
Oleh: Gabryanto*
PENDIDIKAN jasmani sering kali dipandang sebelah mata dan diletakkan di bawah bayang-bayang mata pelajaran akademik. Anggapan ini tecermin dari alokasi jam pelajaran yang minim, fasilitas yang senantiasa timpang, serta praktik mengajar yang kerap berhenti pada latihan fisik monoton atau sekadar permainan bebas. Padahal, pendidikan jasmani jauh melampaui peluh; ia adalah proses mendidik melalui aktivitas fisik untuk membentuk kesehatan, keterampilan, sikap, dan karakter.
Sejarah mencatat, tujuan pendidikan jasmani di Indonesia tidak pernah tunggal. Pada masa kolonial ia menjadi instrumen disiplin, di era Jepang bertransformasi sebagai alat mobilisasi, dan pascakemerdekaan dilebur ke dalam proyek pembangunan bangsa serta prestasi olahraga. Kini, arahnya bergeser menuju pembelajaran bermakna yang berpusat pada peserta didik. Perubahan ini menunjukkan bahwa kurikulum tidak pernah lahir di ruang hampa, melainkan selalu berkelindan dengan dinamika politik dan sosial zamannya (Kirk, 2010).
Bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) serta para calon guru, memahami lintasan sejarah ini sangat krusial agar kurikulum yang berlaku tidak dianggap sebagai titik akhir yang final. Terlebih, di tengah situasi global di mana sebagian besar remaja—termasuk di Indonesia—tergolong kurang aktif secara fisik (Guthold et al., 2020), relevansi pendidikan jasmani menjadi semakin mendesak.
Dari Alat Mobilisasi Menuju Pembelajaran Bermakna
Menilik sejarahnya, sistem pendidikan kolonial bersifat dualistik dan menempatkan pribumi dalam akses yang sangat terbatas. Kegiatan jasmani kala itu lebih menyerupai senam dan baris-berbaris demi menuntut keteraturan serta kepatuhan mutlak. Pola ini semakin mengeras pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), di mana sekolah disetir untuk kepentingan perang. Jasmani direduksi sekadar menjadi sarana pembentukan tubuh yang patuh lewat taiso, kerja bakti, dan latihan militer (Ricklefs, 2008).
Dua periode tersebut mewariskan kesamaan corak: menempatkan tubuh anak didik sebagai objek pengendalian, bukan subjek yang berkembang. Jejaknya masih dapat kita saksikan pada praktik pembelajaran hari ini yang masih kerap mengandalkan baris-berbaris, hitungan kaku, dan instruksi tunggal dari guru.
Memasuki era kemerdekaan hingga Orde Baru, orientasi bergeser. Di bawah kepemimpinan Sukarno, olahraga diangkat sebagai panggung kebanggaan nasional lewat ajang-ajang besar seperti Asian Games 1962. Sementara pada era Orde Baru, kurikulum yang terpusat mengikat Penjaskes pada pembinaan cabang olahraga prestasi. Akibatnya, siswa dinilai dari penguasaan teknik semata, membuat mereka yang kurang berbakat mudah tersingkir, padahal pendidikan jasmani semestinya merangkul semua peserta didik (Bailey, 2006; Hardman, 2008).
Pascareformasi, terjadi perluasan cakupan nama menjadi PJOK melalui serangkaian transisi kurikulum. Sayangnya, perubahan administratif ini belum otomatis merombak praktik kelas. Model ceramah, demonstrasi guru, dan pengulangan gerakan mekanis masih mendominasi, menciptakan jarak yang lebar antara dokumen kebijakan dan realitas di lapangan.
Kini, Kurikulum Merdeka membawa angin segar dengan capaian pembelajaran per fase, memberikan keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan strategi dengan kondisi kelas. Fokusnya tidak lagi sekadar mahir dalam satu cabang olahraga, melainkan membekali siswa untuk aktif sepanjang hidup (lifelong active) serta mengintegrasikan Profil Pelajar Pancasila (Ennis, 2017).



