PONTIANAK POST- Pemerintah Kota Pontianak memperluas program penaburan eco enzyme ke sejumlah kawasan setelah hasil uji laboratorium menunjukkan adanya perbaikan kualitas air pada lokasi yang sebelumnya menjadi sasaran program tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan program tersebut akan dikembangkan menjadi gerakan bersama dengan melibatkan sekolah, pelaku usaha, dan masyarakat di seluruh kecamatan.
"Upaya tersebut akan dikembangkan menjadi gerakan massal dengan melibatkan sekolah, pelaku usaha, hingga masyarakat, di setiap kecamatan," kata Syarif di Pontianak, Sabtu.
Baca Juga: Sarasehan Durian di Pontianak Bahas Strategi Pemupukan hingga Pengembangan Varietas Unggul Kalbar
Ia menjelaskan hasil evaluasi penaburan eco enzyme di Jalan Alianyang dan Jalan Pangeran Natakusumah menunjukkan adanya penurunan tingkat pencemaran pada badan air.
"Berdasarkan hasil yang kami peroleh, penaburan eco enzyme ini berhasil mengurangi tingkat polutan di badan air. Kadar oksigen meningkat sehingga ikan bisa hidup, bakteri dan nitrat berkurang, lumpur juga menurun, bahkan logam berat tidak lagi terdeteksi," tuturnya.
Baca Juga: Pakar Pendidikan: Candaan Sehat Tidak Membuat Siapa Pun Merasa Direndahkan
Menurut Syarif, hasil tersebut menjadi dasar bagi Pemkot Pontianak untuk melanjutkan program penaburan eco enzyme di kawasan Parit Tokaya. Pemerintah daerah juga akan memperkuat kerja sama dengan berbagai unsur masyarakat agar upaya menjaga kualitas lingkungan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Pak Wali Kota memerintahkan agar setelah kegiatan ini kita lanjutkan ke Parit Tokaya. Kami akan berkonsolidasi dengan guru, sekolah, pelaku usaha, hingga pedagang agar bersama-sama menjaga kualitas lingkungan di kawasan tersebut," ujarnya.
Selain memperluas lokasi penerapan, DLH juga mendorong masyarakat memproduksi eco enzyme secara mandiri dengan memanfaatkan limbah organik dari rumah tangga.
Syarif menjelaskan bahan pembuatannya relatif mudah diperoleh, yakni satu liter molase atau gula merah, tiga kilogram kulit buah, dan 10 liter air hujan yang difermentasi selama tiga bulan.
Menurutnya, pengolahan limbah organik menjadi eco enzyme memiliki manfaat ganda. Selain mengurangi volume sampah rumah tangga, langkah tersebut juga membantu meningkatkan kualitas air pada saluran drainase maupun badan air perkotaan.
Karena itu, DLH menargetkan program tersebut berkembang menjadi gerakan massal yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari sekolah, pelaku usaha, hingga warga di tingkat kelurahan.
Baca Juga: Cara Menentukan Nominal Bantuan untuk Orang Tua Setelah Menikah
"Ini harus menjadi gerakan massal dan berkelanjutan. Kami mengajak seluruh masyarakat mengolah kulit buah menjadi eco enzyme, kemudian menaburkannya di saluran air di depan rumah sebagai langkah sederhana menjaga lingkungan," kata Syarif.
Pemkot Pontianak berharap semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam pengolahan limbah organik menjadi eco enzyme dapat mendukung pengendalian pencemaran lingkungan sekaligus mewujudkan kualitas air yang lebih baik di berbagai kawasan kota. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara