Kerajinan seni ukir siluet karikatur barangkali menjadi alternatif hadiah yang bisa diberikan kepada orang terkasih. Di Pontianak, kerajinan ini mampu dibuat oleh Muhammad Syahdan (25). Sudah hampir tiga tahun pemuda Sambas itu menggeluti usaha kerajinan tersebut.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Gerakan tangan Syahdan amat cekatan ketika mengoperasikan mesin gergaji scroll saw untuk mengukir cetakan sketsa wajah di atas sepotong triplek ukuran A4. Gerakan tangannya mengikuti pola sketsa hingga bagian yang digergaji terlepas. Bagian ini menjadi salah satu proses tersulit dalam pembuatan kerajinan seni ukir siluet karikatur.
“Proses mengukir ini memakan waktu satu setengah hingga dua jam,” kata Syahdan, ketika ditemui di lokasi usahanya di Jalan Sulawesi, Gang Keluarga, Pontianak.
Sebelum triplek diukir, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Foto wajah akan dilakukan penyuntingan via digital hingga menghasilkan gambar siluet. Foto itu selanjutnya dicetak di kertas A4 dan ditempel di triplek. Barulah kemudian akan dilakukan pengukiran sesuai dengan sketsa gambar yang sudah ditempel tersebut.
“Setelah selesai diukir, selanjutnya kertas yang menempel dilepaskan, lalu bagian yang tadinya diukir diamplas. Proses selanjutnya adalah pengecatan dan pengeringan, dan tahap akhir adalah diberi bingkai,” jelas dia.
Keseluruhan proses ini memakan waktu sekitar tiga hari untuk diselesaikan, hingga kerajinan ukir siluet wajah sampai ke tangan pemesan. Kerajinan hasil buah tangannya ini dijual dengan harga Rp150 ribu. Biasanya pemesan adalah orang yang ingin memberi hadiah unik pada orang lain. Kerajinan ini paling sering dipesan untuk hadiah wisuda.
Syahdan memulai usaha kerajinan ukir siluet wajah sejak tahun 2017. Mahasiswa lulusan Prodi Seni Universitas Tanjungpura ini memang terlahir dengan bakat seni, yang kemudian terus ia asah. Ia kerap dipercaya untuk membuat dekorasi sebuah panggung pertunjukan. Lewat tangan kreatifnya, item-item kerajinan yang diperlukan untuk kebutuhan dekorasi ia hasilkan sendiri. Bakatnya ini lantas banyak diketahui oleh teman-temannya.
“Sekitar tahun 2017, ada kawan coba minta buatkan ukiran sketsa wajah untuk dijadikan hadiah. Waktu itu dia yakin kalau saya bisa,” katanya.
Permintaan itu lantas coba dipenuhi. Berbagai referensi dicarinya melalui mesin pencarian digital. Meski dirasanya sulit lantaran gergaji yang ia gunakan masih gergaji manual, namun kerajinan itu pada akhirnya mampu ia buat. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Kawannya begitu puas.
Iseng-iseng diunggah ke media sosial, ternyata tidak sedikit yang bertanya dan minta untuk dibuatkan. Karena itulah, di tahun yang sama pula, ia menseriusi kerajinan itu untuk dibisniskan. Nama ‘Kembang Hitam’ dipilihnya sebagai nama usahanya itu. Nama ini pula ia gunakan sebagai nama akun instagram.
“Kembang maknanya berkembang. Sementara hitam menggambarkan siluet, yang memang identik dengan dasar hitam yang terpancar,” jelas dia.
Semakin sering diunggah ke sosial media, semakin banyak yang tahu dan mengakui hasil karyanya. Alhasil, pesanan mulai membanjiri. Tapi kala itu ia masih kesulitan membuat kerajinan dengan cepat karena alat-alat yang ia gunakan masih manual. Karena itulah, ia mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli alat otomatis, terutama mesin gergaji scroll saw untuk mengukir cetakan.
“Dulu ada mengajar tari di sekolah. Uangnya sedikit-sedikit ditabung untuk beli alat,” kata dia.
Syahdan mempromosikan hasil kerajinannya itu melalui media sosial Instagram dan aplikasi Tiktok. Jumlah pemesanannya memang tidak tentu, tetapi ada masanya pesanan justru membludak. Pada saat banyak pesanan, terkadang ia melibatkan satu hingga dua orang temannya untuk membantu.
“Terutama saat dekat acara wisuda. Mulai banyak yang pesan. Pernah dalam waktu dua minggu ada 30 buah yang harus saya kerjakan,” kata dia.
Meski biasanya pengerjaan selesai dalam tempo waktu sekitar tiga hari, namun dia menyarankan pemesanan dilakukan lima hari atau satu minggu sebelum pesanan diambil. Dengan kelonggaran waktu ini, dirinya bisa lebih leluasa saat membuat kerajinan. Apalagi dalam proses pembuatan, kadang terjadi kesalahan atau hal-hal yang tidak diinginkan sehingga perlu mengulangnya dari awal.
“Sebanarnya salah satu hambatan kami saat ini adalah kualitas triplek lokal yang kurang bagus. Triplek yang kurang berkualitas ini kadang lebih mudah patah. Itu terjadi biasanya karena ada bagian yang bolong pada lapisan triplek. Kalau sudah patah, gak bisa disambung jadi harus diulang lagi,” papar dia.
Pesanan Mengalir Lewat Tiktok
Syahdan tak pernah menyangka video singkat tentang proses pembuatan kerajinan ukir sketsa wajah yang diunggah ke akun Tiktok yang ia miliki bakal mendatangkan pundi-pundi rezeki. Dari sana, ia banyak mendapat pelanggan. Tak hanya di Pontianak saja, ia juga menerima pesanan dari luar Kalimantan, bahkan hingga negara tetangga.
“Banyak yang tanya kerajinan ukir ini sejak saya masukan video lewat aplikasi Tiktok,” tutur pria asal Kabupaten Sambas ini.
Wajah aplikasi buatan China ini menurutnya sudah jauh berubah. Tidak sekedar aplikasi yang menampilkan tarian-tarian kreatif yang kerap viral, namun aplikasi yang didirikan oleh Zhang Yiming ini telah berubah menjadi media yang membuka akses ke pangsa pasar yang lebih luas. Terlebih pengguna aplikasi ini setiap waktu mengalami pertumbuhan jumlah. Baginya, hal tersebut adalah peluang besar.
“Kalau di Tiktok itu algortimanya berbeda. Kita yang bukan selebgram dan sedikit pengikut bisa saja dikenal dengan mudah oleh pengguna lain. Tergantung konten videonya lagi,” ucap dia.
Kini pesanan yang ia terima datang dari berbagai daerah di tanah air. Permintaan juga pernah datang dari Malaysia, namun pada akhirnya ia tolak karena belum mengetahui dengan pasti mekanisme pembayarannya. Ke depan, ia akan lebih mencari tahu tentang transaksi perbankan antarnegara agar pangsa pasarnya bisa jauh lebih luas lagi. (*)
Editor : Administrator