Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Konflik dan Konklaf

Miftahul Khair • Sabtu, 10 Mei 2025 | 13:34 WIB
Juniardi Sucinda, M.Pd.
Juniardi Sucinda, M.Pd.

Oleh: Juniardi Sucinda, M.Pd.*

Bapa Suci Sri Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 April 2025 di kediamannya, Casa Sancta Marta, Kota Roma, Italia. Mata dunia tertuju ke pusat Gereja Katolik tersebut sepeninggal sang Wakil Kristus di dunia. Banyak kalangan merasa kehilangan, rasa sedih menyeruak dalam hati. Uniknya, kesedihan ini lintas iman, artinya bukan hanya umat Katolik saja namun kalangan agama lain pula.

Bapa Fransiskus memang meniggalkan warisan yang tak akan lekang oleh riak-riak waktu. Beliau menanamkan teladan yang tak akan kita lupakan.

Kesederhanaan

Sebenarnya jika menelisik riwayat hidupnya, terlihat bahwa kepribadian Sri Paus Fransiskus memang sederhana dan tidak dibuat-buat. Memang begitulah adanya. Namun, sikap sederhana Fransiskus benar-benar nampak saat ia mengunjungi Indonesia. Sebagai Kepala Negara Vatikan (setara presiden atau raja/sultan) harusnya bisa saja ia menggunakan fasilitas Super VVIP untuk digunakan, baik transportasi maupun penginapan. Tapi apa yang terjadi? Mata kita terbelalak ketika ia memilih menggunakan Innova Zenix tipe menengah. Pemandangan yang tak biasa, ketika kendaraan biasa seharga ratusan juta rupiah dikawal oleh mobil-mobil gagah nanmahal yang harganya pasti menyentuh angka miliaran rupiah, tak mampu rakyat biasa seperti saya membelinya cuma-cuma, mungkin menjual nyawa pun tak terbeli. Ya, itulah salah satu potongan gambaran kesederhanaan Paus Fransiskus dari Argentina itu.

Masih ada lagi, saat di Indonesia, Vikaris Kristus tidak menginap di hotel bintang lima atau bintang tujuh apalagi bintang sepuluh. Ia menginap “dirumahnya”, yakni Kedutaan Vatikan untuk Indonesia. Paus dengan nama asli Jorge Kardinal Mario Bergoglio itu wafat dengan meninggalkan harta senilai kira-kira 90 Euro, mungkin sekitar 1 jutaan rupiah jika dikonversikan. Demikian juga sepatu dan pakaiannya, sangat sederhana untuk seorang yang punya wewenang besar terhadap 1,4 miliar orang di seluruh muka bumi. Sederhana hidupnya, tapi mewah pikiran dan tindakannya, itulah Bapa Paus Fransiskus.

Keterbukaan

Begitu banyak momen keterbukaan Paus Fransiskus terhadap komunitas-komunitas nonKatolik. Semua itu ia lakukan untuk menciptakan perdamaian dunia, menjadikan dunia rumah yang nyaman bagi semua manusia. Misalnya, saja penandatanganan Piagam Abu Dhabi oleh Sri Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayeb pada 2019 silam hingga pesan perdamaiannya sehari menjelang wafat, saat Hari Paskah, ia masih menyerukan agar damai ada di Gaza. Perhatiannya terhadap korban perang di Gaza sangat besar. Begitu banyak gebrakan yang Paus Fransiskus lakukan hingga mendunia, tidak cukup jika saya rangkum dalam tulisan kecil ini.

Konflik Antarnegara

Awal bulan Mei 2025, dunia dikagetkan dengan saling berbalas serangan antara India dan Pakistan, dua negara serumpun di Asia Selatan itu. Serangan dikabarkan terjadi pada 7 Mei 2025 dengan serangkaian serangan-serangan kecil sebelumnya. Memang dua negara ini sudah lama bersitegang, dan saya khawatir akan terlalu banyak isu agama dalam konflik dua negara  ini.

Belum lagi perang di Jalur Gaza antara Hammas dan Israel, konflik yang tak kunjung usai antara dua negara yang dipimpin Vladimir dan Volodimyr, Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak beberapa tahun lalu. Konflik-konflik bernuansa sara serta penebaran terror di Afrika. Belum lagi berbagai konflik kecil dalam negeri, konflik agraria, konflik pendemo dan aparat, konflik kepentingan, semuanya memusingkan kepala. Kapan konflik-konflik ini berakhir? Semoga figur Paus yang baru, penerus Takhta Santo Petrus, bisa menjawab tantangan zaman ini.

 

Konklaf          

Pada 8 Mei 2025 sore, asap hitam kedua muncul dari cerobong Kapel Sistina di Vatikan. Kapel itu adalah tempat musyawarah untuk bermufakat 133 orang Kardinal dari berbagai negara guna memilih paus yang baru.

Kemudian akhirnya Kardinal Robert Francis Prevost dengan nama kepausan Leo XIV terpilih menjadi paus baru untuk memimpin Gereja Katolik dan Kepala Negara Vatikan. Paus Leo XIV merupakan paus pertama asal Amerika Serikat (AS). Kita berharap penerus Paus Fransiskus dapat membawa kelegaan ditengah dunia yang haus perdamaian.**

 

*Penulis adalah guru SMP Kristen Immanuel & jurnalis.

Editor : Miftahul Khair
#opini #Konklaf