Oleh: Y Priyono Pasti*
PONTIANAK POST - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran Baru 2025/2026 tinggal menghitung minggu. Setiap ajaran baru, MPLS menjadi wahana penting bagi sekolah untuk mengenalkan program sekolah, visi misi sekolah, prinsip-prinsip dan budaya sekolah, tata kelola sekolah, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan kultur sekolah.
MPLS menjadi kegiatan pembuka (pertama) bagi peserta didikbaru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru, memahami tata tertib dan budaya sekolah serta membangun interaksi dan komunikasi positif antara siswa dan guru serta tendik. Selain itu, MPLS menjadi momen penting bagi siswa untuk menggali potensi diri, menumbuhkan motivasi belajar, dan mengembangkan karakter positif serta budi pekerti luhur.
Agar kegiatan MPLS itu berlangsung sangkil, mangkus, menyenangkan, dan bermakna, MPLS yang edukatif, kreatif, dan produktif untuk mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif, berkebhinekaan, sehat, dan aman bagi semua melalui materi yang sederhana dan efektif adalah keniscayaan.
Ajang untuk Belajar
MPLSadalah ajang untuk belajar, menjadikan siswa insan-insan muda Indonesia yang cendekia dan berkarakter unggul. Siswa baru menyambut MPLS dengan kegembiraan yang meluap. Mereka memasuki sekolah baru, lingkungan dan suasana baru, pengalaman baru, fasilitas belajar baru, guru dan teman-teman baru.
Namun kenyataannya, tak sedikit siswa baru mengalami kecemasan dan ketakutan menjelang dan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Baru (MPLSB). Penyebabnya adalah “tradisi” perpeloncoan yang melecehkan dan menciderai martabat anak.
Hingga hari ini, “tradisi” perpeloncoan masih saja terjadi di sekolah-sekolah kita ketika MPLS berlangsung. Kegiatan MPLS sering dijadikan ajang untuk unjuk arogansi siswa senior (senioritas) terhadap siswa baru (junioritas). MPLS dijadikan ajang untuk mempermalukan dan tak jarang melecehkan bahkan menyiksa siswa baru. MPLS dijadikan ajang balas dendam.
Setiap hari, selama MPLS berlangsung, siswa baru selalu dijadikan objek pelecehan. Siswa baru selalu dimarahi, dibentak, diancam, diintimidasi, disuruh memakai pelbagai atribut aneh dan rupa-rupa pelecehan lainnya, yang jauh dari kepantasan, jauh dari unsur mendidik dan membangun karakter unggul.
Celakanya, praktik-praktik orientasi siswa yang liar dan melecehkan ini terus saja terjadi. Menyadari dampak buruk dari “tradisi” MPLS dalam bentuk perpeloncoan itu, tak ada pilihan lain, menghadirkan MPLS yang ramah anak adalah keharusan. Aksi pelecehan, kekerasan, dan penyiksaan, apalagi sampai berujung kematian tidak boleh terjadi di jagat pendidikan. Praktik-praktik tidak beradab di jagat pendidikan harus dihentikan dan dimitigasi.
Harus Dimitigasi
Kekerasan dalam berbagai variasinya saat pelaksanaan MPLS harus dimitigasi. Pasalnya, betapa mengerikannya dampak kekerasan itu terhadap fisik, mental, dan pertumbuhan kepribadian anak. Paradigma berpikir yang keliru bahwa kekerasan masih dianggap sebagai cara efektif mendisiplinkan anak harus segera dihilangkan. Sebaliknya, MPLS ramah anak harus didorong, dikembangkan, dan dipraktikkan dalam pelaksanaan MPLS.
Pihak sekolah dan pihak-pihak yang terkait MPLS harus berkomitmen bahwa aksi perpeloncoan, pelecehan, dan kekerasan tidak boleh terjadi selama MPLSB. Tradisi perpeloncoan yang kuno, tak menunjukkan sikap beradab ini harus dihentikan. Selain itu, sekolah dilarang mengutip uang dari orang tua siswa untuk mendanai kegiatan MPLSB.
