Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Krisis Ekologis: Krisis Kemanusiaan

H
Penulis: Hanif❯
ILUSTRASI PERKEBUNAN SAWIT. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)
ILUSTRASI PERKEBUNAN SAWIT. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)

Advertisement

Oleh: Irenius Selsus Rengat*

SITUASI dunia kita saat ini sangat memprihatinkan; kerusakan alam dan penderitaan yang dialami manusia terus berdatangan. Krisis ekologis menjadi perhatian utama dan telah menyebar hampir ke seluruh aspek hidup manusia, mulai dari ekonomi, sosial, dan politik hingga kesehatan dan pendidikan.

Secara khusus di Indonesia, hampir seluruh permasalahan tahun ini terjadi akibat krisis ekologis di berbagai daerah, mulai dari gempa di NTT, banjir yang meluluhlantakkan Padang, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia: Kalimantan, Sumatera, Papua, hingga Sulawesi. Sebuah ironi jika hanya melihat bencana alam sebagai hal yang biasa terjadi sehingga tidak menjadi prioritas untuk segera diselesaikan.

Advertisement

Di sisi lain, krisis ekologis tidak terjadi begitu saja tanpa diundang. Ia hadir akibat olahan tangan manusia: penebangan pohon secara masif, penambangan dengan intensitas tinggi, pembakaran hutan, pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik, dan pembukaan lahan secara luas (food estate). Alam hanya dilihat sebagai sumber hidup yang mengucurkan ekonomi besar. Namun, jika dilihat secara lebih kompleks, alam yang rusak bisa menghancurkan tata hidup manusia: kehilangan tempat tinggal dan sumber hidup, krisis udara dan air bersih, kemarau berkepanjangan, banjir secara luas, dan bencana kabut asap yang akhir-akhir ini masih melanda masyarakat kita.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa dunia saat ini, bahkan Indonesia sendiri, sedang menghadapi triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Rumah yang kita tinggali saat ini sedang mengalami situasi darurat, mengancam kehidupan flora dan fauna, menimbulkan asap pekat, merusak tanah, dan mengotori sungai.

Ketika terjadi krisis ekologis, secara langsung hal itu juga berdampak pada krisis kemanusiaan. Pertama, terjadinya perubahan iklim adalah krisis ekologis yang berdampak pada naiknya suhu rata-rata global akibat peningkatan gas rumah kaca, pembakaran bahan bakar fosil, serta yang diperparah oleh deforestasi secara masif. Akibatnya, tahun 2025 sendiri menjadi tahun terpanas kedua atau ketiga, dengan suhu sekitar 1,43℃ di atas rata-rata periode 1950–1900. Hal ini berdampak pada krisis kemanusiaan, yakni gelombang panas yang panjang, kekeringan, banjir, gagal panen pada daerah tertentu, hingga penyebaran penyakit.

Advertisement

Kedua, keanekaragaman hayati mencakup berbagai jenis tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Kerusakan habitat dan ekosistem menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Akibat kebakaran hutan yang terjadi akhir-akhir ini, banyak orang utan yang keluar dari hutan, kehilangan tempat tinggal, bahkan ada yang mati. Terjadi kerusakan ekosistem secara berlebihan yang menyiksa tumbuhan dan hewan dengan menghancurkan rumah (hutan) mereka secara kejam.

Ketiga, pencemaran lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan udara menjadi tidak sehat, asap mengganggu pernapasan, mengurangi jarak pandang, dan melumpuhkan kehidupan manusia. Akibat asap pekat, banyak anak-anak dan lansia terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta menanggung dampak langsung yang memprihatinkan bagi kesehatan masyarakat akibat tingginya kandungan partikulat PM 2.5.

Manusia sangat bergantung pada alam untuk keberlangsungan hidupnya, mulai dari air yang diminum, udara yang dihirup, hingga makanan yang menjadi sumber energi. Ketika alam dirusak, dieksploitasi secara berlebihan, hutan dibakar, dan gunung-gunungnya digunduli, secara tidak langsung manusia juga merusak dan membunuh diri beserta keturunannya secara perlahan.

Tidak ada istilah hutan membakar diri atau hewan menghanguskan tempat tinggalnya, karena hanya manusia yang mampu mengeksploitasi bumi secara luas tanpa memandang nilai ekologis dan nilai luhur yang ada di dalam alam. Inilah pandangan manusia saat ini yang melihat diri menjadi penguasa di hampir seluruh aspek kehidupan (antroposentrisme). Jika pandangan ini terus berlanjut, secara perlahan bumi kita akan hancur dan kita umat manusia akan kehilangan tempat tinggal untuk hidup.

Advertisement

Artikel Terkait

Mencintai Lingkungan untuk Keberlangsungan Kehidupan

Mencintai Lingkungan untuk Keberlangsungan Kehidupan

Ekoteologi dan Panca Cinta menjadi landasan spiritual untuk menumbuhkan kepedulian serta menjaga kelestarian lingkungan.

Ops Patuh Kapuas 2026, Polsek Mandor Amankan 7 Motor Knalpot Brong di Lingkungan Sekolah

Ops Patuh Kapuas 2026, Polsek Mandor Amankan 7 Motor Knalpot Brong di Lingkungan Sekolah

Polsek Mandor gelar Operasi Patuh Kapuas 2026 di lingkungan SMAN 1 Mandor, sita tujuh unit sepeda motor berknalpot brong demi efek jera.

Ria Norsan Ingatkan Pesan Al-Qur’an tentang Kerusakan Lingkungan dan Bahaya Karhutla di Kalbar

Ria Norsan Ingatkan Pesan Al-Qur’an tentang Kerusakan Lingkungan dan Bahaya Karhutla di Kalbar

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengingatkan pesan Al-Qur’an tentang kerusakan lingkungan dan mengajak warga menjaga alam.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer