PONTIANAK POST - WhatsApp Group (WAG) kini menjadi ruang komunikasi utama, baik untuk keluarga, pekerjaan, maupun pertemanan. Namun, kemudahan bertukar pesan sering kali diiringi gesekan kecil yang berujung salah paham.
Menurut Certified Self Growth & Communication Coach, Anelies Praramadhani, komunikasi berbasis teks memang rentan menimbulkan miskomunikasi.
Tanpa nada bicara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh, pesan yang sebenarnya netral bisa terbaca berbeda oleh penerima.
“Di chat kita tidak punya nada bicara atau gestur. Pesan biasa saja bisa terasa seperti orang sedang marah. Di situlah salah paham mudah terjadi,” ujarnya.
Baca Juga: Saat Perpisahan Hubungan Asmara Berubah Jadi Drama Terbuka di Media Sosial
Waspadai Komunikasi Pasif-Agresif
Kondisi ini kerap membuat suasana grup menjadi tidak nyaman, terutama ketika percakapan mulai mengarah ke pola pasif-agresif. Sindiran halus, gosip, atau pembicaraan di belakang orang lain bisa menciptakan suasana yang terasa “toxic”.
“Pasif-agresif itu terlihat tenang di permukaan, tetapi sebenarnya menyindir. Orang lain bisa merasa diserang meski tidak disebut langsung,” jelasnya.
Situasi bisa semakin memanas ketika anggota grup lain ikut terpancing emosi. Diskusi kecil pun berpotensi berubah menjadi konflik terbuka karena berlangsung di ruang publik digital.
Baca Juga: Mengenal Risiko Doxing Saat Menagih Utang Melalui Jalur Viral Media Sosial
Kendalikan Respons, Bukan Situasi
Menghadapi grup yang penuh gosip atau percakapan tidak nyaman, Anelies menyarankan untuk fokus pada hal yang bisa dikendalikan, yaitu respons diri sendiri.
“Kalau ada gosip yang tidak nyaman, kita bisa memilih tidak terlibat. Tidak semua hal harus ditanggapi,” katanya.
Namun, jika komentar ditujukan langsung kepada kita, penyelesaian sebaiknya dilakukan secara personal, bukan di grup.
“Lebih dewasa jika dibicarakan lewat chat pribadi atau langsung. Tidak perlu berdebat di grup karena hanya memperkeruh suasana,” tambahnya.
Baca Juga: Hati-Hati Flexing Ibadah di Media Sosial, Ini Bahaya Sum’ah yang Bisa Menghapus Pahala
Etika Keluar dari Grup
Soal keluar dari grup tanpa pamit, etika sangat bergantung pada konteks. Untuk grup formal seperti kantor, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu. Sementara itu, grup informal cenderung lebih fleksibel, meski tetap lebih sopan jika berpamitan.
Memberikan alasan saat keluar grup bersifat opsional. Namun, alasan netral seperti keterbatasan memori ponsel atau terlalu banyak grup bisa membantu menghindari kesalahpahaman.
“Yang penting tetap menjaga sopan santun, baik di grup formal maupun informal,” ujarnya.
Jangan Asal Memasukkan Orang ke Grup
Anelies juga menyoroti kebiasaan memasukkan orang ke grup tanpa persetujuan. Dari sisi etika, hal ini dinilai kurang tepat.
Baca Juga: Viral di Media Sosial, Polres Ketapang Tak Temukan Tambang Emas Ilegal di Jelai Hulu
“Lebih baik tanya dulu secara personal apakah orang tersebut bersedia. Jangan tiba-tiba dimasukkan ke grup yang belum tentu relevan,” tegasnya.
Jika terlanjur dimasukkan ke grup yang tidak relevan, keluar tanpa izin bukanlah hal yang salah, terutama jika anggota grup tidak dikenal. Namun, sebagai langkah yang lebih elegan, tetap disarankan memberi tahu secara personal kepada pihak yang mengundang.
Kunci Komunikasi Sehat di Grup
Sebagai panduan sederhana, Anelies menekankan pentingnya prinsip saling menghargai dalam komunikasi digital. Hindari memicu konflik, gosip, atau ujaran yang dapat menyinggung pihak lain.
“Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Dengan begitu, semua bisa merasa nyaman di ruang digital,” pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya