PONTIANAK POST - Kerusakan kecil pada jembatan kereta api acap kali luput dari pengawasan, padahal dapat berkembang menjadi masalah serius yang mengancam keselamatan perjalanan.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemantauan cerdas yang mampu mendeteksi kondisi jembatan secara real-time.
Sehingga potensi kerusakan bisa diketahui lebih cepat sebelum menimbulkan gangguan maupun kecelakaan.
Baca Juga: Blueprint Sudah Ada, Proyek Kereta Api Kalteng Belum Temukan Investor
BRIN Hadirkan Sistem Pemantauan Kesehatan Jembatan Kereta
Melansir pada laman BRIN, Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) mengembangkan Structural Health Monitoring System (SHMS), sebuah sistem yang dirancang untuk mendeteksi, memantau, dan menganalisis kondisi struktur jembatan kereta api secara berkelanjutan.
Perekayasa Ahli Pertama PRTT BRIN, Willy Barasa, menjelaskan bahwa teknologi ini menjadi penting mengingat banyaknya jaringan rel dan jembatan kereta api di Indonesia yang telah berusia tua dan harus menahan beban berat setiap hari.
"Jembatan kereta api terus menerima tekanan dari lalu lintas kereta serta pengaruh cuaca ekstrem, sehingga memerlukan sistem pemantauan yang mampu mendeteksi kerusakan sejak dini," ujarnya.
Dilengkapi Sensor Canggih untuk Pantau Kondisi Jembatan
SHMS bekerja dengan mengandalkan berbagai sensor yang dipasang pada struktur jembatan.
Baca Juga: Kereta Api Kalimantan Berpotensi Ubah Wajah Pulau Borneo, Pihak Sarawak Mendukung Penuh
Beberapa teknologi yang digunakan antara lain:
- Strain gauge untuk mengukur tegangan pada material baja,
- Linear Variable Displacement Transducer (LVDT) untuk memantau tingkat lendutan jembatan,
- Accelerometer untuk mengukur getaran,
- Proximeter, instrument node, dan master node untuk mendukung pengumpulan data secara menyeluruh.
Menariknya, sistem ini juga memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat beroperasi secara mandiri.
Data Diproses dengan Teknologi Digital dan Model Virtual
Data yang dikumpulkan dari berbagai sensor tidak hanya disimpan, tetapi juga dianalisis menggunakan teknologi digital modern.
BRIN memanfaatkan metode Digital Twin dan Building Information Modelling (BIM) untuk membuat representasi virtual jembatan.
Melalui teknologi ini, kondisi aktual struktur dapat dibandingkan dengan standar keamanan yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, potensi kerusakan dapat diidentifikasi lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Pantauan Real-Time Bantu Percepat Penanganan
Untuk mempermudah pengawasan, BRIN juga mengembangkan dashboard SHMS yang terhubung langsung ke server secara real-time.
Melalui sistem ini, petugas dapat memantau kondisi jembatan kapan saja dan segera mengambil tindakan jika ditemukan indikasi kerusakan.
Kemampuan pemantauan langsung ini dinilai sangat penting untuk menjaga keselamatan operasional kereta api yang setiap hari melintasi berbagai jembatan di Indonesia.
Sudah Diterapkan di Jembatan Kereta Vital di Banten
Teknologi SHMS saat ini telah diterapkan pada Jembatan BH 340, salah satu jembatan penting yang menjadi penghubung jalur kereta api di Provinsi Banten.
Jembatan tersebut melayani perjalanan kereta penumpang sekaligus angkutan barang seperti batu bara dan logistik lainnya.
Menurut Ikhwanul Ihsan, berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah perjalanan kereta yang melintasi jalur tersebut terus meningkat setiap tahun.
Karena itu, pemantauan kondisi struktur jembatan menjadi semakin penting untuk memastikan keamanan dan kelayakan operasional.
BRIN Siapkan Integrasi AI dan Internet of Things
BRIN berencana mengembangkan SHMS dengan kemampuan yang lebih canggih melalui integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
Pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan akurasi deteksi kerusakan sekaligus mempercepat proses analisis kondisi infrastruktur.
Selain meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api, sistem ini juga berpotensi membantu efisiensi anggaran pemeliharaan karena perbaikan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Dengan teknologi itu, pengelola infrastruktur tidak lagi hanya mengandalkan inspeksi berkala, tetapi dapat memantau kesehatan jembatan setiap saat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. (*)
Editor : Miftahul Khair