2R berkaitan dengan respons tubuh yang mendukung proses pencernaan. Mekanisme tersebut menjadi salah satu penjelasan ilmiah mengenai penggunaan tanaman pahit dalam tradisi herbal.

Baca Juga: Kunyit Asam dan Temulawak Mendukung Kesehatan Hormon Wanita Secara Alami

Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai digestive bitters, ketika tanaman pahit dimanfaatkan untuk membantu mempersiapkan dan memperbaiki fungsi sistem pencernaan. (*)

Editor : Chairunnisya
reseptor T2R rasa pahit digestive bitters tanaman herbal sistem pencernaan