PONTIANAK POST – Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan Barat menjadi perhatian tinggi di tengah naiknya ongkos distribusi barang antardaerah.
Mengingat sebagian besar distribusi barang di Kalbar saat ini masih bergantung pada transportasi jalan dan sungai yang memiliki biaya operasional relatif tinggi.
Vice President Corporate Communication Kereta Api Indonesia (KAI) Anne Purba dalam laporan Antara (23/5), mengatakan distribusi barang yang berpindah ke kereta api memberi dampak besar terhadap harga barang, terutama kebutuhan pokok dan logistik industri.
Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Kereta Api Kalimantan, Menteri AHY Lapor Perkembangan Proyek ke Presiden
Biaya Logistik Indonesia Masih Tinggi
Biaya logistik nasional Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi distribusi barang dan daya saing ekonomi nasional.
Dalam telaah Antara (2/4) disebut biaya logistik Indonesia pada 2025 masih berada di kisaran 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di atas rata-rata negara ASEAN yang berada di kisaran 14 persen.
Tingginya biaya logistik tersebut berkaitan dengan sistem distribusi yang belum efisien dan masih dominannya angkutan darat dibanding moda transportasi massal seperti kereta api dan laut.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat sektor transportasi dan pergudangan di daerah terus mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan distribusi barang antardaerah.
Kereta Api Dinilai Lebih Efisien untuk Distribusi Barang
Masih merujuk pada laporan Antara, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebut angkutan logistik berbasis rel memiliki potensi besar untuk menekan biaya distribusi nasional sekaligus memperkuat rantai pasok barang antardaerah.
“Kereta api memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi logistik nasional yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication Kereta Api Indonesia.
Lebih lanjut, sepanjang Triwulan I 2026, volume angkutan barang PT KAI mencapai 14,9 juta ton. Pergerakan logistik berbasis rel tersebut dinilai berperan langsung terhadap stabilitas harga dan kelancaran aktivitas ekonomi nasional.
Efisiensi distribusi melalui kereta api juga dinilai dapat membantu menekan biaya logistik per ton sehingga berpotensi berdampak terhadap harga barang di tingkat pasar.
Bisa Kurangi Kerusakan Jalan dan Ongkos Perawatan
Selain berdampak pada harga barang, transportasi rel juga dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap jalan raya.
Sejauh ini distribusi logistik di Kalbar masih didominasi kendaraan bertonase tinggi yang mempercepat kerusakan jalan.
Baca Juga: Soal Rel Kereta Api Kalimantan, Akademisi Bantah Hambatan Lahan Gambut
Kementerian Perhubungan menyebut angkutan berbasis rel mampu mengurangi kepadatan kendaraan berat sekaligus mendukung sistem logistik rendah emisi.
Jika tekanan terhadap jalan berkurang, biaya perawatan infrastruktur juga dapat ditekan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Miftahul Khair