PONTIANAK POST - Stunting masih menjadi salah satu tantangan di sektor kesehatan Indonesia, khususnya di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kubu Raya masih berada pada angka 30,2 persen cenderung lebih tinggi dibandingkan prevalensi di Kalimantan Barat sebesar 26,8 persen dan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.
Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia) adalah program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Program ini bertujuan untuk percepatan pencegahan dan penurunan stunting dan perbaikan status gizi di Indonesia hingga Januari 2027.
Berdasarkan monitoring PASTI periode 2025 hingga semester I 2026, Program PASTI di Kubu Raya telah menjangkau 1.188 orang tua baduta (bayi di bawah dua tahun) dan ibu hamil melalui Kampanye/KIE Kelompok bagi keluarga berisiko stunting dan keluarga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dari jumlah tersebut, 1.137 penerima manfaat atau 95,7 persen menunjukkan pemahaman yang baik tentang stunting.
Baca Juga: 1000 HPK: Investasi Terbaik untuk Mencegah Stunting
Dalam kunjungan lapangan ke Kabupaten Kubu Raya, (5/8), para mitra bersama perwakilan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melihat langsung praktik baik yang telah dikembangkan melalui Program PASTI. Kunjungan ini menjadi momentum untuk menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis masyarakat dapat diterjemahkan menjadi berbagai intervensi lokal yang lebih dekat dengan kebutuhan keluarga. Mulai dari edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko stunting, penguatan kader, hingga inovasi pangan berbasis pekarangan.
Untuk memperkuat keberlanjutan pendampingan di tingkat keluarga, Program PASTI telah melatih 67 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) pada 2025 dan melakukan refreshment kepada 52 kader TPK pada semester I 2026. Para kader ini kemudian melanjutkan pendampingan dan monitoring secara berkala kepada keluarga berisiko.
Intervensi berbasis komunitas juga dilakukan melalui Pos Gizi DASHAT (PGD) di 20 desa/kelurahan. Kegiatan ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk mempercepat penurunan stunting dan perbaikan status gizi anak melalui pemberian makanan bergizi intensif, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan pangan lokal. Pada semester I 2026, PGD telah melibatkan 290 baduta dan 159 ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) atau ibu hamil KEK.
Staf Ahli Bupati Kubu Raya, Hefmi Rizal mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berharap Program PASTI tidak berhenti sebagai kegiatan jangka pendek, melainkan dapat terus berjalan dan disinergikan dengan berbagai program pemerintah daerah yang telah ada.
Baca Juga: 56 Persen Balita di Pontianak Belum Rutin Dipantau, Pemkot Perkuat Gerakan Cegah Stunting
Menurut Hefmi, keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memperkuat edukasi masyarakat, terutama bagi keluarga yang memiliki balita dan ibu hamil. Edukasi yang diberikan secara langsung melalui Posyandu dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana dr Nurizky Permanajati, M.H, memandang program PASTI sebagai bentuk konkrit elaborasi bersama lintas sektor dalam upaya pencegahan penurunan stunting.
“Di Program PASTI menggambarkan upaya penurunan stunting di semua lini bisa berjalan. Di sini, saya lihat penanganannya mulai dari pendampingan, persiapan calon pengantin sampai hamil dan memiliki anak hingga umur 2 tahun. Artinya dalam pencegahan penurunan stunting ini memang harus dilakukan berkelanjutan,” ujarnya.
Tentunya, dalam menurunkan stunting butuh banyak pihak terlibat. Termasuk yang sudah dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia ini. Kontribusi mereka mampu mengisi ruang yang tidak terjangkau oleh pemerintah karena keterbatasan anggaran dan lainnya. “Ini merupakan kolaborasi yang baik dan harus terus dijalankan,” ungkapnya.
Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Michael Susanto, menegaskan bahwa investasi paling penting dalam siklus hidup manusia dimulai pada anak usia dini. Jika stunting tidak diintervensi sejak awal, dampaknya tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan dan pendidikan, tetapi juga memicu penurunan produktivitas ekonomi jangka panjang.
"Anak yang mengalami stunting tentu tidak dapat belajar dan berprestasi secara maksimal di sekolah, hingga nantinya saat memasuki dunia kerja. Data 2024 menunjukkan prevalensi nasional masih berada di angka 19,8 persen, yang berarti 1 dari 5 anak di Indonesia berisiko stunting. Karena kompleksitasnya, tidak ada satu aktor pun yang dapat bekerja sendiri. Oleh karena itu, Tanoto Foundation membangun modal kolaborasi bersama mitra seperti PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan Bakti BCA melalui Program PASTI," ujar Michael Susanto.
