Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Hidroponik Menjadi Asa Baru Memulihkan Ekonomi Keluarga

Super_Admin • Rabu, 28 Juli 2021 | 09:55 WIB
HIDROPONIK: Hidroponik digemari masyarakat sejak pandemi Covid-19 melanda Kalbar. ISTIMEWA
HIDROPONIK: Hidroponik digemari masyarakat sejak pandemi Covid-19 melanda Kalbar. ISTIMEWA
Keluarga Saleh telah bertani sayuran di ladang yang sama selama 15 tahun. Kakeknya petani, ayahnya juga. Kini, dia turut meneruskan pekerjaan sebagai petani meskipun ia juga pedagang. Namun, ada berbeda. Lahan pertanian Saleh adalah bagian dari desa dengan 110 keluarga yang dikelilingi ladang terbuka. Sebagian dijadikan lahan hidroponik. Kini lahan itu menjadi asa untuk masa depan keluarga di tengah pandemi Covid-19.  

DENY HAMDANI, Sungai Raya

SEJAK bertani dengan cara hidroponik, keluarga Saleh sudah terbiasa tidak bertani dengan cara konvensional. Konvensional artinya pergi pada pagi hari dan pulang hampir siang atau menjelang sore hari ke ladang.

"Itu saya lakukan sudah lama, ketika ikut orang tua. Sekarang tidak lagi. Semenjak dimentori dinas teknis dan belajar dari youtube, saya tahu bagaimana me-manage tanaman dan waktu. Sebab selain saya bertani juga berdagang membawa dagangan ke kampung-kampung," katanya.

Keluarga Saleh hanya memiliki lahan sempit. Namun baginya tidak menjadi halangan. Justru metode hidroponik di lahan sempit seukuran rumah 8x12 meter, bisa menghasilkan aneka tanaman yang sehat tanpa pestisida.

Praktis dan mudah karena memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Hidroponik merupakan salah satu cara menanam tanpa menggunakan tanah. Media utama yang digunakan adalah pipa plastik. Meskipun ditanam di dalam air, metode ini tidak membutuhkan banyak air. Sehingga penanaman hidroponik ini sangat cocok di lokasi yang memiliki pasokan air yang minim.

"Intinya saya tidak banyak memanfaatkan lahan seperti bertani dengan metode konvensional. Hanya saluran air saja harus selalu dijaga,” katanya belum lama ini.

Awalnya Saleh enggan membuka pertanian hidroponik. Alasannya biaya awal pembuatan mahal. Hanya setelah melihat hasil tanaman hidroponik yang dibuat kawan-kawannya dan model video di youtube, dia menjadi tertarik.

"Saya mulai tahun 2020, ketika pandemi menyerang. Saya menanam aneka sayuran organik dengan konsep hidroponik," ucapya.

Saat ini, terdapat beberapa jenis sayuran hidroponik yang ditanamnya. Ada pakcoy, salada air, sawi, kangkung, cabai, tomat hingga tanaman buncis. Tanaman tersebut dibudidayakan di lubang talang pipa yang dialiri secara terus-menerus. Dari beberapa tanaman tersebut, paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah pakcoy. Sementara itu, untuk kale kebanyakan dipesan masyarakat Tionghoa.

Mengelola tanaman hidroponik sesungguhnya cukup mudah. Tanamannya tergolong bersih. Segi perawatan tanaman tidak menggunakan pestisida. Makanya jargon tanaman hidroponik adalah banyak manfaat, higienis, laku keras, dan jauh dari pestisida.

"Selain terhindar dari pestisida, cara penanaman hidroponik dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi tanaman. Jadi pada sayuran, tidak terdapat lubang-lubang karena ulat,” ujarnya.

Saleh menyebutkan bahwa hasil dari bertani dengan cara hidroponik cukup mengiurkan. Dirupiahkan justru cukup besar dibandingkan berkebun dengan cara konvensional masa lalu. Dulu, sering kali sayuran dipanen terutama sawi dan terong hasilnya tidak maksimal. Sering kali masalah dihadapi yakni daun-daun pada tanaman berlobang karena dimakan ulat. Caranya disemprot pestisida, yang dulunya terbilang murah. Hanya sekarang memakai pestisida, biayanya juga tidak murah. "Jadi bertani modern memang harus memakai hidpronik," ucapnya.

Sejak bertanam hidroponik kebutuhan sayur mayur di rumahnya tidak perlu lagi membeli. Pada lahannya yang seukuran lahan rumah, aneka tanaman dihasilkan. Sebagian dijual, ditabung juga membeli bibit kembali. Sementara dagangannya ke pelosok-pelosok masih jalan meskipun tersendat karena dampak pandemi Covid-19.

"Alhamdulillah. Di tengah pandemi Covid-19 dan pengetatan wilayah, masih ada konsumen memesan kepada saya," ucapnya.

Saleh mengajak supaya masyarakat memanfaatkan teknologi hidroponik agar bisa memenuhi kebutuhan sayur secara mandiri. Keunggulannya, sistem hidroponik dapat memanfaatkan lahan sempit. Kebutuhan sayur mayur di rumah tidak perlu lagi membeli ke pasar. Memanfaatkan teknologi hidroponik sama saja beralih kepada bertani modern yang sudah banyak diterapkan negara-negara maju. (*) Editor : Super_Admin
#hidroponik