Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Wagub Krisantus Buka Pekan Gawai Dayak ke-39: Jadi Momentum Lestarikan Budaya

Novantar Ramses Negara • Kamis, 22 Mei 2025 | 11:00 WIB
DIBUKA: Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak ke-39 di Rumah Radakng, Pontianak, Selasa (20/5).
DIBUKA: Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak ke-39 di Rumah Radakng, Pontianak, Selasa (20/5).

PONTIANAK POST - Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak ke-39 di Rumah Radakng, Pontianak, Selasa (20/5).

Pembukaan Gawai Dayak ditandai dengan pemukulan kangkluang oleh Wagub Kalbar Krisantus dilanjutkan dengan pemberian plakat dari Panitia Gawai Dayak kepada seluruh para tamu undangan VIP yang hadir pada acara tersebut.

Acara PGD ini akan menjadi puncak dari serangkaian acara yang dimulai dari tanggal 15 Mei. Gawai Dayak sendiri diperingati sebagai perayaan dalam merayakan akhir musim panen. PGD kali ini dilaksanakan hingga 24 Mei 2025.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat mengajak seluruh masyarakat Dayak untuk menjadikan Pekan Gawai Dayak ke-39 sebagai momentum untuk memperkuat jati diri, melestarikan budaya, dan menjaga ketertiban dalam perayaan adat.

“Tadi saya sampaikan kepada seluruh warga Dayak, agar memberikan contoh bahwa Dayak itu cerdas, bermartabat, punya integritas, dan cinta kasih,” kata Krisantus.

Ia menekankan pentingnya menjaga budaya sebagai jati diri bangsa. Menurutnya, jika tidak dilestarikan melalui forum atau kegiatan kebudayaan seperti Pekan Gawai Dayak, maka lambat laun identitas suku maupun bangsa akan terkikis.

“Saya yakin, Pekan Gawai Dayak kali ini akan menjadi acara yang rapi, santun, dan dapat dijadikan contoh bagi suku-suku lain di Indonesia. Ini bisa menjadi pilot project untuk acara adat yang tertib dan berbudaya,” ujarnya.

Krisantus juga menyinggung pentingnya menjaga etika selama perayaan. Ia mengimbau agar masyarakat tidak berlebihan dalam merayakan, khususnya dalam hal mengonsumsi alkohol.

“Mabuk-mabukan lalu diviralkan lewat video, itu tidak baik. Minum secukupnya saja, sebagai syarat adat, kita punya batas kemampuan fisik,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar Cornelius Kimha menambahkan bahwa pelestarian budaya harus melampaui acara seremonial seperti gawai. Ia mendorong agar identitas budaya Dayak juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Selama ini, budaya Dayak hanya terlihat saat gawai. Padahal, budaya harus menjadi bagian dari keseharian kita. Contohnya masyarakat di Kapuas Hulu dan Sintang, ibu-ibu di pasar masih memakai simpolo (aksesoris kepala tradisional) hampir setiap hari,” kata Cornelis.

Ia juga menyatakan bahwa eksistensi masyarakat Dayak yang terus menjaga adat selama lebih dari 40 tahun merupakan bentuk kontribusi terhadap keutuhan bangsa yang ber-bhineka.

“Kita tidak perlu malu menunjukkan identitas. Identitas inilah yang menjadi jati diri dan kebanggaan kita sebagai bangsa yang majemuk,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Kalbar II Adrianus Asia Sidot, menyoroti makna Gawai sebagai perayaan panen yang juga harus dijadikan refleksi atas kondisi ketahanan pangan di daerah.

“Pekan Gawai Dayak ini merupakan momen syukur atas hasil panen. Namun kita juga perlu introspeksi: mampukah Kalimantan Barat berswasembada pangan tanpa bergantung dari luar?” katanya.

Menurut Adrianus, program utama Presiden Prabowo Subianto dalam periode mendatang akan fokus pada ketahanan pangan, energi, dan air. Hal ini sejalan dengan isu global seperti perubahan iklim dan menurunnya produksi pangan di banyak negara.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah pola pikir soal pangan, bahwa pangan lokal seperti jagung, ubi, dan sagu memiliki nilai gizi yang tinggi dan harus diangkat martabatnya.

“Dulu orang yang makan jagung atau ubi dianggap miskin. Itu harus diubah. Kita harus bangga dengan pangan lokal kita. Ketahanan pangan bukan hanya soal beras, tapi soal keberagaman sumber pangan,” ujarnya.

Adrianus juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk TNI dan Polri, dalam mendukung produksi pangan nasional untuk menjaga stabilitas harga dan menekan impor bahan pangan.

Menambah kemeriahan pada PGD ini, seluruh para tamu dan undangan yang hadir disuguhkan oleh penampilan tarian suku etnis lainnya yang tergabung dalam organisasi Merah Putih Kalbar yang sekaligus menjadi rangkaian penutup pada PGD tersebut. (mse/r)

Editor : Hanif
#Rumah Radakng #PGD #Krisantus Kurniawan #pontianak #wakil gubernur #Pekan Gawai Dayak ke 39