PONTIANAK POST - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia menggelar acara ramah tamah bersama para tokoh Tionghoa di Restoran Gajahmada, belum lama ini. Pertemuan ini menjadi forum penting untuk menyerap masukan menjelang pelantikan kepengurusan MABT Indonesia baru, yang rencananya digelar Desember 2025 mendatang.
Ketua Umum Terpilih MABT Indonesia, Suyanto Tanjung, mengatakan bahwa kegiatan ramah tamah tersebut bertujuan memperkuat komunikasi dengan para tokoh sekaligus menyampaikan rencana pelantikan serta agenda besar organisasi ke depan.
“Belum lama ini,kami sampaikan rencana pelantikan para pengurus. Sebelum dilantik, kami ingin mendengar masukan terkait susunan kepengurusan dari para tokoh. Kami juga memaparkan agenda terdekat, termasuk pelaksanaan Cap Go Meh. Puji Tuhan, semuanya berjalan baik dan lancar,” ujar Suyanto.
Dalam kesempatan itu, Suyanto menegaskan harapannya agar MABT Indonesia menjadi wadah pemersatu masyarakat Tionghoa, khususnya di Kalimantan Barat.
“Setelah kita bersatu, tujuan berikutnya adalah mengembangkan adat budaya Tionghoa. Salah satu keinginan terbesar kami adalah mewujudkan rumah adat budaya Tionghoa agar bisa berdiri sejajar dengan rumah adat lainnya,” ungkap anggota DPRD Kalbar dari Partai Hanura ini.
Rumah adat budaya Tionghoa tersebut nantinya diharapkan menjadi pusat kegiatan budaya, tempat pelestarian tradisi, hingga fasilitas edukasi seperti pembelajaran bahasa Mandarin dan program pertukaran budaya.
“Teman-teman dari suku lain pun bisa lebih mengenal adat budaya Tionghoa, mulai dari tradisi pernikahan, kelahiran, hingga upacara kematian,” tambah Suyanto.
Dalam waktu dekat, MABT Indonesia akan berkantor di Kota Pontianak. Kantor tersebut akan menjadi pusat kegiatan pengurus dalam menjalankan misi sosial dan budaya bagi masyarakat Tionghoa.
“Kalau ada masyarakat dari etnis lain yang membutuhkan bantuan, kami juga siap membantu. MABT adalah organisasi kemasyarakatan dengan misi sosial dan budaya,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Suyanto mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan, baik di internal masyarakat Tionghoa maupun dengan etnis-etnis lain.
“Sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, kita wajib menjunjung tinggi sikap saling menghargai adat budaya. Itulah kunci hidup harmonis di negeri yang majemuk ini,” pungkas Tanjung. (den)
Editor : Miftahul Khair