Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Pancasila dengan Pendekatan Progresivisme

Miftahul Khair • Selasa, 20 Mei 2025 | 13:55 WIB
Ilustrasi siswa SD
Ilustrasi siswa SD

Oleh: Dian Zubaida*

Dunia pendidikan terus mengalami perkembangan sehingga menimbulkan tantangan berupa pelaksanaan pembelajaran yang harus relevan dengan kehidupan nyata, tetapi tetap berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Salah satu contohnya ialah pelaksanaan pendidikan inklusif yang menghadirkan sistem pembelajaran berlandaskan keadilan dan terbuka untuk semua orang. Pendidikan inklusif merupakan upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa setiap anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus akan memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan ilmu dan hak untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Namun, pada saat ini pelaksanaan pendidikan inklusif di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan sumber daya serta pola pikir terhadap pendidikan masih cenderung tradisional dan kurang fleksibel terhadap karakteristik siswa yang berbeda-beda.

Dalam konteks ini, terdapat satu landasan filosofis yang mendukung adanya pelaksanaan pendidikan inklusif, yaitu “Filsafat Pendidikan Progresivisme”.  Filsafat yang berakar dari pemikiran seorang filsuf dan psikolog bernama John Dewey ini meyakini bahwa pendidikan harus berorientasi pada pengalaman dan kebutuhan seseorang. Filsafat pendidikan progresivisme memiliki tiga prinsip yang relevan dengan pelaksanaan sistem pendidikan inklusif, yakni pembelajaran berpusat pada siswa, metode pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel, dan pendidikan berperan sebagai sarana yang menghargai keberagaman serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk berkembang.

Pelaksanaan pendidikan inklusif yang berlandaskan filsafat pendidikan progresivisme memerlukan adanya perubahan dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk kurikulum, metode pembelajaran, dan lingkungan belajar. Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan inklusif bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendekatan progresivisme memungkinkan pelaksanaan proses pembelajaran berkembang sesuai dengan pengalaman dan minat siswa. Sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar mereka masing-masing untuk membantu mereka agar dapat mengikuti pembelajaran secara maksimal. Oleh sebab itu, para guru diharapkan mampu untuk menyesuaikan materi pembelajaran dengan metode pembelajaran yang dipilih agar relevan bagi semua siswa, termasuk bagi siswa yang berkebutuhan khusus. Dalam pendidikan inklusif, hal ini sangat penting karena setiap siswa memerlukan pendekatan yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Progresivisme menekankan pembelajaran berbasis pengalaman belajar yang bermakna, dimana siswa akan belajar melalui metode eksplorasi, eksperimen dan interaksi sosial. Dalam pelaksanaan pendidikan inklusif, metode tersebut dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan diskusi kelompok, tugas proyek, dan kegiatan praktikum. Dengan demikian, siswa yang memiliki kebutuhan khusus dapat belajar melalui kegiatan eksperimen dan pengalaman langsung untuk memudahkan mereka memahami konsep materi secara lebih konkret. Penilaian berdasarkan pendekatan progresivisme ini bukan hanya difokuskan pada hasil akhir, tetapi penilaian lebih diutamakan pada proses dan perkembangan individu. Dengan kata lain, penilaian siswa tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Sehingga, instrumen penilaian yang digunakan akan lebih beragam dan dapat disesuaikan dengan pengetahuan, keterampilan sosial, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Pada pelaksanaan pendidikan inklusif, guru berperan sebagai fasilitator aktif yang mampu memahami potensi, kebutuhan dan karakteristik para siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Guru diberikan motivasi untuk terus mengasah kemampuan dan memperluas pengetahuan, serta mampu bersinergi dengan guru pendamping khusus guna meningkatkan efektivitas layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. Pendekatan progresivisme mengutamakan lingkungan belajar yang demokratis dan partisipatif.  Terciptanya lingkungan belajar dengan suasana yang ramah ini memberi ruang kepada siswa untuk berpendapat, berekspresi dan berkolaborasi dalam pembelajaran. Dengan demikian, para siswa, terutama siswa berkebutuhan khusus akan merasa diterima dan dihargai, serta bersemangat untuk berinteraksi dan berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran.

Selain itu, progresivisme juga mengedepankan adanya kemudahan bagi semua siswa untuk mengakses fasilitas, sumber belajar, dan layanan pendidikan yang telah disediakan. Oleh sebab itu, pendidikan inklusif diarahkan untuk menghapuskan semua hambatan fisik, sosial, maupun psikologis supaya siswa yang memiliki kebutuhan khusus dapat mengikuti proses pembelajaran dengan nyaman. Meskipun progresivisme memberikan landasan yang kuat pada pendidikan inklusif, tetapi pendekatan ini juga memiliki beberapa tantangan dalam penerapannya, yakni adanya keterbatasan sumber daya dan infrastruktur yang memadai, serta adanya kesulitan dalam menyesuaikan kurikulum dikarenakan masih banyak sistem pendidikan yang menggunakan kurikulum berbasis pada pendekatan tradisional yang kurang fleksibel.

Pendidikan inklusif yang berlandaskan pada filsafat pendidikan progresivisme dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih humanis dengan mengedepankan proses pembelajaran berbasis pengalaman, fleksibilitas kurikulum, dan penghargaan terhadap keberagaman individu, terutama siswa dengan kebutuhan khusus. Pendekatan ini dapat membantu siswa dalam mengatasi hambatan belajar yang mereka alami, sehingga akan terbentuknya pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi seluruh siswa. Hal ini sejalan dengan tujuan utama dari pelaksanaan pendidikan inklusif, yakni untuk memfasilitasi keberagaman siswa, termasuk siswa-siswa yang mempunyai hambatan fisik, intelektual, sosial, maupun emosional. Dengan demikian, siswa yang berkebutuhan khusus akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dengan lingkungan belajar yang mendukung. Meskipun masih terdapat berbagai tantangan dalam penerapannya, pendekatan progresivisme akan tetap menjadi landasan yang kuat pada pelaksanaan pendidikan inklusif yang berorientasi pada perkembangan siswa secara menyeluruh. Oleh karena itu, perlu untuk diadakannya kerja sama antara pemerintah, pendidik, dan masyarakat dalam proses pelaksanaannya agar dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan progresif. **

 

*Penulis adalah mahasiswa FKIP Universitas Tanjungpura.

Editor : Miftahul Khair
#opini #pendidikan inklusif