Oleh: Kristoforus Bagas Romualdi, M.Pd*
Sejak dicetuskan oleh Kemendikdasmen, konsep pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam menjadi primadona dan dianjurkan menjadi pendekatan utama yang diterapkan dalam pembelajaran di persekolahan. Pendekatan ini memang menekankan pada pemahaman konseptual, kemampuan berpikir kritis, dan aplikasi pengetahuan dalam konteks yang beragam. Penekanan tersebut pun sangat relevan dengan semangat pendidikan abad-21 yang menuntut adanya keterampilan lebih yang dimiliki siswa selain sekedar mengingat informasi. Sebaliknya, surface learning atau pembelajaran permukaan yang berfokus pada memorisasi fakta dipandang sebagai metode yang usang dan tidak efektif. Sehingga, pendekatan surface learning harus ditinggalkan karena dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.
Meskipun ada anggapan bahwa surface learning tidak lagi ideal dengan kondisi kekinian, tetapi cukup menarik untuk melihat apakah pendekatan tersebut benar sepenuhnya merupakan antitesa dari deep learning? Apakah dalam kerangka menerapkan deep learning lantas kita harus meninggalkan surface learning sama sekali? Jawaban atas dua pertanyaan tersebut, akan memberikan gambaran penting tentang bagaimana seharusnya pendidikan modern membangun keseimbangan antara penguasaan pengetahuan dasar dan pemahaman mendalam yang bermakna.
Surface learning memang sering dikritik karena hanya menekankan hafalan dan pemahaman dangkal. Meski demikian, metode ini sesungguhnya tetap memiliki kontribusi penting dalam mempermudah proses akuisisi informasi dasar. Pengetahuan faktual, istilah, dan konsep awal hanya bisa diperoleh melalui pengenalan di tingkat permukaan. Dengan modal itu, siswa dapat melangkah lebih jauh untuk menghubungkan informasi yang diperoleh dengan pemahaman yang lebih luas.
Dengan kata lain, surface learning sejatinya adalah fondasi krusial yang menopang struktur pengetahuan yang lebih kompleks. Anggap saja pengetahuan sebagai sebuah bangunan, maka fakta, definisi, dan formula adalah batu bata dan semennya. Tanpa penguasaan materi-materi dasar ini, seorang pelajar tidak memiliki "bahan" untuk dianalisis, disintesis, atau dievaluasi. Upaya untuk langsung melompat ke pemikiran tingkat tinggi tanpa menguasai dasarnya sama seperti mencoba merancang arsitektur sebuah gedung tanpa memahami properti material bangunannya.
Di satu sisi, memang jika mengandalkan pembelajaran permukaan semata tanpa transisi ke pemahaman yang lebih dalam adalah sebuah jebakan. Pengetahuan yang hanya dihafal cenderung rapuh, terkotak-kotak, dan mudah dilupakan setelah ujian selesai. Model pembelajaran seperti ini gagal melatih kemampuan problem-solving dan kreativitas yang esensial di abad ke-21. Oleh karena itu, tujuan akhir pendidikan harus melampaui sekadar pengumpulan informasi dan bergerak menuju pembentukan pemahaman yang utuh.
Sehingga, dapat dikatakan sinergi sejati terjadi justru ketika pengetahuan faktual yang diperoleh melalui surface learning menjadi bahan baku untuk proses kognitif tingkat tinggi. Seorang mahasiswa kedokteran harus terlebih dahulu menghafal nama-nama anatomi sebelum ia dapat mendiagnosis penyakit berdasarkan hubungan antar organ. Demikian pula, seorang sejarawan perlu mengingat tanggal dan tokoh penting untuk dapat menganalisis sebab-akibat dari suatu peristiwa sejarah. Artinya, keduanya bukanlah pendekatan yang saling bersaing, melainkan dua tahap dalam satu proses pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dirancang secara sadar untuk menjembatani kedua pendekatan ini. Fase awal pembelajaran bisa berfokus pada penguasaan konsep kunci melalui metode seperti kuis singkat, kartu pengingat, atau latihan repetitif. Setelah fondasi terbentuk, aktivitas harus beralih ke studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan debat yang menuntut siswa untuk menerapkan, menghubungkan, dan mengevaluasi informasi yang mereka miliki. Pendekatan yang terintegral ini memastikan siswa tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi juga pembangun pengetahuan yang aktif.
Pada akhirnya, perdebatan ini seharusnya tidak lagi tentang memilih antara deep learning dan surface learning. Kita harus melihatnya sebagai sebuah proses berkesinambungan di mana penguasaan informasi dasar adalah gerbang menuju pemahaman yang mendalam dan bermakna. Meninggalkan fondasi demi mengejar atap adalah strategi yang pasti gagal dalam membangun kompetensi intelektual. Individu pembelajar yang unggul adalah mereka yang memiliki gudang pengetahuan yang kaya sekaligus keterampilan untuk mengolahnya menjadi kebijaksanaan.**
*Penulis adalah Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura.
Editor : Hanif