
Oleh: Yanto Sandy Tjang*
ADA sebuah ironi yang kian hari kian tajam mengiris nurani kebangsaan kita: Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling religius secara statistik di muka bumi, namun di saat yang sama, ruang publik kita diwarnai oleh krisis integritas, pragmatisme politik yang brutal, dan korupsi yang seolah telah mendarah daging. Dalam berbagai survei global tentang religiusitas, masyarakat Indonesia secara konsisten menempati peringkat atas dalam hal keyakinan kepada Tuhan dan pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari. Tempat-tempat ibadah megah berdiri di setiap sudut kota dan desa, ritual keagamaan meriah dihelat setiap waktu, dan identitas keagamaan melekat kuat dalam administrasi maupun keseharian warga.
Namun, di balik fasad kesalehan formal yang begitu masif ini, tersimpan sebuah rongrongan moral yang mengkhawatirkan. Ketika kita mengarahkan pandangan ke panggung kekuasaan politik, gelanggang ekonomi, hingga lanskap sosial-digital, yang kerap tampak justru adalah keringnya keadaban, matinya empati, dan merajalelanya syahwat materialistis. Spiritualitas yang seharusnya menjadi mata air penyejuk, kompas moral, dan pengerem nurani justru kerap direduksi menjadi sekadar atribut ritualistik, komoditas politik identitas, atau bahkan tameng penutup perilaku amoral.
Di tengah gelombang disrupsi global, mulai dari krisis iklim, ketimpangan ekonomi yang melebar akibat kapitalisme tanpa batas, hingga polarisasi sosial yang dipicu oleh algoritma digital, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki sebuah warisan mahar gemilang yang sering kali terlupakan: modal dasar spiritualitas. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat membongkar pasang, merefleksikan, dan mengaktualisasikan kembali spiritualitas Nusantara ini agar tidak berhenti sebagai jargon kosong, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformatif yang membimbing bangsa keluar dari lorong gelap krisis multidimensional?
Ketika Agama Menjadi Ritual Tanpa Transformasi
Untuk memahami mengapa modal dasar spiritualitas kita tampak tumpul di ruang publik, kita harus terlebih dahulu berani melakukan otopsi kultural terhadap corak keagamaan yang berkembang di Indonesia kontemporer. Selama beberapa dekade terakhir, terjadi pergeseran orientasi spiritual yang cukup mengkhawatirkan: dari spiritualitas yang bersifat esoteris-transformatif (menekankan kedalaman batin, cinta kasih, keadilan sosial, dan integritas) menuju spiritualitas yang eksoteris-formalistik (menekankan simbol, atribut, kuantitas ritual, dan klaim kebenaran kelompok).
Gejala ini tampak jelas dalam bagaimana agama dan spiritualitas kerap diperlakukan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan ketimbang sebagai panggilan moral untuk membela kaum tertindas. Para politisi berlomba-lomba menampilkan simbol-simbol kesalehan artifisial menjelang pemilihan umum, namun ketika memegang kekuasaan, kebijakan yang mereka hasilkan justru kerap melanggengkan oligarki, merusak lingkungan, dan mengabaikan keadilan distributif. Di tingkat akar rumput, polarisasi berbasis sentimen keagamaan sering kali diprovokasi demi kepentingan elektoral sesaat, merobek tenun kebangsaan yang telah dirajut dengan keringat dan darah para pejuang kemerdekaan.
Ketika spiritualitas tercerabut dari akar etika sosialnya, ia berubah menjadi apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai religiusitas tanpa nurani. Seseorang bisa merasa sangat saleh karena rajin menjalankan ritual personal, tetapi di saat yang sama merasa tidak berdosa ketika melakukan praktik korupsi, menyebar fitnah di media sosial, atau menindas sesama manusia. Inilah anomali moral yang menggerogoti fondasi Republik dari dalam: bangsa yang sangat rajin menyebut nama Tuhan, namun kerap mengabaikan nilai-nilai ketuhanan yang paling esensial, yakni keadilan, kejujuran, dan kasih sayang universal.
Spiritualitas Nusantara sebagai Ketahanan Peradaban
Untuk menemukan kembali jalan pulang, kita perlu menengok jauh ke belakang, melampaui batas-batas sektarianisme modern. Jauh sebelum agama-agama formal berakar di bumi Nusantara, masyarakat kepulauan ini telah lama memiliki fondasi spiritualitas pribumi yang mengakar kuat pada harmoni kosmis, keseimbangan alam, dan gotong royong.
Spiritualitas Nusantara bukanlah sebuah dogma yang kaku, melainkan sebuah laku hidup (way of life) yang memandang manusia bukan sebagai penguasa alam, penakluk egois, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem semesta yang lebih luas. Konsep-konsep lokal seperti siri’ na pacce di Sulawesi, Tri Hita Karana di Bali, falsafah Manunggaling Kawula Gusti di Jawa, hingga semangat basamo mangko saiyo di Minangkabau, pada dasarnya adalah manifestasi dari modal dasar spiritualitas yang menempatkan etika, kehormatan, dan solidaritas komunal di atas kepentingan ego individual.



