Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjadi Guru Sejati

Hanif PP • Rabu, 16 Juli 2025 | 11:13 WIB
Ilustrasi Guru
Ilustrasi Guru

Oleh: Benyamin Tarmin*

Salah satu kekhasan manusia ialah hidup secara kolektif. Hidup secara kolektif mengandaikan adanya suatu relasi yang terjalin antar sesama manusia. Relasi antar manusia ini tampak dalam fenomena hidup sehari-hari di mana manusia selalu terhubung dengan manusia lain. Relasi antar manusia ini mau mengatakan bahwa manusia pada dirinya memiliki hasrat sosial. Artinya, manusia selalu memiliki dorongan untuk hidup bersama dengan yang lain. Tidak hanya itu, hasrat sosial juga mau mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membantu dan mengusahakan kebaikan bagi sesamanya demi tercipta kehidupan yang adil dan damai. Dalam hal ini, manusia memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan sesamanya. Dengan demikian, untuk sampai pada suatu jalinan relasi yang baik antar sesama manusia bergantung sepenuhnya pada manusia itu sendiri.

Manusia menjadi agen keharmonisan. Tanggung jawab manusia terhaadap keharmonisan hidup bersama mendorong manusia untuk membekali dirinya dengan pengetahuan, yakni sebuah pengetahuan tentang hakekat dari dirinya. Hal ini memungkinkan manusia memiliki kecakapan dalam menciptakan dan menata hidup yang harmonis. Pengetahuan tentang hakekat manusia dalam arti yang sesungguhnya ialah bahwa manusia menemukan dirinya yang sejati.

Manusia sejati berarti manusia yang di dalam dirinya memiliki cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Akan tetapi, kesejahteraan bersama selalu menjadi sebuah usaha yang terus menerus. Hal ini dikarenakan masih banyak praktik-praktik kemanusiaan yang menghilang dari nilai-nilai tersebut. Masih banyak peristiwa hidup seperti ketidakadilan, kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, kolusi, nepotisme, pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan lain-lain. Oleh karena itu, manusia secara terus menerus berusaha mencari, menemukan dan merefleksikan makna dan citra diri yang sesungguhnya.

Citra manusia adalah suatu cara manusia pada suatu tempat tertentu, dalam zaman dan kebudayaan tertentu serta sesuai dengan kebutuhan hidupnya, mengalami hakekat manusianya dan sesamanya, menilai dan mengungkapkannya dalam tingkah lakunya, dalam lembaga-lembaga kemasyarakatannya, dalam literatur-literatur dan keseniannya. Artinya, citra manusia selalu dipahami secara berbeda pula, tergantung pada sudut pandang masing-masing.

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi dalam memahami interaksi sosial antar manusia khususnya antara guru dan siswa dalam lingkungan sekolah. Refleksi kecil ini merujuk pada konsep Zhengming (Penegakan Nama) dari seorang filsuf kuno dari Cina yakni Konfusius. Konfusius adalah seorang yang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran untuk menciptakan sebuah tatanan yang harmonis. Suatu hidup yang mengedepankan kesejahteraan bersama. Bagi Konfusius, kesejahteraan bersama antara guru dan siswa terjadi akan tercipta ketika setiap individu menghidupi sebuah prinsip yakni Zhengming (Penegakan Nama).

Konsep Zhengming dimaksudkan agar segala sesuatu dalam kenyataan yang sebenarnya harus diselaraskan dan disepadankan dengan implikasi dari nama yang melekat. Artinya, guru mesti berlaku sebagaimana mestinya seorang guru. Artinya penegakan nama merupakan upaya untuk menyesuaikan identitas dengan struktur dari realitas. Dengan kata lain, identitas sebagai (guru) membentuk cara dan perilaku hidup setiap individu. Oleh karena itu, realisasi yang sesungguhnya dari penegakan nama (rectification of names) terjadi sebagai penegakkan perilaku (rectification of behaviour).

Pada titik ini, kekacauan akan timbul bilamana setiap individu berlaku tidak sesuai dengan nama yang melekat dalam dirinya. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya menjadi guru yang sejati.

 

Pendidik yang Sejati

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik.

Pendidikan merupakan membagi pengetahuan, nilai-nilai, keutamaan-keutamaan yang diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.

Guru merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Guru menjadi salah satu komponen penting dalam proses belajar belajar-mengajar. Guru mengambil bagian penting dalam usaha membentuk sumber daya manusia (SDM) atau pembagunan manusia. Artinya, guru menjadi salah satu tolak ukur pembentukan manusia. Sehingga orang seringkali mengatakan bahwa guru memang bukan orang hebat tetapi semua orang hebat berkat guru yang mengajar. Secara sederhana, guru merupakan orang yang memiliki tugas untuk mengajar, membimbing, membentuk, dan memberikan ilmu serta mengevaluasi kepada orang yang dididik. Singkat kata, guru adalah tokoh penting dalam terselenggaranya sebuah pendidikan. Artinya, tanpa kehadiran seorang guru pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian, keberadaan seorang guru tidak dapat dinaifkan sama sekali dari dunia pendidikan.

Menurut Konfusius pendidikan memainkan peranan penting bagi manusia. Hal ini disebabkan karena pendidikan dapat mengubah serta menghapus kebodohan yang terdapat dalam masyarakat. Pendidikan adalah sebuah jalan untuk mencapai kemakmuran. Maka tak heran bila melalui jalur pendidikan Konfusius berusaha mempengaruhi kaum muda diharapkan akan menjadi penguasa. Artinya, kekuasaan harus dibangun dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Hal ini akan mencapai perwujudannya apabila kekuasaan dipegang oleh orang yang cakap dan pandai.

