PONTIANAK POST - Liburan ternyata bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi memiliki dampak nyata bagi kesehatan mental.
Hal ini diungkap oleh dokter sekaligus edukator kesehatan, dr Adam Prabata, melalui unggahannya di X pada (16/5).
Ia mengutip hasil penelitian yang menunjukkan bahwa liburan dapat menurunkan stres, mencegah burnout, hingga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Liburan Terbukti Berdampak pada Kesehatan Mental
Dalam unggahannya, Adam Prabata mengaku terkejut setelah membaca hasil studi yang meneliti hubungan antara kebiasaan liburan dan kondisi mental seseorang.
“Gua kaget pas tahu bahwa ternyata liburan bisa bermanfaat untuk kesehatan,” tulisnya.
Penelitian tersebut melibatkan sekitar 200 responden yang dipantau selama satu tahun. Fokusnya adalah pada durasi dan frekuensi liburan, lalu dibandingkan dengan kondisi mental mereka, mulai dari tingkat stres, burnout, hingga well-being.
Turunkan Stres hingga Tingkatkan Kualitas Hidup
Hasil penelitian yang dibagikan Adam menunjukkan dampak signifikan dari liburan terhadap kesehatan mental.
Baca Juga: Tips Liburan Tenang untuk Introvert agar Energi Tetap Terjaga dan Bahagia
“Liburan beneran terbukti menurunkan stres, mengurangi risiko burnout, meningkatkan kualitas hidup, dan bikin well-being secara keseluruhan lebih baik,” jelasnya.
Temuan ini menegaskan bahwa mengambil jeda dari rutinitas bukan sekadar kebutuhan emosional, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Durasi dan Frekuensi Liburan yang Ideal
Tak hanya soal manfaat, Adam juga mengungkap pola liburan yang paling efektif berdasarkan penelitian tersebut.
“Durasi liburan yang paling optimal adalah 1–2 minggu, dan frekuensi terbaik adalah 3–4 kali per tahun,” ungkapnya.
Artinya, liburan dengan durasi sedang namun dilakukan lebih sering dinilai lebih baik dibandingkan satu kali liburan panjang dalam setahun.
Jangan Tunggu Burnout untuk Beristirahat
Pesan penting lain yang disampaikan adalah pentingnya mengambil waktu istirahat sebelum kondisi mental memburuk.
Baca Juga: Gen Z Kapok Liburan Viral, Ini Alasan Mereka Ogah ke Tempat Ramai
“Jadi bukan soal ‘liburan panjang sekali setahun’, tapi liburan lebih sering dalam durasi yang pas yang justru paling baik buat mental,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunda waktu rehat hingga stres atau burnout benar-benar terjadi.
Liburan Jadi Bagian dari Gaya Hidup Sehat
Unggahan ini memicu kesadaran baru bahwa liburan bisa menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan mental.
Di tengah tekanan pekerjaan dan aktivitas harian, jeda yang terencana justru dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang.
Dengan momentum long weekend yang kerap datang, rekomendasi ini menjadi relevan bagi banyak orang: merencanakan liburan bukan lagi soal kemewahan, melainkan kebutuhan.
Editor : Miftahul Khair