Oleh: Ir. Jonny Herbart Sitio, S.T.,IPU.,ASEAN Eng.*
LEBIH dari tiga dekade saya telah meninggalkan dojo. Saya mengira karate hanyalah bagian dari kenangan masa remaja. Namun, ketika kembali mengenakan karate-gi beberapa waktu lalu, saya menyadari bahwa yang kembali bukan hanya tubuh saya ke tempat latihan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang dahulu ditanamkan oleh para senpai dan senior saya. Karate tidak pernah benar-benar meninggalkan saya, tetapi sayalah yang meninggalkan dojo selama lebih dari tiga puluh tahun.
Sekitar tahun 1987, ketika itu saya masih duduk di bangku SMP. Olahraga yang saya tekuni saat itu adalah basket di sekolah dan skipping di halaman depan rumah. Pada suatu hari, teman sekelas saya, almarhum Ibrahim, mengajak saya mengikuti latihan Karate Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia (KKI) di halaman belakang Gedung Pertemuan, di depan Kantor Bappeda dan Kantor Kapolda Kalbar, Jalan Zainudin, Pontianak (sekarang Direktorat Reserse Narkoba). Saya berlatih karate hanya sekitar dua bulan, kemudian pindah ke Lembaga Karate-Do Indonesia (Lemkari) karena orang tua meminta agar saya berlatih di Lemkari supaya bisa bersama kakak saya yang lebih dahulu bergabung di sana.
Latihan di Lemkari berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Ranting Anoa, dengan pelatih almarhum Senpai Iskandar dan Senpai Narwis Zain. Saat itu latihan dilaksanakan dua kali seminggu pada sore hari sepulang sekolah. Karate melatih disiplin dan mental yang kuat. Apalagi ketika mengikuti gashuku dan ujian kenaikan sabuk atau turun kyu, kami harus melakukan tendangan mae geri di dalam air serta berlatih kuda-kuda di Pantai Pasir Panjang. Latihan tersebut terasa sangat berat. Kami juga pernah berdiri di atas aspal yang disinari terik matahari hingga telapak kaki terasa panas. Namun, semua latihan itu berhasil kami lewati tanpa cedera maupun luka, tentunya dengan mental baja dan tekad yang penuh semangat.
Saat itu saya belum memahami mengapa latihan terasa begitu berat. Baru setelah dewasa saya menyadari bahwa para pelatih sedang membentuk mental kami, bukan sekadar melatih teknik.
Di sela-sela latihan rutin karate, saya juga sering tergoda untuk tidak berlatih. Di tengah perjalanan menuju dojo, saya pernah berbelok ke bioskop karena ada film Catatan Si Boy dan Bloodsport yang sedang diputar di Abadi Theater.
Saat itu saya bahkan bisa menirukan salah satu adegan dalam film Bloodsport, yaitu gerakan membuka kedua kaki secara lurus ke arah kiri dan kanan di atas lantai yang dikenal dengan nama split samping (side split/straddle split). Film Bloodsport yang dibintangi Jean-Claude Van Damme memang menjadi inspirasi banyak remaja pada masa itu. Kami sering mencoba menirukan gerakan-gerakan yang ada di film tersebut, tentu sebatas kemampuan kami.
Setelah lulus dari SMP Negeri 11 Pontianak pada tahun 1989, saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 3 Pontianak yang kebetulan berada di sebelah sekolah saya. Di SMA Negeri 3 Pontianak terdapat kegiatan ekstrakurikuler karate dan saya mengikuti latihan di dua ranting, yaitu Ranting SMA 3 dan Ranting Anoa. Ranting SMA 3 dilatih oleh Senpai Firdaus Suli.
Pada masa SMA, banyak teman-teman saya di kelas satu yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karate. Mereka memulai dari sabuk putih, sementara saya saat itu sudah menyandang sabuk hijau. Pada masa itu belum ada media sosial maupun telepon genggam. Sepulang sekolah kami langsung pulang ke rumah, kemudian berangkat ke dojo. Latihan karate menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya sebagai remaja yang ingin belajar disiplin dan membangun mental.
Sekitar tahun 1989 atau 1990, saya mengikuti Kejuaraan Karate Piala Kapolda Kalbar pada nomor kumite perorangan mewakili Ranting SMA 3. Pengalaman itu sangat berharga bagi saya, meskipun hanya berhasil mencapai delapan besar. Saat itu saya baru mengetahui bahwa pertandingan kumite tidak didasarkan pada tingkatan sabuk. Semua tingkatan sabuk boleh mengikuti pertandingan. Perasaan saya campur aduk antara gugup, takut, dan bangga.
Sebelum bertanding, kami dibekali param kocok yang dioleskan pada kaki dan tangan. Pada masa itu belum ada body protector sama sekali sehingga pertandingan benar-benar menggunakan sistem full body contact kumite. Sayangnya, ketika itu saya tidak terpikir untuk mendokumentasikan momen tersebut dalam bentuk foto sehingga semua kenangan itu kini hanya tersimpan dalam ingatan.
