Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketersediaan Pangan Kalbar Terjaga, Pemerintah Minta Pedagang Cari Sumber Pasokan Dalam Daerah

Siti Sulbiyah • Selasa, 24 Februari 2026 | 11:17 WIB

 

Ilustrasi bawang.
Ilustrasi bawang.

PONTIANAK POST – Proyeksi neraca ketersediaan dan kebutuhan pangan pokok di Kalimantan Barat periode Maret 2026 menunjukkan mayoritas komoditas dalam kondisi surplus. Namun, beberapa komoditas mencatatkan kecukupan hari yang tak sampai satu pekan ke depan.

Berdasarkan data proyeksi Dinas Ketahanan Pangan Kalbar, bawang merah dan bawang putih masih surplus tipis dengan rasio kecukupan masing-masing enam dan tujuh hari. Cabai besar dan cabai rawit juga dalam kondisi surplus, meski rasio kecukupan relatif pendek, yakni enam hari untuk cabai besar dan empat hari untuk cabai rawit.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar, Manto, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi terganggunya pasokan dari daerah luar provinsi. “Daerah pemasok dari luar Kalbar mengalami musim hujan dan banjir,” ujarnya, Senin (23/2).

Kondisi cuaca ekstrem tidak hanya memengaruhi hasil panen, tetapi juga distribusi dari sentra produksi ke daerah tujuan. Akibatnya, ketersediaan di pasar menjadi terbatas dan berpotensi memicu kenaikan harga.

Namun begitu, komoditas pangan lain terhitung masih aman. Beras misalnya masih dalam kondisi aman dengan total ketersediaan mencapai 306.488 ton dan rasio kecukupan mencapai 115 hari. Jagung juga menunjukkan surplus signifikan sebesar 75.534 ton dengan rasio kecukupan hingga 224 hari.

Komoditas gula pasir juga dalam kondisi aman dengan surplus 3.836 ton dan rasio 20 hari. Adapun minyak goreng menjadi komoditas dengan surplus terbesar, yakni 216.172 ton dengan rasio kecukupan hingga 1.391 hari.

Di sektor peternakan, diakuinya beberapa waktu yang lalu sejumlah daerah mencatat stok daging sapi menipis. Di Kota Singkawang misalnya, kata dia, pekan lalu pasokan sempat ditopang dengan mendatangkan belasan ekor sapi dari Kalimantan Tengah. 

Selain itu, di sejumlah daerah pedalaman, ia mengakui pelaku usaha melaporkan bahwa mereka mengalami kendala distribusi akibat keterbatasan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini turut memengaruhi kelancaran pasokan daging ke pasar.

Terbaru, lanjut dia, stok daging sapi/kerbau tercatat surplus 1.399 ton. “Hitungan kami sementara cukup untuk 84 hari,” ujarnya.

Untuk komoditas peternakan lainnya, seperti daging ayam ras dan telur tercatat masih aman. Daging ayam ras surplus 9.796 ton dengan rasio 41 hari, sementara telur ayam ras surplus 3.023 ton dengan rasio 14 hari.

Manto mengatakan Pemprov Kalbar terus memperkuat langkah pengendalian inflasi, terutama menyikapi menipisnya stok cabai dan bawang akibat terganggunya pasokan dari luar daerah.

“Barusan saya ikut rakor pengendalian inflasi lintas provinsi dan kabupaten se-Indonesia,” kata Manto.

Manto pun mengimbau para pelaku usaha agar tidak hanya bergantung pada pasokan dari luar provinsi. Ia meminta distributor dan pedagang mulai mencari alternatif sumber pasokan, khususnya dari dalam wilayah Kalbar.

“Kepada pelaku usaha kami minta mereka mencari alternatif untuk pemenuhan stok, terutama dari dalam wilayah Kalbar,” ujarnya.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalimantan Barat, Ignasius IK mengakui adanya kenaikan harga komoditas peternakan seperti daging sapi hingga daging ayam.

Meski demikian, ia memahami bahwa kenaikan harga bahan pangan pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) seperti Ramadhan sulit dihindari. Peningkatan kebutuhan masyarakat yang signifikan turut berdampak pada menipisnya stok sejumlah komoditas.

"Ini nggak bisa dihindari, karena kebutuhan itu seringkali meningkat sekian kali lipat," ujarnya.

Pihaknya bersama stakeholder lain terus memantau stok dan pergerakan harga pangan di lapangan. Selain pemantauan rutin, pihaknya juga telah menyiapkan langkah mitigasi dengan mendatangkan pasokan dari luar Kalbar apabila stok lokal tidak mencukupi.

"Dalam situasi ini, kita tidak memiliki pilihan lain selain mendatangkan pasokan dari luar Kalbar," kata dia.

Ignasius memastikan, berbagai persiapan sebenarnya telah dilakukan sejak jauh hari. Disbunnak dikatakannya telah mengimbau para peternak untuk meningkatkan produksi guna mengantisipasi lonjakan permintaan saat Ramadan.

"Jauh-jauh hari sudah kita himbau teman-teman untuk antisipasi, menjaga ketersediaan. Jangan sampai harga tinggi, barang tidak ada. Lebih mending harga agak naik sedikit, tapi barangnya tersedia dan masyarakat masih bisa mendapatkan," kata dia. (sti)

Editor : Hanif
#surplus #pangan #kalbar #bawang #cabai #pasokan pangan