PONTIANAK POST - Peminat Kajian Sejarah Kalimantan Barat, Syafarudin Usman mendorong agar Kota Pontianak memiliki museum. Dengan adanya museum, Pontianak akan menjadi pusat edukasi dan wahana apresiasi sejarah dan budaya kota.
“Adanya sebuah museum kota, menjadi pusat pelestarian dan wahana inspirasi terutama bagi generasi muda dalam memahami serta mengapresiasi perjalanan panjang keberadaan Kota Pontianak khususnya,” katanya kepada Pontianak Post, Selasa (29/4).
Tentu sekali keinginan ini harus didukung berbagai pihak, terutama Pemkot Pontianak dan legislatif. Sebab untuk menjadikan museum Pontianak, mekanismenya ada di dua lembaga tersebut.
Keberadaan museum Kota Pontianak kata dia sudah seharusnya dibangun. Museum ini untuk mengcover berbagai hal yang menjadi wahana pelestarian dan sekaligus pembudayaan jiwa semangat serta nilai sosial dan budaya Kota Pontianak dengan bercermin pada pembelajaran sebuah perjalanan panjang keberadaan kota ini.
Ia berharap, Pemkot Pontianak dapat segera mewujudkan harapan ini. Untuk dijadikan objek museum Kota Pontianak, setidaknya ada beberapa alternatif. Bisa di SD Negeri 16 yang berada di Jalan Tamar, ini bangunan tua dan sangat legendaris tentu sekali sebagai saksi sejarah perjalanan kota ini. Atau, bekas kantor Pos di Jalan Rahadi Osman yang serupa juga SD di Jalan Tamar, memiliki nilai sejarah yang panjang.
“Saat rapat bersama dewan, kami sudah menyampaikan aspirasi tentang perlunya Kota Pontianak memiliki museum. Dan saat ini mengharapkan dewan bisa menyerap serta mendukung aspirasi ini,” katanya.
Sebelumnya pada awal Januari lalu, Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mendorong agar Pemerintah Kota Pontianak mewacanakan pembangunan museum. Dalam museum itu bisa diisi dengan berbagai barang peninggalan dan sejarah tentang Kota Pontianak.
“Salah satu daya tarik suatu kota adalah cerita tentang sejarah kotanya. Saya ingin jika ke depan Pontianak juga memiliki satu gedung museum. Di dalam museum itu, para pengunjung bisa melihat berbagai sejarah tentang kota ini. Baik informasi dari literasi sampailah ke barang-barang peninggalan zaman dulu,” ujarnya.
Untuk ruangan museum, dirasa dia bisa dipikirkan Pemkot Pontianak. Kalau dia pribadi malah berpikir jika keberadaan gedung tua yang masuk kategori cagar budaya bisa diubah peruntukannya buat ruang museumnya.
Seperti Kantor Pos lama tak jauh dari kantor Wali Kota Pontianak, atau eks Bank Indonesia dilokasi yang sama, ini bagus. Jika dikomunikasikan dimungkinkan niat baik ini bisa terwujud.
Menurutnya, dengan mempertahankan wajah tempo dulu untuk Museum Pontianak, kerja Pemkot mewujudkan Museum tak begitu sulit. Tinggal PR nya ke depan, memikirkan konsep museum serta isi dari museum tersebut.
Berbagai sumber literasi tentang sejarah Kota Pontianak bisa menjadi dasar untuk kesiapan apa saja yang bakal ditampilkan oleh Museum Kota Pontianak ini. Kemudian tinggal diinovasikan kembali, agar tampilan berbagai sejarah kota ini tersampaikan dengan baik. Sehingga ketika masyarakat masuk ke museum tersebut, tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja, melainkan juga pengalaman yang mengesankan.
Lebih dalam kata dia, saat ini beberapa rumah makan, restoran dan warung kopi kerap menampilkan wajah kota lama Pontianak dengan memajang foto tempo dulu. Seperti foto-foto lama menceritakan bagaimana transportasi pada zaman dulu yang menggunakan jalur sungai dan parit. Bagaimana keperkasaan pasar di tepian Sungai Kapuas sebagai denyut nadi perdagangan kota lama.
Terpisah Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengingatkan bahwa pengelolaan arsip yang baik mendukung terciptanya tata kelola pemerintahan yang transparan, efektif dan efisien.
"Implementasi regulasi ini sangat krusial untuk menjamin arsip yang autentik, utuh dan terpercaya sebagai bukti akuntabilitas kinerja pemerintahan," katanya.
"Kearsipan menjadi bagian penting dari upaya kami dalam membangun tata kelola pemerintahan yang adaptif, kolaboratif dan berbasis teknologi informasi. Kami mengajak semua pihak untuk belajar dan berkolaborasi demi mewujudkan Pontianak yang lebih maju," tutupnya.(iza)
Editor : Hanif