Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Sawit di Kalbar Alami Stagnasi

A'an • Rabu, 21 Februari 2024 | 10:58 WIB
ILUSTRASI : Pengusulan program sawit rakyat tahun 2024 telah dilakukan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau.
ILUSTRASI : Pengusulan program sawit rakyat tahun 2024 telah dilakukan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau.

PONTIANAK - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Barat sepanjang 2023 hingga awal tahun 2024 cenderung mengalami stagnasi. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Kalimantan Barat, Marjitan mengatakan harga TBS tidak pernah lagi menyentuh angka tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. 

“Sepanjang tahun 2023 hingga sampai sekarang, perkembangan harga TBS hampir stagnan pada angka Rp2.300-2.600 per kg,” ungkapnya, Senin (19/2).

Angka ini menurutnya baik dan cukup memberikan keuntungan bagi petani sawit. Harga TBS tersebut tentunya lebih baik dibandingkan pasca aturan pencabutan ekspor pada Mei 2022 yang lalu. 

“Setelah pencabutan ekspor waktu itu memang sedikit demi sedikit, pelan-pelan harga mengalami meningkat,” ujarnya. 

Marjitan mengatakan harga TBS sawit pernah mengalami lonjakan yang tinggi hingga tembus Rp3.000 per kg. Capaian tersebut terakhir kali tercatat terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. 

Ia mengatakan, perkembangan harga sawit dua tahun terakhir tidak ada kenaikan yang signifikan. Ia pun tak berharap terlalu besar harga TBS bisa seperti tiga tahun yang mencapai harga tertinggi.

“Boleh saja kita optimis (harga tembus Rp3.000), tapi kalau memang tidak bisa, kita berharap tidak turun lagi, minimal bertahan di situ (harga sekarang,red) ,” ujarnya.

Penurunan harga sawit menurutnya akan membuat petani semakin sulit dan industri sawit bergejolak. Terlebih, biaya operasional sawit juga tidak murah. 

Ia tidak tahu persis alasan TBS sawit sulit untuk kembali naik ke harga tertinggi. Pantauan Aspekpir Kalbar, sejauh ini permintaan pasar berjalan normal, artinya tidak mengalami kekurangan tapi tidak juga berlebihan.

Sementara itu, tambah dia, harga sawit awal tahun ini terpantau masih cukup baik di tengah produksi yang mengalami penurunan karena kemarau terjadi beberapa bulan yang lalu. “Kondisi harga masih cukup lumayan, seperti di Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi seharga Rp2.560 per kg untuk umur 10-20 tahun,” ujarnya.

Tahun ini, tantangan industri sawit bagi petani adalah cuaca yang tidak menentu. “Sesekali hujan, siang dan malam, dan ini berpengaruh kepada sistem perawatan,” imbuhnya. 

Tantangan lainnya adalah tingginya harga pupuk yang semakin menyulitkan petani. Pihaknya berharap pemerintah bisa membantu memfasilitasi petani untuk mendapatkan pupuk dengan harga yang terjangkau. 

Ketua Asosiasi Petani Kelapa sawit Indonesia (Apkasindo) Kalbar, Indra Rustandi mengakui harga TBS masih sulit untuk tembus Rp3.000 per kg. Menurutnya, hal ini karena harga CPO & PK yang belum stabil.

“Harga CPO & PK yang belum stabil itu yang menyebabkan harga TBS tingkat petani jadi sulit menebus harga Rp3.000an,” katanya. 

Harga menurutnya akan naik bila kebijakan B35 dilaksanakan dan ekspor mengalami peningkatan. “Kalau terjadi, maka dipastikan harga akan semakin baik,” imbuhnya. 

Menurutnya, tantangan terbesar industri sawit adalah meyakinkan pembeli CPO di Eropa bahwa sawit Indonesia baik dan berkelanjutan. Dirinya berharap tidak ada lagi kampanye negatif tentang sawit.

Faktor iklim atau cuaca yang tidak menentu dari pengalaman sebelumnya menurut Indra, tidak terlalu berpengaruh bagi petani di kebun karena masih bisa menghasilkan. Kondisi ini masih lebih baik dari pada sawit yang tak laku ke pabrik karena CPO tak terjual di pasar luar negeri. (sti)

 

Editor : A'an
#TBS #pk #CPO #sawit