Hari ini, MPLS yang ramah anak mutlak menjadi prioritas. MPLS harus memberikan rasa aman, nyaman, damai, senang, dan bahagia kepada para siswa. Praktik pelaksanaan MPLS harus menghargai keberagaman dan memastikan kesetaraan kesempatan kepada setiap siswa. Panitia MPLS mesti peduli terhadap anak baru, menyampaikan materi MPLS sesuai kebutuhan dan kemampuan anak, kooperatif dan demokratis, dan melindungi anak dari pelecehan dan bahaya kekerasan.
Pelaksanaan MPLS mesti berbasis cinta, menyenangkan, dan membahagiakan anak-anak baru. Mereka, sejak dini diajak untuk merasakan dan mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan bukan sekedar terpenuhi kebutuhan-kebutuhan yang materialistik-konsumtif, terpenuhi ambisi-ambisi pribadi, menang dalam setiap pertandingan dan perlombaan, mengabaikan sesama yang memerlukan bantuan, tetapi juga mau berbagi dan memberi kepada sesama.
Pendekatan Hati
Untuk mewujudkan dan mengoptimalkan praktik MPLS ramah anak, pihak sekolah (terutama panitia MPLS) harus mengedepankan pendekatan hati. Dengan pendekatan ini, panitia MPLS diharapkan memfasilitasi, mendampingi, melatih, membimbing, mendorong peserta MPLS pertama-tama bukan dengan fisik dan otaknya, tetapi dengan hatinya. Oleh karena itu, perhatian pada setiap pribadi peserta MPLS menjadi penting.
Panitia MPLS dan pihak-pihak terkait mesti menghormati keunikan masing-masing individu. Dasar dari penghormatan itu adalah bahwa masing-masing individu diciptakan Tuhan secara unik, khas dan tidak ada duanya. Oleh karena itu, masing-masing individu dengan segala keunikannya harus dihormati untuk bertumbuh dan berkembang secara bertanggung jawab. Penyeragaman yang berlebihan akan menghambat kreativitas dan keunikan individu.
Dengan pelaksanaan MPLS yang ramah anak ini, anak menjadi aman, nyaman, senang, damai, dan bahagia sehingga mereka akan termotivasi untuk belajar. Karena itu, siswa baru yang masuk sekolah baru harus diapresiasi, dihormati, dihargai, dan dimuliakan harkat martabatnya. Siswa datang ke sekolah untuk belajar, memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal menjadi insan-insan cendekia-unggul-berkarakter yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
MPLS, selain upaya pengejawantahan visi misi sekolah sebagai taman pendidikan, juga sebagai proses pembudayaan kemampuan, nilai dan sikap yang menyenangkan. MPLS adalah kesempatan awal yang ideal untuk membangun empati, kepedulian sosial, membangun kepercayaan diri siswa, mendorong semangat untuk tekun belajar, mengartikulasikan ekspektasi sekolah serta menanamkan, menumbuhkembangkan, dan memelihara kultur sekolah.
Mari kita bangun generasi peradaban Indonesia yang bermartabat. Kita bangun kebiasaan siswa baru yang beradab, yang menunjukkan karakter terdidik, dan hentikan praktik-praktik liar tak beradab yang selama ini menciderai keluhuran martabat siswa baru di jagat pendidikan kita.
Mari kita bangun kebiasaan baru di kalangan siswa untuk menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain serta menginternalisasi nilai-nilai baik yang universal, yang menjadi prasyarat hidup yang lebih beradab dan bermartabat. Dan itu hanya mungkin diwujudkan (di antaranya) melalui MPLS ramah anak yang edukatif, kreatif, inovatif, produktif, dan beradab. Semoga demikian!
*Penulis Alumnus USD Yogya
Guru di SMP/SMA St. F. Asisi
Pontianak – Kalimantan Barat
Editor : Hanif