PONTIANAK POST - Cuaca panas disertai minimnya curah hujan mulai mengancam tanaman padi sejumlah petani di Kabupaten Sambas. Kondisi tersebut semakin dikhawatirkan karena sebagian wilayah masih menghadapi kendala sistem irigasi, sehingga pasokan air banyak bergantung pada hujan.
Heri, petani padi di Desa Serunai, Kecamatan Salatiga, mengatakan saat ini dirinya bersama petani lain sedang memasuki musim tanam. Pada fase tersebut, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi.
“Sekarang lagi musim tanam,” kata Heri saat dihubungi wartawan, Selasa (14/7).
Baca Juga: Dinkes Sambas Ingatkan Risiko Dehidrasi dan Heatstroke Saat Cuaca Panas
Menurut Heri, kondisi cuaca panas yang terjadi belakangan ini tanpa diiringi hujan cukup mengkhawatirkan bagi petani. Ia menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman padi.
“Jelas ada pengaruhnya, kalau cuaca panas dan kering seperti yang terjadi sekarang,” katanya.
Ia menjelaskan, kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman padi. Selain itu, kondisi cuaca kering juga berpotensi meningkatkan serangan hama.
“Yang jelas adalah pertumbuhan padi terhambat karena kekurangan air. Kemudian serangan hama akan meningkat jika kondisi cuaca seperti sekarang ini,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Perkuat Mitigasi El Nino untuk Cegah Karhutla dan Gagal Panen
Heri mengaku khawatir apabila kondisi cuaca panas dan kering terus berlangsung. Menurutnya, dampaknya dapat dirasakan hingga masa panen, bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen.
“Kalau cuaca panas dan kering ini terus berlanjut, akan mengancam ke hasil akhir, bahkan potensi kegagalan panen akan dihadapi, bahkan bisa gagal panen besar,” katanya.
Ia berharap kondisi tersebut tidak kembali terulang seperti musim tanam sebelumnya. Saat itu, sejumlah petani mengalami penurunan hasil panen cukup signifikan.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar dan Disporapar Bersinergi Promosikan Tenun Cual Sambas ke Tingkat Nasional
“Jangan sampai gagal panen yang dialami kawan-kawan petani yang lain di musim tanam sebelumnya. Satu borong hanya mendapatkan 40 kilogram gabah,” katanya.
Terkait ketersediaan irigasi, Heri menyebutkan fasilitas pengairan sudah tersedia, namun belum seluruh petani dapat memanfaatkannya. Akibatnya, sebagian sawah masih sangat bergantung pada air hujan.
“Kalau di tempat kami, untuk menaikkan air dari sungai sangat sulit, diperlukan mesin Robin agar air bisa naik dan dialirkan ke sawah-sawah,” katanya.
Menurutnya, kendala utama yang dihadapi petani di wilayahnya adalah masalah pengairan. Selain bibit, pupuk, dan perawatan tanaman, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menentukan hasil produksi padi.
Baca Juga: Warga Mulai Kekurangan Air Bersih, 357 Hotspot Sasar 12 Kabupaten di Kalbar
Karena itu, Heri berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana pengairan, terutama bantuan mesin pompa air beserta perlengkapannya.
Selain bantuan pompa air, ia juga berharap adanya program pengerukan sungai di sekitar kawasan persawahan. Menurutnya, banyak saluran air yang mulai tertutup lumpur dan tanaman liar sehingga menghambat aliran air ke sawah.(fah)
Editor : Hanif