Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melestarikan Solidaritas Sosial

Hanif PP • Kamis, 19 Juni 2025 | 03:48 WIB
Dr. Amalia Irfani, M.Si
Dr. Amalia Irfani, M.Si

Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si*

Hari raya Iduladha atau ibadah kurban terindentifikasi sebagai perayaan dengan menyembelih hewan ternak. Momen bahagia yang ditunggu oleh masyarakat khususnya fakir miskin. Mendapatkan daging kurban menjadi  budaya tersendiri tanpa terkecuali  di Kota Pontianak, tidak hanya untuk umat Islam,  non muslim pun ikut bersuka cita. Tanpa dipoles kesadaran sosial dan toleransi telah terbina dengan erat saat perayaan Iduladha. Serupa seperti pada bulan suci Ramadan, dimana kehadiran pasar juadah/takjil menjadi identitas yang ikut menyemarakan suasana syahdu berpuasa. Masyarakat nonmuslim pun, ikut ramai  membeli. Kebersamaan yang bukan rekaan ini, sejatinya gambaran miniatur Indonesia yakni berbeda tetapi satu jua.

Fakta sosial tersebut mengisyaratkan ekonomi kerakyatan akan melaju naik jika disokong penuh oleh pemerintah dan pemkot setempat. Hanya saja memang perlu pemberdayaan yang kontinyu dan berkelanjutan. Pemeliharaan hewan kurban, agar dagingnya  layak merupakan prospek yang cukup menjanjikan. Pemkot Pontianak misalnya sudah melakukan edukasi ke para peternak, berupa penyuluhan, pelatihan, dan pemberian informasi yang relevan. Hal ini dimaksudkan agar peternak memahami dan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam ternak sapi agar  kualitas dan kuantitas hasil ternak sesuai dengan yang diharapkan, peternak pun lebih sejahtera. Prospek pekerjaan yang sebenarnya cukup menjanjikan. Sebab daging adalah salah satu kebutuhan pokok, penggunaannya tidak hanya dalam rumah tangga atau usaha makanan harian (rumah makan), tetapi juga di sektor industri olahan industri daging, mulai dari daging segar, olahan daging, hingga daging beku. Hanya saja untuk tahun 2025, jumlah masyarakat berkurban tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, keadaan ketidakpastian ekonomi secara global menjadi salah satu penyebab. Efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah ikut membuat keadaan ekonomi masyarakat juga berdampak signifikan.

 

Hubungan dengan Solidaritas Sosial

Kita pasti menyetujui ada hubungan timbal balik antara pranata sosial di masyarakat. Bentuknya yang beraneka macam antara lain pranata keluarga, pendidikan, ekonomi, politik, dan agama merupakan wujud dinamis yang akan kita lewati sebagai individu dan masyarakat. Pranata ekonomi contohnya akan berlangsung harmonis jika hubungan dengan pranata lainnya seimbang.

Saat Iduladha, berbagi daging kurban dengan saudara, tetangga, kenalan yang membutuhkan akan memperkuat rasa kebersamaan, dan mempertebal rasa peduli yang sebelumnya mungkin terasa jauh dan kaku.  Solidaritas sosial menurut Leon Duguit Sosiolog asal Prancis adalah rasa kesatuan, yang menggambarkan  kekompakan, kesadaran kolektif, dan kelangsungan hidup masyarakat yang utuh dan kuat. Duguit meyakini, sebagai makhluk sosial, manusia akan saling ketergantungan satu sama lain. Solidaritas sosial sendiri terbangun sebab adanya kesadaran sosial (social awareness) kemudian terkonstruksikan oleh suatu kesadaran diri atau self awareness yang menjadi pondasi. Walau demikian tidak mudah membangun ruang tersebut. Dibutuhkan mental dan lingkungan yang sehat untuk membentuk individu yang peduli dan berempati terhadap sesama tidak hanya dengan merasa tetapi ditunjukkan dengan perbuatan (altruis).

 

Urgensi Solidaritas Sosial

Seperti namanya yang mengisyaratkan  gerakan sosial menuju kesejahteraan,  solidaritas sosial harus menjadi identitas bangsa yang tidak sekedar simbol tetapi terwujud di kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dikaitkan dengan Indonesia Emas 2045, solidaritas sosial merupakan modal utama  membangun ketahanan sosial yang inklusif, untuk menanggulangi berbagai tantangan yang akan dihadapi bangsa.

Bapak Sosiologi Islam Ibnu Khaldun pernah berujar dalam teori Asabiyyah, bahwa hanya menjaga sikap hidup bernama solidaritas saja, maka  kelompok masyarakat bisa hidup berdampingan agar terus harmonis. Hal serupa juga diaminkan oleh Bapak Sosiologi Indonesia Selo Soemardjan (tokoh penting yang menjadikan Sosiologi menjadi mata kuliah  di perguruan tinggi). Walau tidak secara eksplisit menjelaskan solidaritas sosial, baginya solidaritas sosial adalah bagian dari proses interaksi-komunikasi di masyarakat. Maka menumbuhkan serta menjaga sikap tersebut harus menjadi budaya tiap generasi, agar tujuan akhir yakni rasa aman, damai, sejahtera bukan ilusi dan mimpi.**

 

*Penulis adalah Kaprodi Studi Agama-agama FUSHA IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#toleransi #hari raya #pontianak #iduladha #momen kebersamaan #Solidaritas Sosial