Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mencintai Lingkungan untuk Keberlangsungan Kehidupan

H
Penulis: Hanif❯
Sholihin, S. Ag.,M. Pd. I
Sholihin, S. Ag.,M. Pd. I

Advertisement

Oleh: Sholihin, S. Ag.,M. Pd. I*

Dalam Al-Qur’an secara jelas sudah disebutkan sebagai berikut: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. 30: 41).  Secara spesifik ayat ini menyebutkan bahwa rusaknya alam dan lingkungan karena ulah tangan manusia.

Menurut hemat penulis, ada beberapa makna yang bisa dikaitkan dengan rusaknya alam karena perbuatan manusia. Pertama, rusaknya alam karena faktor human error. Faktor ini semata diakibatkan oleh kesalahan yang dilakukan manusia baik bagi mereka yang baru belajar maupun yang sudah profesional. Kesalahan dari sisi ini juga dikarenakan ketidakmampuan seseorang dalam me-manage lingkungannya. Terjadinya kesalahan memenej bisa dikarenakan tidak memiliki skill terkait apa yang menjadi bidang kerjaannya.

Advertisement

Dalam konteks ini, berlaku pernyataan sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: ”Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR. Bukhari). Hadis ini menekankan pentingnya menyerahkan suatu urusan kepada orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan untuk melaksanakannya dengan baik. Jika amanah (tanggung jawab) diserahkan kepada orang yang tidak kompeten, maka kehancuran atau kegagalan adalah konsekuensinya.

Makna kedua bahwa rusaknya alam dan lingkungan karena faktor alam itu sendiri. Faktor alam sebagai penyebab rusaknya alam adalah faktor diluar manusia itu sendiri tetapi bahwa ada manusia yang secara tidak langsung menyebabkan rusaknya alam juga tidak dipungkiri. Tanah longsor dan banjir bisa karena penebangan pohon tanpa batas, PETI atau Pertambangan Emas Tanpa Izin yang menyebabkan gersangnya lingkungan dari tumbuh-tumbuhan. Kerusakan karena ulah tangan manusia dan faktor alam itu sendiri  sangat memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan dan kenyamanan lingkungan dimana manusia dan makhluk lainnya berada.

Kementerian Agama di tahun 2025 telah menekankan  adanya lima point atau Panca Cinta yang menjadi esensi dari Kurikulum Berbasis Cinta untuk diterapkan. Panca Cinta dimaksud adalah adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, Cinta kepada Diri dan Sesama; Cinta kepada Ilmu Pengetahuan; Cinta kepada Lingkungan dan; Cinta kepada Bangsa serta Negeri. Penekanan pada kata ’cinta’ dihadapkan menjadi pewarna setiap cara berpikir dan gerak langkah dalam pelaksanaan kurikulumnya.

Advertisement

Salah satu dari Panca Cinta adalah cinta kepada lingkungan. Cinta kepada lingkungan atas dasar cinta kasih yang dipenuhi dengan kesadaran spriritual harus menjadi roh pendidikan termasuk dalam konteks  ekoteologi. Ekoteologi dimaksudkan sebagai kesadaran bahwa manusia bukan penguasa atas alam tapi bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.

Cinta alam yang didasari nilai-nilai spiritual akan mengantarkan seseorang pada kesatupaduan bahwa sesungguhnya alam ini sebagai wujud cinta kasih Allah SWT harus dipahami sebagai pertalian yang saling mengikat bahwa seorang yang berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai ilahiyah bisa diwujudkan dengan kemauan dan kemampuan untuk menjaga alam, melestarikan lingkungan, tidak merusak tanaman, mengembangkan pepohonan. Konsep ekoteologi mendasarkan pada siapapun bahwa pengelolaan alam dan lingkungan dengan baik dan benar memiliki pertalian spiritual hamba dengan Allah SWT.

Seseorang yang membuang sampah pada tempatnya sehingga lingkungan bersih adalah perintah agama karena agama menegaskan kebersihan sebagian dari iman. Seseorang yang menyemai benih untuk pertumbuhan dan keasrian lingkungan adalah perintah agama karena keindahan sejatinya adalah perintah agama, ”Allah itu Indah dan Menyukai Keindahan.”

Mencintai lingkungan dengan berperan aktif sesuai dengan profesi masing-masing akan memberikan dampak yang luar biasa jika dikelola dengan baik dan benar. Kata kunci terkait dengan tema ini adalah bahwa siapapun yang mencintai alam dan lingkungan maka sesungguhnya ia sedang berusaha meneruskan kehidupan dan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang mencintai alam yang kemudian diwujudkan dengan menjaga alam  maka sesungguhnya itu juga untuk keberlangsungan kehidupan.

Advertisement

Artikel Terkait

Ops Patuh Kapuas 2026, Polsek Mandor Amankan 7 Motor Knalpot Brong di Lingkungan Sekolah

Ops Patuh Kapuas 2026, Polsek Mandor Amankan 7 Motor Knalpot Brong di Lingkungan Sekolah

Polsek Mandor gelar Operasi Patuh Kapuas 2026 di lingkungan SMAN 1 Mandor, sita tujuh unit sepeda motor berknalpot brong demi efek jera.

Ria Norsan Ingatkan Pesan Al-Qur’an tentang Kerusakan Lingkungan dan Bahaya Karhutla di Kalbar

Ria Norsan Ingatkan Pesan Al-Qur’an tentang Kerusakan Lingkungan dan Bahaya Karhutla di Kalbar

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengingatkan pesan Al-Qur’an tentang kerusakan lingkungan dan mengajak warga menjaga alam.

Warga Kayong Utara Diajak Jaga Kamtibmas dan Peduli Lingkungan

Warga Kayong Utara Diajak Jaga Kamtibmas dan Peduli Lingkungan

Warga Kayong Utara diajak menjaga kamtibmas, memperkuat kepedulian lingkungan, dan bijak menyaring informasi di media sosial.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer