Salah Sebut Nama Orang? Ini Cara Memperbaikinya Tanpa Menambah Rasa Canggung

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 10:44 WIB
Ilustrasi seorang pria lupa nama teman yang menyapanya. (AI)
Ilustrasi seorang pria lupa nama teman yang menyapanya. (AI)

PONTIANAK POST - Lupa nama seseorang saat sedang berbincang merupakan situasi yang cukup sering dialami banyak orang. Baik dalam pertemuan santai maupun acara formal, momen ini bisa terasa canggung jika tidak disikapi dengan tepat.

Dilansir dari Jawapos, Founder Digital Etika Edgar Bayu Refansyah MSi, menjelaskan cara seseorang merespons kelupaan justru mencerminkan penghargaan terhadap lawan bicara.

Lupa Nama Itu Wajar, Jangan Panik

Nama bukan sekadar panggilan, melainkan bagian dari identitas seseorang. Karena itu, meski lupa adalah hal yang manusiawi, etika tetap mengharuskan seseorang menunjukkan sikap hormat kepada lawan bicara.

Baca Juga: Etika Bermedia Sosial Penting Agar Unggahan Liburan Tidak Menimbulkan Masalah

Bayu mengatakan, kondisi tersebut kerap dialami, terutama oleh orang yang setiap hari bertemu banyak orang.

"Ketika berada di situasi ini, kuncinya tetap tenang. Jangan panik dan tetap gunakan panggilan yang sopan agar percakapan berjalan nyaman," ujarnya.

Menurut Edgar, banyak orang memilih berpura-pura masih mengingat nama lawan bicara demi menghindari rasa malu. Padahal, cara tersebut justru berisiko membuat keadaan semakin canggung.

Baca Juga: Cara Mengakhiri Hubungan Secara Dewasa: 6 Etika Putus Cinta Tanpa Harus Menghancurkan Mental Pasangan

"Berpura-pura ingat mungkin terasa seperti jalan pintas, tapi bisa membuat situasi lebih canggung, apalagi jika sampai salah menyebut nama," jelasnya.

Lebih Baik Jujur daripada Salah Menyebut Nama

Edgar menilai kejujuran merupakan pilihan paling aman sekaligus elegan ketika lupa nama seseorang. Mengakui lupa bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan menunjukkan keinginan untuk memperbaiki situasi.

Baca Juga: Tiga Batas Etika Keep Tempat yang Perlu Dipahami Masyarakat

Ia menyarankan menggunakan kalimat sederhana saat ingin menanyakan kembali nama lawan bicara.

"Misalnya, 'Maaf, boleh diingatkan lagi namanya?' atau 'Saya mau pastikan, namanya siapa ya?'," tuturnya.

Menurut Edgar, penyampaian yang santai, tulus, dan tidak berlebihan akan lebih mudah diterima. Nada bicara yang tenang juga membantu menjaga percakapan tetap nyaman.

Hindari Kalimat yang Bisa Menyinggung

Selain mengetahui kalimat yang tepat, penting pula menghindari ungkapan yang berpotensi membuat orang lain tersinggung. Edgar mencontohkan pertanyaan seperti "Kamu siapa ya?" atau "Aku lupa kamu yang mana" sebaiknya tidak digunakan.

Baca Juga: Budaya Permisif Bikin Etika Merokok dan Buang Puntung Sering Diabaikan

"Nada meremehkan atau terlalu santai juga bisa berdampak negatif. Intinya, hindari kalimat yang membuat orang lain merasa tidak penting untuk diingat," tegas Edgar.

Ia juga mengingatkan bahwa etika di lingkungan profesional berbeda dengan lingkungan pertemanan. Dalam dunia kerja, nama berkaitan erat dengan kredibilitas dan kesan pertama.

"Sementara di lingkungan pertemanan, biasanya lebih santai dan mudah dimaklumi. Tapi pada keduanya, tetap penting untuk menghargai orang lain sebagai individu," katanya.

Baca Juga: Jangan Panik Saat Mendengar Sirene Ambulans, Ini Etika Berkendara yang Benar

Manfaatkan Bahasa Tubuh agar Situasi Tetap Nyaman

Menurut Edgar, situasi formal seperti rapat atau acara kantor membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah memperkenalkan diri terlebih dahulu agar lawan bicara secara otomatis kembali menyebutkan namanya.

"Biasanya lawan bicara akan otomatis menyebutkan namanya kembali," sambung Edgar.

Selain itu, name tag, daftar peserta, maupun bantuan rekan lain juga dapat dimanfaatkan tanpa membuat situasi menjadi canggung.

Baca Juga: Etika Mengkritik Pemerintah Lewat Media Sosial Perlu Dijaga Warga

Edgar menambahkan bahwa komunikasi nonverbal memiliki peran besar dalam mencairkan suasana.

"Senyum ringan, kontak mata, dan nada suara yang tenang bisa membuat situasi lebih cair," ungkap Edgar.

Apabila telanjur salah menyebut nama, ia menyarankan untuk segera mengoreksinya tanpa berlarut-larut.

"Cukup bilang, 'Maaf, tadi saya salah sebut, harusnya…' lalu lanjutkan percakapan," ujarnya. (*)

Editor : Chairunnisya
Edgar Bayu sopan santun salah sebut nama etika profesional komunikasi