Perjalanan latihan karate terus berlanjut hingga saya lulus SMA pada tahun 1992. Setelah itu saya berhenti berlatih karena sibuk kuliah di Teknik Elektro Universitas Tanjungpura. Meskipun saya pernah mendengar dan melihat adanya latihan gabungan di kampus pada masa itu, saya tidak pernah ikut karena rutinitas kuliah yang semakin padat. Hingga akhirnya, pada Januari 1998 saya lulus kuliah, kemudian merantau ke Jakarta dan berkarier di bidang proyek mekanikal elektrikal gedung.
Ketika memasuki dunia kerja sebagai engineer di bidang proyek mekanikal dan elektrikal, saya baru menyadari bahwa nilai-nilai karate ternyata tetap saya bawa. Disiplin, menghormati senior, bekerja keras, tidak mudah menyerah, serta mampu tetap tenang dalam tekanan menjadi bekal yang sangat berharga dalam menyelesaikan berbagai tantangan di proyek.
Sudah lebih dari tiga dekade saya libur dan vakum dari latihan karate. Suatu hari saya tiba-tiba teringat untuk kembali berlatih. Sempat terlintas pertanyaan, apakah saya masih mampu berlatih, sementara usia sudah di atas 50 tahun, tubuh sudah overweight, dan perut pun sudah membuncit.
Saya kemudian mencoba mencari informasi melalui Google dan menemukan Lemkari DKI Jakarta sebagai tempat latihan karate. Singkat cerita, saya bergabung di sebuah dojo yang dilatih langsung oleh Sensei Halid Ibnu Walid (DAN VI).
Saat pertama kali bertemu Sensei Halid Ibnu Walid, saya hanya menyampaikan satu kalimat pendek, "Sensei, saya kangen latihan karate lagi untuk mencari keringat dan mengecilkan perut saya yang buncit supaya sehat dan banyak yang sudah lupa gerakan karate karena 'libur lebih dari tiga dekade (lebih dari 30 tahun)'."
Saya kembali menjalani latihan karate pada malam hari sepulang kantor sebanyak dua kali dalam seminggu. Pesan istri saya sederhana, jangan memaksakan diri karena saya sudah lama tidak berlatih dan usia pun tidak lagi muda. Setiap sesi latihan selama sekitar satu setengah jam membuat baju karate saya basah kuyup oleh keringat. Saya kembali merasakan semangat berlatih yang pernah saya miliki saat remaja, meskipun kini tubuh tidak lagi sekuat dahulu.
Kini, setiap kali mengenakan baju karate dan berdiri memberi hormat di awal latihan, saya seolah kembali menjadi remaja yang penuh semangat seperti saat berada di dojo Pontianak. Bedanya, kini saya datang bukan untuk mengejar sabuk atau medali, melainkan untuk menjaga kesehatan, terus belajar teknik, dan mengenang nilai-nilai kehidupan yang dahulu diajarkan oleh para senpai saya.
Saya juga bersyukur dapat bertemu serta berdiskusi langsung dengan Shihan Saleh Al Habsyi (DAN VII), salah satu karateka terbaik Indonesia dari Lemkari yang pernah meraih medali emas pada Kejuaraan Asia Pasifik Apuko dengan mengalahkan karateka dari Jepang. Dari beliau saya mendapatkan banyak cerita tentang perjalanan karate Indonesia yang semakin memperkaya pemahaman saya mengenai dunia karate serta bagaimana berlatih karate pada usia di atas 50 tahun.
Saat menulis artikel ini, ingatan saya kembali kepada teman-teman senior, seangkatan, dan junior seperguruan Lemkari di Pontianak. Nama-nama seperti Alfian Suseno, Yuda, Afwan Isnani, Suko Sugeh, Putu Dewi, Ony, Ruli Erwansyah, Haryo Yudanto, serta Riduan (Popo), teman SMP saya yang aktif mengikuti Kejurnas Karate era 1989–1991, kembali terlintas dalam ingatan.
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. Siapa tahu suatu hari nanti kita dapat kembali bertemu dan berlatih bersama, meskipun mungkin sudah ada yang berbeda perguruan atau telah lama vakum. Setidaknya, kita dapat kembali mengenang masa-masa indah ketika berlatih bersama di dojo.
Saya berharap karate Indonesia terus menjadi tempat lahirnya generasi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan rasa hormat kepada sesama. Karena pada akhirnya, sabuk akan usang, piala dan medali akan berdebu, tetapi karakter yang dibentuk melalui karate akan tetap menyertai perjalanan hidup seseorang.
Sebagai penutup, saya ingin mengingat kembali Sumpah Karate yang hingga hari ini masih relevan sebagai pedoman hidup.
Sanggup memelihara kepribadian.
Sanggup patuh pada kejujuran.
Sanggup mempertinggi prestasi.
Sanggup menjaga sopan santun.
Sanggup menguasai diri. Osu.
*Penulis adalah praktisi mekanikal elektrikal dan plumbing (MEP) gedung-gedung komersial dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Saat ini bekerja dan berdomisili di Jakarta serta merupakan alumni Teknik Elektro Universitas Tanjungpura angkatan 1992.**
Editor : Miftahul Khair