Konfusius sangat menekankan perlunya diselenggarakan pendidikan. Mengapa? karena warga negara yang berpengetahuan atau terdidik merupakan landasan yang sangat penting bagi suatu negara. Di sini Konfusius melihat kekuatan suatu negara terletak pada pengetahuan yang dimiliki. Artinya, dengan pengetahuan yang dimiliki maka manusia mampu menemukan dan menentukan yang terbaik bagi negaranya.

Pendidikan dalam paham konfusianisme tidak hanya berarti mengajar dalam pengertian sempit, melainkan segala hal yang dapat melatih karakter dan tingkah laku individu atau meningkatkan pengetahuan dan keahlian seseorang adalah juga bentuk dari pendidikan. Dengan demikian pendidikan juga terdapat dalam disiplin keluarga, berburu, perkumpulan sosial dan dialog pribadi.

Adapun berbagai metode belajar yang diusung oleh Konfusius, antara lain metode dialog, tanya jawab, pemecahan masalah, dan diskusi kelompok. Nilai-nilai moral selalu disampaikan kepada murid-muridnya secara integratif dengan memadukan antara belajar, berpikir, dan praktik. Konfusius mempraktikkan sikap dan tingkah laku seorang teladan. Artinya, keteladanan dari seorang guru merupakan unsur penting yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan yang efektif. Guru dalam pandangan Konfusius adalah seorang yang berperangai lemah lembut namun teguh hati, memerintah tetapi tidak secara kasar, dan disegani tetapi ramah.

Sebaliknya, Konfusius menekankan bahwa murid harus menghormati gurunya. Para murid mesti mencintai gurunya seperti halnya mencintai bapaknya. Namun demikian, sikap hormat seorang murid tidak menghilangkan sikap kritis terhadap guru. Konfusius juga menekankan pentingnya pertemanan di antara sesama murid, mengembangkan hubungan yang baik, dan mengembangkan sikap kritis dan harmonis. Selain itu, Konfusius juga menganjurkan sikap jujur dalam mencapai segala yang diinginkan. Singkat kata, pemeliharaan nilai-nilai moral harus senantiasa diintegrasikan dalam pendidikan, dan hal ini dipandang sebgai cara untuk mengembangkan karakter seseorang.

Namun, konsep pendidikan yang demikian menjadi sebuah harapan terus-menerus untuk diwujudkan saat ini. Hal ini disebabkan karena acapkali kita menemukan tindakan atau perilaku kaum terdidik yang tidak mencerminkan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan seorang terdidik. Misalnya, tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru terhadap siswa yang beberapa kali terjadi di lingkungan sekolah. Dalam hal ini perilaku kaum terdidik kadangkala menampilkan hal-hal yang yang merugikan orang lain. Perilaku yang merugikan, merusak, menyakitkan dan sebagainya. Dengan kata lain, perilaku kaum pendidik tidak mencerminkan indentitas yang melekat. Guru yang seharusnya menjaga, melindungi, mendidik dan mengajari anak muridnya dengan ilmu pengetahuan untuk membentuk manusia yang berkualitas tetapi malah melakukan yang buruk. Singkat kata, guru tidak lagi menjadi sosok yang berfungi untuk membimbing, membentuk dan mencerahkan masa depan anak didik.

Di tengah maraknya tindakan kurang baik yang dilakukan oleh para guru atau kaum terdidik, konsep Zhengming yang diusung oleh Konfusius patut perhitungkan. Guru atau kaum terdidik seringkali lupa atau bahkan tidak menyadari sungguh-sungguh akan tugas dan identitasnya. Kehilangan identitas ini membuatnya kehilangan orientasi. Sehingga perilaku atau tindakannya kadangkala tidak sesuai.

Dengan demikian, Konfusius mengajak segenap guru dan kaum terdidik dewasa ini untuk sungguh-sungguh menegakan identitasnya. Artinya, Konfusius menginginkan bahwa identitas itu menjadi arah dasar setiap perilaku dan tindakan. Singkat kata, apabila seorang memiliki identitas sebagai guru atau kaum terdidik maka hendaknya perilaku juga mencerminkan seorang guru atau kaum terdidik. Guru merupakan sosok yang memiliki peran untuk membimbing, mendidik, mengajar dan menuntun anak didik untuk menjadi manusia yang berkualitas secara akademik maupun perilaku.

Konsep Zhengming dimaksudkan agar segala sesuatu dalam kenyataan yang sebenarnya harus disesuaikan dengan implikasi dari nama yang melekat. Artinya penegakan nama-nama merupakan upaya untuk menyesuaikan identitas dengan struktur dari realitas. Kesesuaian antara identias dan tindakan akan melahirkan tatanan yang baik dan harmonis. Dengan demikian, apabila guru atau kaum terdidik berlaku sebagaimana mestinya seorang guru atau kaum terdidik, niscaya ia adalah sungguh-sungguh seorang guru dan kaum terdidik. Sebaliknya, jika perilaku seorang guru atau kaum terdidik tidak mampu berlaku sebagaimana mestinya seorang guru dan kaum terdidik, maka ia bukanlah seorang guru dan bukan pula golongan orang terdidik.

Bapak pendidikan Ki hajar Dewantara menegaskan bahwa seorang guru adalah seseorang yang menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan bukan hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang memerdekakan anak didik dan membebaskan mereka dari belenggu ketidakberdayaan serta membimbing mereka mencapai potensi terbaik mereka.**

 

*Penulis adalah guru SMP Suster Pontianak.

Editor : Hanif
#membantu sesama #hasrat #relasi #kolektif #manusia #hidup damai #sosial #gutu