PONTIANAK POST -Rencana pemerintah membangun jaringan kereta api di Pulau Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sejalan dengan proyek kereta api lintas negara Trans Borneo Railway (TBR) yang digaunkan oleh perusahaan Brunei, Brunergy Utama Sdn Bhd.
Proyek kereta api lintas negara Trans Borneo Railway (TBR) mengungkap rencana pembangunan jalur kereta cepat sepanjang 1.620 kilometer yang akan menghubungkan Pontianak, Malaysia, hingga Brunei Darussalam dan terkoneksi ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
Rencana tersebut pertama kali diumumkan Brunergy melalui situs resminya, dua tahun lalu, dengan konsep pembangunan dua tahap yang menghubungkan kawasan pesisir Kalimantan Barat hingga Sabah, Malaysia, sebelum diteruskan ke Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur menuju Samarinda serta IKN.
Brunergy menyebut kereta cepat itu dirancang melaju dengan kecepatan 300-350 kilometer per jam dengan rata-rata jarak antarstasiun sekitar 150 kilometer dan waktu tempuh sekitar 30 menit per segmen perjalanan.
Tahap pertama direncanakan melintasi Pontianak, Mempawah, Singkawang, Sambas, Kuching, Sibu, Bintulu, Miri, Limbang, Lawas hingga Kota Kinabalu di Sabah.
Sementara tahap kedua akan menghubungkan Brunei menuju wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur melalui Long Bawan, Malinau, Tanjung Selor, Bontang, Samarinda, hingga Balikpapan.
Baca Juga: Negara-Negara ini Sukses Bangun Rel Kereta Api di Lahan Gambut, Kalimantan Selanjutnya
Pemerintah Indonesia Belum Terima Proposal Resmi
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah Indonesia belum menerima proposal resmi terkait proyek lintas negara tersebut.
“Itu saya baru dengar memang ada semacam usulan dari Malaysia, dari Sarawak. Untuk kami sih dengan senang hati membahasnya. Apabila itu baik buat semuanya, kenapa tidak?” ujar Dudy, dikutip dari Kompas.com, Senin (22/12/2025).
Menurut Dudy, pembahasan proyek tersebut sejauh ini masih berada pada tahap komunikasi awal dan belum masuk ke pembahasan teknis di Kementerian Perhubungan.
Baca Juga: Kalteng Desak Kepastian Proyek Kereta Api Lintas Kalimantan
Ia menegaskan pemerintah masih perlu menghitung aspek kelayakan dan dampak ekonomi sebelum proyek dapat dipertimbangkan lebih lanjut.
“Kita lihat niatnya dulu, hitungannya bagaimana. Kita harus kaji dulu hitungannya,” katanya.
AHY Dorong Konektivitas Kalimantan Tidak Hanya Jalan Tol
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan pembangunan konektivitas di Kalimantan tidak cukup hanya mengandalkan jalan darat dan jalan tol.
Menurut AHY, Indonesia membutuhkan integrasi moda transportasi laut, udara, dan kereta api agar pembangunan nasional tidak lagi terpusat di Pulau Jawa.
Baca Juga: Soal Rel Kereta Api Kalimantan, Akademisi Bantah Hambatan Lahan Gambut
“Pembangunan tidak boleh Jawa sentris. Kita bukan negara kontinental, sehingga pembangunan konektivitas tidak bisa menggunakan resep negara-negara kontinental,” ujar AHY dalam acara Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan itu muncul di tengah masuknya kembali proyek Trans Kalimantan dalam agenda pengembangan jaringan perkeretaapian nasional hingga 2045.
Pemerintah saat ini merencanakan pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sebagai bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas).
AHY mengatakan pemerintah masih melakukan perhitungan matang lintas kementerian sebelum proyek dijalankan.
Harapan Baru bagi Wilayah Pedalaman Kalimantan
Brunergy menilai proyek TBR dapat membuka akses bagi wilayah-wilayah pedalaman Kalimantan yang selama ini masih terisolasi dan sulit dijangkau.
Perusahaan tersebut menyebut konektivitas baru akan mempercepat distribusi barang, jasa, dan mobilitas masyarakat lintas negara di Pulau Kalimantan yang memiliki lebih dari 30 kelompok etnis.
Selain memangkas waktu tempuh logistik, proyek itu juga diklaim berpotensi menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Brunergy sendiri didirikan pada 2013 dan awalnya bergerak di sektor minyak dan gas sebelum beralih fokus ke pengembangan transportasi massal dan kereta cepat di kawasan Borneo sejak 2014. (*)
Editor : Efprizan