Oleh: Dina Khairunnisa, S.E.I., M.H*
PONTIANAK bukan sekadar kota yang dilintasi garis khatulistiwa. Ia adalah ruang perjumpaan budaya, agama, dan etnis yang telah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Ketika perayaan Tahun Baru Imlek berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Kota Pontianak kembali dihadapkan pada momentum istimewa: dua perayaan besar yang berbeda keyakinan namun sama-sama sarat nilai spiritual, kebersamaan, dan filantropi.
Di tengah suasana lampion merah yang menghiasi sudut-sudut kota dan persiapan menyambut Tarawih pertama, Pontianak memperlihatkan wajahnya yang teduh. Tidak ada gesekan, tidak ada dominasi simbolik. Yang tampak justru saling menghormati. Di sinilah letak kekuatan sosial Pontianak. Toleransi yang hidup bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari.
Namun lebih dari sekadar harmoni sosial, perjumpaan Imlek dan Ramadan menyimpan potensi strategis: energi baru bagi penguatan ekosistem halal dan bisnis toleran di Kalimantan Barat.
Harmoni Sosial sebagai Modal Ekonomi
Secara sosiologis, stabilitas dan kepercayaan sosial adalah fondasi utama pertumbuhan ekonomi. Ketika masyarakat merasa aman dan dihargai, aktivitas ekonomi bergerak lebih dinamis. Pontianak, dengan komposisi masyarakat Melayu, Tionghoa, Dayak, Madura, dan berbagai etnis lainnya, memiliki modal sosial yang kuat dalam membangun ekonomi berbasis keberagaman.
Momentum Imlek menghadirkan peningkatan aktivitas konsumsi, yakni belanja kebutuhan perayaan, kuliner khas, pariwisata budaya, hingga sektor ritel. Sementara Ramadan membawa geliat pasar takjil, busana muslim, kebutuhan pokok, serta peningkatan transaksi zakat, infak, dan sedekah. Ketika dua momentum ini berdekatan, terjadi pertemuan pasar yang unik dan saling melengkapi.
Pelaku UMKM di Pontianak membaca peluang ini secara kreatif. Banyak pelaku usaha kuliner Tionghoa memastikan produknya memiliki opsi halal atau transparansi bahan baku agar dapat menjangkau konsumen Muslim. Sebaliknya, pelaku UMKM Muslim ikut serta dalam bazar lintas komunitas yang diadakan menjelang Imlek. Interaksi ini membentuk apa yang dapat disebut sebagai bisnis toleran, praktik ekonomi yang tidak eksklusif, tetapi adaptif dan inklusif.
Ramadan dan Penguatan Ekosistem Halal
Ramadan secara tradisional meningkatkan permintaan produk halal. Namun lebih dari sekadar lonjakan musiman, Ramadan dapat menjadi momentum akselerasi literasi halal. Pontianak sebagai salah satu kota penting di Kalimantan Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan industri halal, terutama di sektor makanan-minuman, fesyen muslim, dan jasa pariwisata.
Ekosistem halal bukan hanya soal label sertifikasi, tetapi mencakup rantai pasok, sistem keuangan syariah, hingga etika bisnis. Dalam konteks ini, Ramadan mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya kejujuran, kualitas, dan keberkahan transaksi.
Ketika nilai-nilai Ramadan seperti kejujuran (ṣidq), amanah, dan kepedulian sosial bertemu dengan etos kerja komunitas Tionghoa yang dikenal disiplin dan produktif, terbentuk sinergi nilai yang memperkuat daya saing ekonomi lokal. Inilah yang menjadikan Pontianak memiliki peluang besar untuk mengembangkan model ekonomi halal yang inklusif dan lintas budaya.
Imlek dan Spirit Filantropi
Imlek juga sarat nilai berbagi. Tradisi angpao bukan sekadar simbol materi, melainkan ekspresi harapan dan keberkahan. Dalam perspektif sosial-ekonomi, budaya berbagi ini sejalan dengan semangat zakat dan sedekah di bulan Ramadan.
Keduanya sama-sama mendorong distribusi kekayaan, memperkuat solidaritas sosial, dan membantu kelompok rentan. Jika dikelola dengan pendekatan kolaboratif, misalnya, melalui program sosial lintas komunitas atau kegiatan CSR bersama, maka potensi filantropi lokal dapat meningkat signifikan. Pontianak dapat menjadi contoh bagaimana nilai-nilai lintas tradisi ini diintegrasikan dalam kerangka pembangunan ekonomi berkeadilan.
Bisnis Toleran sebagai Model Masa Depan
Di tengah dinamika global yang sering diwarnai polarisasi identitas, Pontianak justru menawarkan model berbeda: ekonomi yang tumbuh dari toleransi. Bisnis toleran bukan berarti mengaburkan identitas, tetapi menghargai perbedaan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan usaha.
Konsep bisnis toleran tersebut mencakup transparansi produk dan layanan agar konsumen dari berbagai latar belakang merasa aman dan dihargai, adaptasi terhadap kebutuhan konsumen lintas komunitas tanpa menghilangkan identitas usaha, kolaborasi antar pelaku usaha tanpa sekat etnis maupun agama, serta penguatan UMKM yang berbasis pada etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial.
Ketika Imlek dan Ramadan dirayakan secara berdampingan, para pelaku usaha semakin menyadari bahwa pasar bukanlah milik satu kelompok tertentu, melainkan ruang bersama yang dibangun atas dasar saling percaya. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi penting dalam menciptakan ekonomi daerah yang stabil, inklusif, dan resilien di tengah dinamika keberagaman masyarakat Pontianak.
Tantangan dan Harapan
Tentu, peluang besar ini tidak akan terwujud secara otomatis tanpa strategi yang terarah dan kolaborasi yang kuat. Pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, akademisi, serta para pelaku usaha perlu bersinergi dalam meningkatkan literasi dan sertifikasi halal bagi UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain itu, kolaborasi lintas komunitas dalam berbagai event ekonomi kreatif perlu terus didorong guna memperkuat jejaring usaha yang inklusif. Pengembangan pariwisata budaya berbasis toleransi juga menjadi langkah strategis untuk menjadikan keberagaman sebagai daya tarik ekonomi.
Di sisi lain, perluasan akses pembiayaan syariah yang inklusif akan membantu pelaku usaha kecil dan menengah berkembang secara berkelanjutan. Dengan langkah-langkah konkret tersebut, momentum Imlek dan Ramadan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan bertransformasi menjadi katalis nyata bagi pertumbuhan dan penguatan ekonomi daerah.
Pontianak telah membuktikan bahwa keberagaman bukan hambatan pembangunan. Justru di sanalah letak energinya. Ketika lampion Imlek bersinar bersamaan dengan cahaya Ramadan, kota ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan ekonomi dapat berjalan seiring.
Ramadan dan Imlek bukan sekadar perayaan keagamaan. Keduanya adalah simbol nilai, berbagi, kerja keras, kejujuran, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Jika nilai-nilai itu dikelola dalam kerangka ekosistem halal dan bisnis toleran, maka Pontianak tidak hanya menjadi kota harmonis, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi inklusif di Kalimantan Barat. Momentum ini adalah pesan bahwa keberkahan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari harmoni.**
Penulis adalah dosen ASN pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah di IAIN Pontianak yang aktif mengkaji isu-isu ekonomi syariah, industri halal, serta pemberdayaan UMKM berbasis prinsip maqāṣid al-sharī‘ah; pendamping Proses Produk Halal (PPH) HCCM; anggota APIMSA (Asosiasi Pengusaha Mikro Nusantara); Alisa Khadijah ICMI PW Kalimantan Barat.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro