Siapa tak kenal kue lapis dan nastar LeGita Cakes? Kudapan-kudapan tersebut adalah buah tangan wajib bagi para pelancong yang datang ke Pontianak. Bertahan selama 50 tahun dan diurus oleh tiga generasi, bisnis ini kini memproduksi lebih dari 100 varian kue dengan pasar nasional dan internasional. Di era digital, bisnis keluarga ini terus berkembang lewat pemasaran online.
Oleh Aristono Edi Kiswantoro
WAJAH Maseni Halim tampak segar saat Pontianak Post berkunjung ke rumahnya di Jalan Wonoyoso Pontianak, Sabtu (29/6) siang. Ia adalah pendiri LeGita Cakes, merek dan toko kue lapis yang melegenda. Di usianya yang hampir satu abad, Maseni masih kuat berjalan tanpa alat bantu. “Silakan duduk. Terima kasih ya sudah datang,” ujar perempuan 91 tahun itu dengan senyum ramahnya. Setelah berbasa-basi sebentar, ia lalu kembali ke kamar tidurnya.
Tak lama kemudian muncul sang cucu, Eldo Titan. Pria berkacamata ini baru dua tahun lalu kembali ke Indonesia dari Amerika Serikat. Ia adalah lulusan jurusan teknologi pangan dari University of California Davis (UC Davis), Los Angeles. Selepas lulus tahun 2019 dari UC Davis, Eldo tak langsung pulang kampung. Di kota yang sama, selama tiga tahun ia bekerja dulu sebagai karyawan biasa pada sebuah perusahaan roti.
Ilmu tersebut kemudian ia terapkan di bisnis keluarga ini. “Saya memang tertarik dengan segala hal yang berbau makanan. Karena dari kecil sudah ikut bantu papa dan mama. Makanya saya ambil jurusan food science and technology. Terus untuk memperdalam ilmu dan pengalaman, habis lulus saya juga bekerja di perusahaan makanan di US,” kata pria 28 tahun ini.
Kami lantas menuju pabrik LeGita Cake yang berada tepat di samping rumah keluarga ini. Pabrik yang baru dibangun 8 tahun lalu ini cukup luas. Bangunan dua lantainya berdiri di atas lahan seluas dua kali lapangan basket. Dari bangunan inilah 100-an varian produk LeGita diproduksi saban harinya. Produk-produk itu di antaranya; kue lapis, nastar, aneka kue kering, hingga dodol durian. “Untuk kue lapis saja, kami punya 42 varian rasa,” bangga Eldo.
Pabrik yang mempekerjakan 40-an karyawan itu menerapkan standar operasional yang ketat. Seluruh pekerja wajib mengenakan masker, celemek, hingga penutup kepala (nurse cap). Sementara hand sanitizer tersedia di sudut-sudut ruangannya. “Bukan cuma mengutamakan rasa, kami mau semua produk yang keluar dari pabrik ini higienis,” sebut Eldo.
Semua ruang di gedung itu optimal. Lantai 1 terdiri dari lobi, ruang adonan, dan gudang. Sementara di lantai 2 terdapat ruang oven yang mirip aula, ruang pengemasan, dan kantor. Pabrik ini juga menggunakan mesin-mesin canggih.
Kendati pabrik itu hanya dua lantai, ada lift terpasang di sana. Tujuannya untuk menjaga kualitas, agar adonan yang sudah jadi dari lantai 1 bisa cepat diolah di lantai 2. “Kami sama sekali tidak pakai bahan pengawet. Jadi efisiensi waktu sangat diperlukan untuk menjaga kualitas dan keawetan produk,” jelasnya.
Sebelumnya, pabrik LeGita berdampingan dengan toko utamanya di Jl A Yani, seberang Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Namun karena permintaan terus meningkat, pabrik mini tersebut over kapasitas. “Papa kemudian bikin pabrik di samping rumah. Biar dekat juga, lebih enak mengontrolnya,” ujar Eldo.
Modifikasi Resep Belanda
Sejarah LeGita Cakes sendiri bermula dari kegemaran Maseni Salim membuat kue. Saat remaja dulu, ia memiliki banyak teman orang Belanda. Bersama teman-temannya itu, Maseni sering memasak dan membuat kue. Tak heran berbagai resep makanan Eropa ia kuasai.
Namun hobi itu hanya sekadar hobi. Ia hanya menghidangkan makanan buatannya untuk lingkungan keluarga saja. Baru sekitar awal tahun 1970-an, ketika usianya menginjak 40 tahun, Maseni mulai terjun ke bisnis kue. Itu pun tak disengaja. Hari itu, ia mendapat pesanan kue lapis dari seorang teman yang mendengar enaknya buah karya Maseni. Dibantu sang kakak, mulailah ia membuat orderan perdananya tersebut.
