Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Padang Tikar Produksi 5,6 Ton Madu

Super_Admin • Senin, 26 Juli 2021 | 11:52 WIB
ANGKAT IKAN: Nelayan ikan jermal di Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Nelayan di sana menggunakan alat tangkap jermal sebagai cara menangkap ikan, meski sekarang mulai berkurang penggunaan alat tangkap tersebut. HARYADI/PONTIANAK POST
ANGKAT IKAN: Nelayan ikan jermal di Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Nelayan di sana menggunakan alat tangkap jermal sebagai cara menangkap ikan, meski sekarang mulai berkurang penggunaan alat tangkap tersebut. HARYADI/PONTIANAK POST
Total lahan mangrove Kubu Raya mencapai 129.604,125 hektare. Terdapat keanekaragaman flora dan fauna yang langka antara lain bakau mata buaya yang hanya terdapat di empat negara yaitu Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Indonesia. Di hutan mangrove Kubu Raya juga terdapat 33 jenis mangrove sejati dari 40 jenis mangrove sejati yang ada di Indonesia.

 

Hutan mangrove merupakan penyangga bagi kehidupan masyarakat pesisir. Kekayaan hasil hutan bukan kayunya, pelan tapi pasti tumbuh sebagai akar penopang perkonomian warga pesisir. Kini mangrove tak sekadar oikos bagi hewan dan tumbuhan. Tetapi mampu mensejahterakan perekonomian manusia sebagai penjaga mangrove.

Catatan: MIRZA A. MUIN

PESONA Kalbar Hijau (PKH) Provinsi Kalimantan Barat mencatat di Desember 2020 angka penjualan madu mangrove mencapai 5,6 ton lepas di pasaran. Angka tersebut, merupakan penjualan madu yang diambil dari pemuar madu, di wilayah Bentang Pesisir Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya. Angka itu sebenarnya bisa lebih besar.

Apalagi melihat luasan Hak Pengelolaan Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar. Di mana areal izinnya sebesar 36.422 hektare hutan mangrovenya. Angka tersebut jelas menggambarkan betapa banyak  hasil alam bukan kayu yang bisa dikelola secara lestari.

Photo
Photo


Dede Purwansyah, owner PKH Kalbar, memperkirakan, angka penjualan madunya sebenarnya bisa tembus hingga 10 ton. Namun karena ketiadaan modal, besaran sumber daya alam, bukan kayu jenis madu, tak mampu ditampungnya.

Madu di hutan mangrove Bentang Pesisir Padang Tikar sendiri, kini makin dikenal masyarakat. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Penjualan madu moncer. Selain rasanya manis, madu juga bermanfaat, buat menjaga daya tahan tubuh, sehingga yang mengkonsumsi tidak mudah sakit.

Pasokan madu yang didapatnya, langsung dari pemuar madu di sana. PKH sendiri, kata dia, juga miliki program asistensi bagaimana pemuar madu dapat meraih cuan dari hutan hasil madu, namun tidak lantas menghabiskan madu tersebut dengan cara pengambilan yang membabi buta. “Fungsi ekologi harus dijaga namun masyarakat juga merasakan dampak ekonomi dari hutan mangrove. Ini terus kami tanamkan,” ujar Dede kepada Pontianak Post, kemarin.

Caranya dengan melakukan panen lestari dengan menggunakan alat yang bersih sesuai prosedur dan tidak melakukan sistem peras, melainkan sistem tiris. Dede melanjutkan, pemanenan madu juga tidak dilakukan dengan  menebang pohon, melainkan dengan memanjat. Setiap panen madu, tidak lantas dihabiskan mereka agar lebah tetap berkembang biak. Sama halnya dengan pemanenan madu jenis kelulut yang bersarang di hutan mangrove, tidak lantas ditebang dengan sistem log. Melainkan mereka membuat jalur transit ke setup baru.

Dalam pencarian madu, mereka menggunakan kelompok. Survei tahap pertama dilakukan mereka. Setelah itu barulah kelompok ini membagi tugas untuk mengambil madu. Caranya dengan menyisakan sarang, dan tetap diolesi madu di dahan mangrove agar sisa madu ke depan  bisa dipanen kembali. Dengan menggunakan teknik ini, lebah cepat bersarang dan koloni kelulut tetap ada di kayu bakau, tumok dan jenis pohon mangrove di hutan.

PKH dalam hal ini, terus melakukan asistensi pendampingan pada pemuar madu. Tujuannya agar mempertahankan hutan mangrove tetap lestari. Apa yang dilakukan ini, menurut dia, sudah dipraktikkan para pemuar. Namun hal ini, diakui dia, belumlah kuat, di mana membutuhkan proses pendampingan berkelanjutan. “Makanya pendampingan sangat perlu di lapangan,” ujarnya.

PKH sendiri bekerja sosial enterprise. Yakni bagaimana masyarakat menjaga dan mengelola hutan tetapi juga bisa merasakan manfaat ekonomi secara nyata. Inilah yang ia sebut proteksi dan produksi. Jadi, melakukan kegiatan usaha berkelanjutan dan menyisihkan untuk pengelolaan hutan sejauh ini masih taktis. “Meski belum rapi, tapi saya yakin ke depan mereka akan  mampu mengembangkan skema ini,” ujarnya.

Menurut Dede pendampingan harus tetap dilakukan. Dengan memiliki pengetahuan dan  pembekalan dasar tentang pemanenan madu lestari, mereka juga dapat menjaga dan mengelola hutan mangrove namun tetap mendapatkan nilai ekonomi. “Skema proteksi fund sejauh ini tetap dilakukan. Dari keuntungan jualan madu, kami sisihkan Rp20 ribu untuk peritem produk dan petani dan Rp5 ribu dari laba bersih untuk kegiatan di lapangan,” tandasnya.

Sumarlin, salah satu pemuar madu di Desa Nipah Panjang, merasakan begitu besar dampak kebaradaan hutan mangrove bagi hidupnya. Sejak beberapa tahun terakhir, potensi madu mangrove dan kelulut menjadi salah satu sumber mata pencahariannya. Ia pun merasakan betul perekonomian keluarganya perlahan makin membaik.

Dulu, rumahnya masih berbahan kayu. Namun sekarang rumah yang ia dirikan sudah permanen. Begitu pula dengan biaya anak sekolah dan dapur kini tak pernah kosong. Pemasukan dari penjualan madu benar-benar menjanjikan.

Agar ketersediaan akan madu mangrove tetap terjaga. Panen di hutan mangrove juga dilakukan dengan cara-cara lestari. Dengan demikian ketersediaan akan madu alami di hutan mangrove terjaga. Ia pun bisa tetap mendapatkan pemasukan dari penjualan madu ini. (*) Editor : Super_Admin
#Mangrove #madu #Hari Magrove Sedunia