"Ada laporan masuk di beberapa desa di Kecamatan Kayan Hilir. Kalau di ibu kota Sintang tidak ada. Masih normal meski naik sedikit airnya," ujar Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang Bernard Saragih menjelaskan kondisi banjir dan kenaikan debit air di beberapa wilayah Kabupaten Sintang.
Sejauh ini, baru masuk 3 laporan terkait desa yang terendam banjir kepada mereka. Seperti di Desa Sungai Buaya, Desa Neran Baya, dan Desa Pakak yang semuanya berada di Kecamatan Kayan Hilir.
Di Desa Sungai Buaya, Kecamatan Kayan Hilir, sebanyak 85 persen pemukiman warga, menurutnya, terdampak banjir. "Sebagian besar warga di sana terkena banjir. Juga fasilitas umum seperti Kantor BPD, Puskesdes, Posyandu, PAUD, dan Balai Dusun terendam banjir," terang Bernard.
Sementara di Desa Neran Baya juga terdampak banjir yang menurut dia, terdampak sekitar 70 persen. Serupa dengan Desa Sungai Buaya, di Desa Neran Baya, diungkapkan dia bahwa banjir juga menggenangi fasilitas rumah ibadah. "Gereja ada dua (yang tergenang banjir)," katanya.
Terkait banjir yang cukup tinggi di Kabupaten Kapuas Hulu yang juga berpotensi menjadi banjir kiriman di wilayah Sintang, Bernard meminta warga untuk tidak panik. Karena, menurut penjelasannya, wilayah yang tergenang masih berada di anak Sungai Kapuas.
"Sungai Kapuas belum. Jadi Sungai Kapuas yang dari Kapuas Hulu ke Sintang, nunggu turun dulu dari sungai kecilnya ke sungai besarnya baru terkirim ke Sintang," katanya. Namun ia tidak menampik akan adanya kenaikan debit air di Sungai Kapuas jika intensitas hujan masih tinggi.
Adapun yang terparah terjadi di Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir. Seperti yang dituturkan oleh seorang warganya, yaitu Thomas Edison. Air, menurut dia, meluap akibat Sungai Genik tak mampu menahan debit air akibat curah hujan yang tinggi. Diketahui mereka bahwa air mulai naik pada Rabu (14/7) pagi. Akibatnya, diungkapkan dia, terjadi banjir setinggi pinggang orang dewasa. Sejumlah ternak warga juga hanyut terbawa banjir.
"Lebih dari 200 rumah terendam banjir. Banyak ternak warga juga hanyut terbawa arus. Banjir sampai sepinggul orang dewasa," ujarnya. Hingga saat ini, mereka masih sibuk menyelamatkan harta bendanya dari banjir yang masuk ke rumah. Sebagian yang lain, menurut dia, mengungsi ke rumah sanak keluarga yang memiliki topografi yang lebih tinggi.
Selain itu, akibat intensitas hujan yang tinggi, diungkapkan dia, juga terjadi longsor di kaki Bukit Bang, yang berjarak 4 kilometer dari Desa Pakak. "Suara longsor terdengar dari pemukiman," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sintang, Sugiyanto mengatakan bahwa tim dari BPBD akan melihat dulu kondisi beberapa jam ke depan sebelum menerjunkan timnya. "Rencananya besok (Kamis) kita lihat. Kalau airnya masih naik, kita akan terjun ke daerah yang terkena banjir. Untuk membangun tenda pengungsian dan dapur umum," katanya.
Ia juga mengatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sintang untuk membantu kebutuhan logistik di wilayah yang terdampak banjir. "Masalah logistik bisa juga nanti dari Dinas Sosial," ujarnya.
Sugiyanto mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan segera mengungsikan diri ke tempat yang lebih aman jika situasi sudah tidak memungkinkan untuk menetap. "Cari tempat mengungsi yang lebih tinggi dan aman dari longsor. Yang berada di bantaran sungai juga harap berhati-hati menjaga keluarga dan harta bendanya," ucapnya.
Ia juga meminta pihak desa untuk segera melaporkan ke BPBD Kabupaten Sintang jika daerahnya terdampak banjir atau puting beliung. "Bagi desa yang terkena banjir, segera lapor ke BPBD. Karena sampai saat ini baru tiga desa yang melapor," pungkasnya. (ris) Editor : Super_Admin