PONTIANAK POST - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mempertimbangkan penggunaan kapal pengangkut berukuran kecil atau vinder sebagai alternatif untuk mengatasi kendala distribusi bahan pokok di daerah tersebut.
Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, mengatakan dukungan berbagai pihak diperlukan untuk memastikan kelancaran distribusi logistik yang sebagian besar masih bergantung pada jalur laut.
“Kami akan meminta dukungan berbagai pihak karena ini menyangkut kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan,” ujarnya.
Menurut Harisson, kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di masyarakat. Gangguan pada jalur distribusi berpotensi langsung memengaruhi pasokan komoditas di pasar.
Ia menambahkan pemerintah daerah memerlukan masukan dari para distributor untuk mengetahui kondisi riil distribusi bahan pokok di lapangan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan yang tepat.
“Kami ingin mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kendala yang dihadapi distributor, sehingga pemerintah daerah dapat mengambil langkah yang tepat dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan Kalbar, menyampaikan jika ketersediaan beras di Kalimantan Barat masih dalam kondisi aman. Namun sejumlah komoditas seperti kedelai, tepung terigu, dan bahan pakan ternak masih menghadapi tantangan distribusi karena sebagian besar pasokannya bergantung pada pengiriman melalui jalur laut.
Lalu perwakilan distributor kedelai dari Kapuas Lestari, Eko, mengungkapkan pasokan kedelai mengalami keterlambatan sejak Desember akibat penundaan pengiriman kapal dari beberapa jalur transit internasional.
“Biasanya kami memiliki cadangan stok minimal satu bulan. Namun saat ini stok yang tersedia sangat terbatas, bahkan hanya cukup untuk satu hingga dua hari penjualan,” ujarnya.
Selain keterlambatan kapal, distribusi logistik juga terkendala pendangkalan alur sungai yang membatasi operasional kapal berukuran besar. Kondisi ini menyebabkan proses bongkar muat harus menggunakan kapal yang lebih kecil, sementara jumlahnya masih terbatas.
Selanjutnya Pihak Pertamina memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di Kalimantan Barat masih dalam kondisi aman. Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi menjelang hari besar keagamaan, Pertamina menyiapkan tambahan sekitar 500 ribu tabung LPG serta mengoperasikan sejumlah SPBU strategis selama 24 jam.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menggelar Rapat Koordinasi Ketersediaan Bahan Pokok dan Bahan Penting untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan energi menjelang Lebaran. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Arwana, Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (11/3), tersebut melibatkan distributor dan pemasok bahan pokok di Kalimantan Barat.
Dalam rapat itu juga dipaparkan kondisi pasokan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Hal ini menyusul terjadinya kekhawatiran masyarakat dalam sepekan terakhir terkait ketersediaan BBM yang sempat memicu aksi panic buying. Kondisi tersebut menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. (mse)
Editor : Hanif