Kue lapis buatan Maseni mendapat sambutan baik. Berkat kualitas dan keunikan rasa yang ditawarkannya, dari mulut ke mulut mulailah informasi soal kue lapis Maseni menyebar di masyarakat Pontianak. Kendati menguasai resep aslinya, Maseni tidak serta-merta meniru kue lapis Belanda. Ia memodifikasinya dengan memadukan resep itu dengan bahan-bahan lokal, supaya masuk di lidah masyarakat setempat.
Kue lapis adalah hidangan wajib di Kalimantan Barat bagi tamu saat hari raya Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru Imlek. Biasanya pada momen-momen tersebut, dapur rumah Maseni di Gang Rangong, Jl Tanjungpura, Pontianak selalu sibuk.
Pada tahun 1990-an, usaha rumahan tersebut kemudian diteruskan oleh sang anak, Djohan Halim (60 tahun). Mewarisi bakat dan resep dari sang ibu, di tangan Djohan yang dibantu istrinya Nursuan Ho (54), usaha ini kian berkembang. Mereka juga mengembangkan varian produk lainnya, seperti nastar dan aneka kue kering.
Tahun 1997, Djohan kemudian memberi merek produk buatannya “LeGita Cakes”. Nama ini diambil dari bahasa Italia yang artinya perjalanan. “Yang bikin nama dan logo itu teman adik saya, lulusan desain dari Amerika Serikat. Pada tahun itu, nama dan logo seperti ini sangat modern,” ujar ayah tiga anak ini.
Tiga tahun kemudian, toko pertama LeGita di Jl Pahlawan, Pontianak berdiri. Sejak toko ini berdiri, nama LeGita kian berkibar. Tak hanya dari masyarakat Pontianak dan para wisatawan yang datang, pemesan langsung dari luar Kalimantan Barat pun berdatangan. Toko ini pun tak lagi mampu melayani pembeli yang kian ramai.
Tahun 2008, Djohan membuat lagi outlet plus pabrik yang jauh lebih besar di kawasan bisnis Jl A Yani, tak jauh dari Kantor Gubernur Kalbar. Kemudian tahun 2016, ia memindahkan pabrik di Jl A Yani ke Jl Wonoyoso yang lebih luas.
Melawan “Kutukan”
Kini Djohan mempercayakan bisnis turun-temurun ini kepada ketiga anaknya, yaitu Elvin Titan (30), Eldo Titan (28), dan Elvira Titan (23). Elvin mengurusi pemasaran untuk seluruh Indonesia dan berkantor di Jakarta. Sedangkan Eldo mengurusi produksi dan penjualan di Pontianak. Adapun Elvira saat ini tengah berkuliah di Australia. Kendati demikian Djohan masih sering memantau aktivitas bisnis LeGita Cakes. Apalagi pabriknya persis di sebelah rumahnya.
Di tangan generasi ketiga, bisnis LeGita Cakes kian berkembang. Anak kedua, Eldo yang lulusan teknologi pangan dari negeri Paman Sam misalnya, benar-benar menerapkan ilmunya. “Kami pakai mesin-mesin modern untuk oven, pemanas, pengadon, pengering, dan lain-lain. Tapi di sisi lain kami juga tetap perlu tenaga manusia. Kita sekarang punya total 50-an karyawan di pabrik dan di toko,” jelas Eldo.
LeGita Cakes juga pada akhir tahun ini akan membuka kafe dan resto, tepat di samping outlet utamanya di Jl A Yani. “Dulu itu bekas pabrik kita. Sekarang kita renovasi total untuk dijadikan kafe dengan gaya kekinian. Mungkin akhir tahun ini atau awal tahun depan sudah mulai beroperasi. Doain ya,” kata pria 28 tahun ini.
Mengenai mitos bahwa perusahaan keluarga akan bangkrut pada generasi ketiga atau sering dikenal sebagai "kutukan generasi ketiga,” Eldo percaya hal itu tidak akan terjadi di LeGita Cakes. Menurutnya, tidak semua perusahaan keluarga mengalami hal itu. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan masalah pada generasi ketiga, seperti konflik keluarga, dan kurangnya kompetensi, buruknya manajerial, dan tak mampu beradaptasi dengan zaman.
Sementara di LeGita Cakes, kata dia, ia bersama abang serta adiknya sejak kecil sudah diperkenalkan dengan bisnis ini. Mereka juga mendapat pembagian tugas yang jelas dari sang ayah. Selain itu, mereka memiliki kompetensi yang saling melengkapi. “Abang saya, misalnya, dia adalah lulusan bisnis dan finance, sehingga dia ditempatkan pada bidang keuangan perusahaan. Sedangkan saya di bagian produksi,” ucap Eldo.
Adik-kakak ini juga rajin membaca tantangan di era saat ini. Menurut Eldo, di era digital saat ini, persaingan menjadi sangat terbuka. Tidak hanya perusahaan besar dan menengah, kini hampir setiap UMKM bisa memasarkan produk yang sejenis dengan LeGita Cakes lewat internet.