Senior Manager Social Impact PT Amman Mineral, Aji Suryanto, mengatakan AMMAN memiliki visi yang sama dengan para mitra pendana untuk mendukung target pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, keberhasilan pembangunan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang saat ini sedang tumbuh.
Ia menjelaskan, sebagai perusahaan tambang, AMMAN juga memiliki tanggung jawab sosial untuk menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pembentukan desa model, pemberian makanan tambahan bagi kelompok sasaran, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting.
Kepala Kantor Cabang Utama (KCU) BCA Pontianak, Suriyanto Daniel, menyampaikan bahwa keterlibatan BCA dalam program ini sejalan dengan visi dan komitmen keberlanjutan perusahaan. BCA meyakini bahwa pembangunan ekonomi yang kuat di masa depan sangat bergantung pada kualitas SDM yang dibentuk sejak usia dini.
"Sesuai komitmen perusahaan melalui Bakti BCA, kami berkomitmen untuk turut serta dalam hal kesehatan. Kami melihat bahwa pengembangan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini. Kalau SDM-nya bagus, ke depannya perekonomian kita juga akan meningkat. Dari situ kami melihat bahwa BCA sangat membutuhkan SDM-SDM yang berkualitas di masa mendatang," ujar Suriyanto Daniel.
Program Director Wahana Visi Indonesia (WVI), Eben Ezer Sembiring , mengatakan latar belakang Wahana Visi Indonesia hadir di Kabupaten Kubu Raya untuk program Partner Akselerasi Penurunan Stunting Indonesia (PASTI), yang pertama berdasarkan data bahwa Kubu Raya masih memiliki banyak anak-anak berisiko stunting.
Kemudian sesuai dengan komitmen WVI sebagai organisasi kemanusiaan yang berfokus kepada kesejahteraan anak-anak.
"Anak-anak yang paling rentan menurut kita adalah anak-anak yang berusia 0-5 tahun, khususnya juga Baduta atau bayi berusia di bawah 2 tahun yang berisiko stunting sehingga kami ingin berpartisipasi. Untuk berbuat sesuatu untuk memastikan anak-anak yang beresiko stunting ini, memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dengan nutrisi yang baik, sehingga pencegahan terhadap risiko stunting ini yang melatar belakangi," ujarnya.
Capaian signifikan yang telah dicapai Program PASTI ini, adalah desa model yang merupakan contoh di mana semua pihak di desa yang terhimpun dalam tim percepatan penurunan stunting bisa duduk bersama, berkolaborasi untuk menganalisa siapa saja anak-anak di wilayah atau di desa tersebut yang mengalami resiko stunting.
"Kolaborasi ini tidak hanya pemangku kepentingan orang dewasa. Apakah bidan, kader, kepala desa, dan semua perangkat desa, tokoh agama, tokoh adat, serta juga remaja," ujarnya.
“Setelah saya mengikuti program Pos Gizi DASHAT (PGD), saya jadi banyak dapat pengetahuan soal makanan bergizi. Misal mengolah tempe tidak harus digoreng, membuat martabak cating dan memanfaatkan pangan lokal seperti daun singkong dan lainnya. Variasi menu yang disajikan membuat anak jadi semangat makan. Dampak lainnya berat badan anak saya mengalami kenaikan,” ujar Wasyiatul (26), Ibu Baduta yang merupakan peserta PGD Kubu Raya.
"Program Pos Gizi DASHAT ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai ibu hamil, terutama karena di kehamilan ketiga ini saya tergolong berisiko KEK (Kurang Energi Kronis). Melalui program ini, saya mendapatkan banyak edukasi kesehatan mulai dari tanda bahaya kehamilan, pemantauan perkembangan bayi, hingga pengetahuan gizi. Saya juga belajar mengolah pangan lokal menjadi menu sehat yang lezat, seperti kreasi nasi goreng bergizi, yang langsung saya praktakkan di rumah untuk konsumsi sehari-hari. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya saat belum ikut PGD, kehamilan kali ini jauh lebih teredukasi dan berat badan saya pun berhasil bertambah secara sehat," kata Ivana (41), Satu di antara Penerima Manfaat PGD.(iza)
Editor : Hanif