“Apalagi UMKM banyak mendapatkan insentif pajak, perizinan, dan lainnya. Jadi semakin besar kita, malah harus semakin menjaga kualitas, karena persaingan makin ketat. Tetapi kami juga berkolaborasi dan bermitra dengan UMKM untuk menjadi reseller kami,” pungkasnya.
Pengiriman jadi Kunci Pemasaran Digital
Siang itu, para karyawan Toko LeGita Cakes di Jalan A Yani, Pontianak, tampak sibuk. Sebagian melayani pengunjung, sementara sisanya mengemas kue lapis ke dalam dus dengan bantuan mesin pengemas otomatis. Produk-produk tersebut akan dikirim via JNE ke berbagai daerah di Indonesia. “Sejauh ini yang paling banyak mengorder online itu dari Jakarta,” ujar sang empunya toko, Eldo Titan (28 tahun) kepada koran ini.
Menurut Eldo, untuk memastikan produk LeGita tiba dalam kondisi terbaik, proses pengepakan produk dilakukan dengan sangat hati-hati. Setiap kue lapis atau produk lainnya dibungkus menggunakan bahan kemasan dengan standar tertentu. Setelah itu, kue ditempatkan dalam kotak khusus yang dirancang untuk menahan benturan dan goncangan selama pengiriman. Tim pengepakan LeGita juga menyediakan lapisan pelindung tambahan seperti bubble wrap atau styrofoam untuk mencegah kerusakan.
Kata Eldo, kemasan yang rapi dan aman ini tidak hanya melindungi kue lapis dari kerusakan, tetapi juga memberikan kesan profesional dan eksklusif kepada pelanggan. Proses pengepakan yang baik menjadi salah satu faktor dalam menjaga kepercayaan dan kepuasan pelanggan LeGita.
Di tengah maraknya perkembangan teknologi dan digitalisasi, LeGita Cakes tergolong berhasil mengintegrasikan bisnis mereka dengan platform digital. LeGita Cakes memanfaatkan berbagai platform media sosial dan marketplace untuk mempromosikan produknya. Tak heran bila saat ini komposisi penjualan produk LeGita Cakes seimbang antara pembeli yang datang langsung ke outlet dengan yang membeli secara daring.
“Lima puluh-lima puluh sekarang. Kebanyakan mereka (pembeli) pesan lewat marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan lain-lain. Sedangkan yang di area Pontianak pesan lewat GoJek atau langsung ke WhatsApp toko,” papar dia.
Namun, melayani orderan dari luar daerah bukan hal baru bagi LeGita Cakes. Jauh sebelum era digital tiba, LeGita Cakes sudah sibuk mengirim produk. Untuk urusan ini, LeGita Cakes selalu menggunakan jasa pengiriman JNE. Menurut Eldo, perusahaan kurir ini dapat diandalkan dari segi pelayanan, kecepatan, dan ketepatan waktu.
LeGita Cakes sendiri sudah bekerja sama dengan JNE sejak 24 tahun yang lalu. Ketika itu toko pertama mereka di Jl Pahlawan, Pontianak baru saja buka. Mulanya, Djohan Salim ayah Eldo, bingung menghadapi banyaknya orderan dari luar Pontianak. Beruntung, seorang pejabat di Jakarta yang merupakan konsumennya kemudian memberi saran untuk menggunakan jasa JNE.
Eldo menyebut perjalanan sukses LeGita dalam menghadapi era pemasaran digital tidak lepas dari peran JNE dalam membantu mereka tumbuh dan berkembang. Kerja sama ini memungkinkan LeGita untuk menjangkau pelanggan di seluruh penjuru Indonesia tanpa khawatir tentang kualitas pengiriman.
“Sejak tahun 2000 kita bekerja sama, JNE tidak pernah mengecewakan. Kami sangat terbantu karena pengiriman cepat untuk mengirimkan produk kami ke luar Pontianak. Berkat kerja sama dengan JNE, merek LeGita Cakes Pontianak dapat menjadi merek nasional,” ungkap Eldo.
Menurut dia, pengiriman adalah faktor kunci untuk usaha kue lapis dan sejenisnya. Apalagi produk LeGita Cakes sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. “Kami harus memastikan kue lapis mereka tiba dalam kondisi segar dan sempurna. Karena ini berhubungan langsung dengan kepercayaan dan kepuasan pelanggan,” jelas Eldo.
Selain itu, LeGita juga menghadapi tantangan dalam mengelola pesanan yang meningkat pesat di masa-masa tertentu seperti hari raya Idulfitri, Natal, dan Imlek. Dengan dukungan JNE, mereka dapat mengatur jadwal pengiriman dengan lebih efektif dan memastikan semua pesanan sampai ke konsumen tepat waktu. **
#JNE #ConnectingHappiness #JNE33TAHUN #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya
Editor : Aristono Edi Kiswantoro